Transformasi Bank Jatim Jadi Regional Champion - Komitmen Mendorong Perekonomian Daerah

Ahmad Nabhani - NERACA

Jakarta– Industri perbankan Indonesia terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun seiring dengan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri serta tingkat konsumsi domestik yang juga dipicu masih positifnya daya beli masyarakat. Tak ayal saat ini persaingan industri perbankan semakin ketat, maka banyak strategi dan cara yang dilakoni untuk merebut pasar dengan berbagai ekspansi usaha atau inovasi produk. Tentunya ketatnya persaingan industri perbankan, menuntut perbankan nasional untuk memicu kinerja lebih baik lagi, peningkatan layanan serta peningkatan sumber daya manusianya.

Kesiapan inilah yang mutlak harus dimiliki, jika tidak ingin tergilas dalam persaingan dan terlebih menyambut persaingan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 nanti. Tuntutan kesiapan menyambut MEA juga menjadi perhatian bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) agar bisa memiliki daya saing tinggi. Kendatipun masih banyak pekerjaan rumah, namun Ketua Asosiasi Bank-Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Eko Budiwiyono mengatakan, tetap optimis menghadapi persaingan tersebut dan mampu menjadi tuan di negeri sendiri, “Kita sudah mempersiapkan sejak awal dengan adanya BPD Regional Champion. Kita melihatnya ada tiga hal yang kita persiapkan,”ujarnya. Tiga hal yang dimaksudkan, yakni sumber permodalan yang kuat, kualitas SDM yang mumpuni, dan ketersediaan IT (information technology) yang memadai. Ketiganya memiliki peranan penting bagi perbankan, termasuk BPD memainkan perananya agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Menurutnya, momentum MEA merupakan momentum yang perlu dicermati dengan baik. Sebab, akan banyak hal yang terjadi apalagi akan ada serbuan dari bank asing ke Indonesia. Meningkatkan permodalan inti (tier-1) hingga Rp1 triliun menjadi fokus utama BPD agar bisa bersaing. Modal inti memang menjadi indikator utama bagi sebuah bank daerah untuk dapat berkompetisi di tengah ketatnya persaingan bisnis antarbank daerah. Melalui kecukupan modal, maka BPD menjadi kuat dan mampu menopang bisnis secara ideal di daerahnya masing-masing. Langkah tersebut bisa di dapat melalui penambahan modal dari shareholder, melakukan initial public offering (IPO), memperkecil porsi divident pay out untuk shareholder dengan memperbesar laba ditahan, melakukan emisi obligasi subdebt, maupun melakukan merger atau akuisisi. Bagi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BPD Jatim), menjadi perusahaan public dengan cara menawarkan saham perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) diyakini adalah pilihan yang tepat. Bank Jatim melepas 2,98 miliar lembar saham pada harga Rp430 per saham. Dana hasil IPO sekitar 80% di antaranya untuk mendukung ekspansi kredit. Sementara sisanya untuk pengembangan jaringan dan peningkatan teknologi informasi perseroan. Prinsip GCG Gubernur Jawa Timur Soekarwo pernah bilang, pilihan BPD Jatim go public tidak hanya sekedar meningkatkan permodalan tetapi juga meningkatkan prinsip good corporate governance (GCG) yaitu, transaparansi, akuntabilitas dan profesionalitas, “Dengan menjadi perusahaan public, BPD tidak lagi diawasi oleh pemerintah daerah tetapi juga public yang menjadi pemegang saham,”tandasnya. Kata Direktur Utama BPD Jatim Hadi Sukrianto, tantangan kedepan bagi perseroan pasca go public adalah mengoptimalkan peran menjadi lokomotif perekonomian daerah dengan membidik penyaluran usaha kecil dan menengah (UMKM) dan tidak hanya menunjang kredit bagi pegawai negeri sipil (PNS), “Kita ingin Bank Jatimbisa jadi kebanggaan orang Jawa Timur. Apalagi Bank Jatim sudah punya modal yang bagus,”ungkapnya. Saat ini nasabah UMKM Bank Jatim sebesar 292.823 nasabah, naik dari 2010 yang sebanyak 288.014. Realisasi kredit UMKM 2011 juga meningkat menjadi Rp 13,5 triliun dari posisi tahun 2010 lalu yang sebesar Rp 11 triliun. Disebutkan, Bank Jatim merupakan salah satu kreditur sektor konsumsi yang cukup besar dengan pangsa pasar 14,73% dari pasar kredit sektor konsumsi di Provinsi Jawa Timur. Diakuinya, Bank Jatim memiliki captive market yang masih dapat digarap lebih dalam. Bahkan, dengan perkembangan menjadi BRC, iklim usaha di daerah Jawa Timur akan terus meningkat dan dapat terus mendorong Bank Jatim bersaing dengan bank lainnya. Menjadi perusahaan publik, tentunya dituntut pula akan pelayanan maksimal, mudah, fleksibal dan cepat dengan kebutuhan masyarakat. Kata Hadi, salah satu langkah kecil yang dilakukan perseroan dalam mengembangkan sms banking-nya dengan nilai investasi sekitar Rp5 miliar. Asal tahu saja, tahun ini Bank Jatim memang akan meluncurkan layanan sms banking, internet banking, intercity clearing (layanan yang diperuntukkan untuk nasabah giro untuk dapat mencairkan warkatnya di seluruh cabang Bank Jatim), dan Host to Host Multi Biller di Terminal Peti Kemas. Ke depan, host to host ini akan terus dikembangkan dengan menjalin kerjasama dengan universitas, rumah sakit dan kantor pajak. Tingkatkan Layanan Tidak hanya itu, perseroan juga mengklaim telah berhasil melakukan transformasi teknologi dimana jumlah kartu pegawai elektronik Bank Jatim meningkat tajam dari tahun 2007 berjumlah 153,542 meningkat tajam ditahun 2012 sebanyak 679,422. Disamping itu, lanjut Hadi, pihaknya juga menambah jumlah jaringan di Jatim dan daerah lain yang fleksibel di samping melakukan kerjasama pelayanan dengan bank lain di luar Propinsi Jatim” Ini semua butuh juga SDM yang tentu terus kami tingkatkan profesionalisme sehingga layanan kami tetap dipercaya oleh masyarakat,”tegasnya. Sebagai informasi, kuartal pertama tahun ini, Bank Jatim membukukan laba Rp 300,9 miliar. Keuntungan tersebut naik hanya 3,5% dibanding Rp 290,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.\"Laba ini dikontribusi dari pertumbuhan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK), pendapatan bunga bersih, dan fee based income,\" kata Hadi Sukriyanto. Kredit yang disalurkan meningkat 13,5% dari Rp 16,5 triliun menjadi Rp 18,8 triliun. Lalu pendapatan bunga bersihnya tumbuh 16,7% dari Rp 469,5 miliar ke posisi Rp 547,9 miliar. Selanjutnya, fee based income tercatat naik baik sekali yakni 53,3% dari Rp 72,5 miliar menjadi Rp 111,2 miliar. Kemudian, BPD terbesar ketiga ini membukukan kenaikan DPK hanya 5,1% dari Rp 24,3 triliun ke posisi Rp 25,6 triliun. Rinciannya adalah deposito tumbuh 7,9% dari Rp 6,2 triliun jadi Rp 6,7 triliun. Sedangkan, gironya menurun tipis 0,47% dari Rp 12,15 triliun jadi Rp 12,10 triliun*

Related posts