Pemerintah Didorong Kembangkan Shale Gas - Ketahanan Energi

NERACA

Jakarta – Di kala permintaan akan kebutuhan gas selalu meningkat, Pemerintah Indonesia diminta untuk mendorong pengembangan energi baru seperti shale gas. Pasalnya, potensi shale gas di Indonesia sangat besar dan dinilai akan mampu memenuhi kebutuhan pasokan gas yang selama ini selaku dikeluhkan oleh industri.

\"Kebutuhan gas di Indonesia besar, tentunya shale gas development kita support, ini suatu terobosan untuk mendapatkan cadangan besar,\" ujar Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA) Lukman Mahfoedz di Jakarta, Kamis (18/7).

Menurut Lukman, saat ini waktu cadangan minyak dan gas sudah turun, bahkan akan habis dalam waktu 11 tahun jika tidak ditemukan cadangan baru. Namun, cadangan tersebut bisa bertambah apabila ditemukan cadangan energi yang lebih potensial. \"Ya kira itu sangat penting untuk terobosan di bidang teknologi sangat penting, pasalnya menurunnya cadangan migas bisa kita konversi dengan penemuan baru,\" tegas dia.

Lukman menambahkan, apabila penemuan potensi energi baru seperti shale gas dikembangkan maka Indonesia bakal menjadi negara pengekspor gas. \"Bayangkan saja negara yang pengimpor LNG akan jadi pengekspor yang besar. Ini harus kita mulai, harus ada keberpihakan. Kita butuh kualifikasi teknologi yang baik,\" tukasnya.

Sebelumnya, pemerintah menerima hampir 70 proposal pengembangan shale gas dari para kontraktor. Namun, hanya lima proposal yang telah menyelesaikan studi bersama atau joint study.

Direktur Jenderal Migas Edy Hermantoro mengatakan PT Pertamina (Persero) termasuk satu dari lima investor yang telah menyelesaikan joint study dan segera akan menandatangani kontrak kerja sama (KKS). \"Dari 70 proposal yang diterima, lima proposal telah selesai melakukan joint study, empat proposal sedang melakukan joint study, 30 proposal sedang dalam proses, 21 proposal akan segera diproses dan 10 proposal ditolak karena aplikasinya kurang lengkap,\" ujar Edy.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan pihaknya memang sudah siap sejak Desember lalu untuk tanda tangan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) shale gas di Wilayah Kerja (WK) Sumatera Utara. \"Potensi shale gas di seluruh Indonesia diperkirakan 531 TCF. Investasi yg disiapkan pertamina akan disesuaikan dengan komitmen masa eksplorasi sesuai kesepakatan dengan pemerintah. Kita targetkan tiap satu tahun ada 1 WK baru di shale gas.\"

Investasi untuk pengembangan shale gas masuk kedalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2013 sebesar USD 3,1 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Potensi shale gas Indonesia diperkirakan mencapai 574 triliun cubic feet (tcf) lebih besar jika dibandingkan gas metana batu bara (coal bed methane/CBM) yang mencapai 453,3 TCF dan gas konvensional sebesar 153 TCF.

Edy Hermantoro mengatakan produksi shale gas ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Saat ini, industri mendominasi pemanfaatan gas domestik yaitu 42%, kelistrikan sebesar 21%, perdagangan 20%, pemakaian sendiri 14% dan kilang 3%.

Edy menegaskan shale gas Indonesia banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Papua. Pengembangan shale gas diatur dalam Peraturan Menteri ESDM nomor 5 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan Dan Penawaran Wilayah Kerja Minyak Dan Gas Bumi Non Konvensional.

Cemari Lingkungan

Pengembangan shale gas yang dilakukan PT Pertamina (Persero) merupakan ancaman serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). \"Hal yang paling serius adalah dampak terhadap kualitas air tanah,\" jelas Pengkampanye Tambang dan Energi Walhi Pius Ginting.

Dalam proses ekstraksinya digunakan proses yang dikenal dengan peretakan (hydraulic fracture atau fracking).Fracking dilakukan pada pemboran dalam umumnya 1,5 kilometer (km) hingga 6 km ke dalam bumi, secara vertikal atau horizontal, dilakukan beserta injeksi air, bahan butiran seperti pasir proppant dan bahan kimia-kimia termasuk bahan yang dapat memicu kanker seperti benzene dan formaldehyde.

Related posts