Pengamat: Inflasi Juli Diatas Dua Persen

NERACA

Jakarta – Pengamat ekonomi dari Universitas Padjajaran Ina Primiana memprediksi inflasi Juli 2013 akan lebih dari 2% yang didorongd ari berbagai pemicu. “Inflasi Juli akan di atas 2%, karena sudah terlalu banyak pemicunya. Selain kenaikan BBM, juga karena kita bulan puasa, menjelang lebaran, dan tahun ajaran baru anak sekolah,” kata Ina kepada Neraca, Kamis (18/7).

Pada Juni 2013, inflasi tercatat sebesar 1,03% dengan kontribusi harga bensin yang mempunyai andil paling besar. Kontribusi harga bensin terhadap inflasi Juli akan lebih besar dari kontribusinya terhadap bulan Juni, karena kenaikan harga BBM bersubsidi baru dilakukan pada akhir Juni.

Namun begitu, Ina mengatakan, meskipun kontribusi bensin akan membesar, tetapi kontribusi pangan terhadap inflasi Juli akan lebih besar lagi. Itulah yang menyebabkan inflasi Juli akan menembus angka 2%.

“Kontribusi pangan akan lebih besar daripada bensin untuk inflasi Juli ini. Yang jadi pemicu utamanya memang pangan, karena menjelang puasa dan lebaran. Tentang pangan ini, bukan hanya terkait masalah distribusi, tapi kesalahan prediksi pengaturan stok. Hitung-hitungannya antara kebutuhan dan stok yang ada itu tidak sesuai dengan yang ada di lapangan. Tidak match,” jelas Ina.

Pemerintah tidak memiliki manajemen stok, kata Ina. Sejauh ini pemerintah hanya melihat data dalam setahun, surplus atau defisit. Padahal gejolak antara kebutuhan dan produksi itu terjadi di setiap bulan. Ini yang membuat kacau, bahwa pemerintah tidak memiliki manajemen stok.

“Masalahnya selalu berulang. Harusnya bisa dipelajari kapan kebutuhan meningkat, kapan produksi menurun, jadi bisa diantisipasi, tidak selalu berulang seperti ini,” kata Ina.

Bank Indonesia mempunyai prediksi yang sama dengan Ina, yaitu inflasi Juli akan lebih dari 2%.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan inflasi bulan Juli akan sangat tinggi, bahkan akan berada di atas 2,3%. Oleh karena itu perlu di waspadai dalam beberapa waktu tersisa. BI memprediksi, permasalah inflasi pada Juli ini utamanya adalah volatile food yang terkait dengan upaya pemerintah dalam menyiapkan persediaan pangan.

“Kita harapkan nanti di Bulan September sudah kembali rendah, tetapi untuk Bulan Juli ini kita perkirakan memang cukup tinggi,” kata Agus.

Pihaknya menggarisbawahi pentingnya mengantisipasi dampak terusan dari kenaikan harga BBM bersubsidi yang berimbas pada beberapa sektor lainnya, terutama terkait inflasi bahan pangan. \\\"Jadi kami juga harus ancang-ancang jika nanti di akhir tahun terjadi lagi kenaikan inflasi,\\\" ungkap Agus.

Gubernur BI memproyeksikan inflasi bulanan Juli ini akan berada di kisaran 2,3%-2,5%. Dia menilai, potensi laju inflasi sebesar 2,38% pada Juli 2013 masih cukup realistis dan sesuai dengan inflasi tahun 2013 yang termaktub dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013, yaitu sebesar 7,2%.

Sementara Pemerintah sendiri memprediksi dampak kenaikan BBM bersubsidi terhadap inflasi bulan Juli adalah sebesar 0,7%. Untuk menjaga inflasi bulan Juli, pemerintah memastikan ketersediaan pasokan pangan. “Untuk inflasi akibat BBM saja sudah 0,7% untuk bulan tujuh (Juli), 0,3% sudah yang kemarin (Juni),” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa.

Lebih lanjut ia mengatakan agar inflasi pada bulan Juli ini tidak melebar jauh dari 1% maka pemerintah akan menjaga harga produk volatile food untuk stabil. Pasalnya pada bulan ini juga ada dampak kedua dari kebijakan BBM. “Kita akan jaga suplai barang dengan berbagai cara seperti impor,” tuturnya.

Hatta mengatakan, beberapa produk pangan pada minggu ke tiga sudah mengalami penurunan dibandingkan minggu ke-dua, namun masih ada beberapa produk yang masih tinggi meski kecenderungan turun. Khusus untuk daging pemerintah menargetkan harga untuk stabil di kisaran Rp75.000 – Rp 80.000 per kilogram. [iqbal]

Related posts