KKP Pacu Budidaya Udang di Jawa Tengah - Kembangkan Tambak Percontohan

NERACA

Kendal - Pemerintah akan memacu pengembangan budidaya udang di Jawa Tengah dengan meningkatkan produktivitas tambak-tambak di wilayah tersebut. Rencananya tahun ini akan ada beberapa lokasi tambak percontohan alias Demfarm (demonstration farm) yang dikembangkan.

“Mulai dari Brebes, Pemalang, Pekalongan kota dan kabupaten, Kendal, Demak, Jepara, dan Pati, Rembang. Masing-masing sebanyak 20 hektar,” kata Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Kementerian Kelautan dan Perikanan (BBPBAP KKP) Jawa Tengah I Made Sutha, di Kendal, Rabu (17/7).

Menurut Made, budidaya udang merupakan komoditas air payau paling utama di Indonesia. Di mana Jawa Tengah menjadi lokasi paling produktif. Secara kualitas hasilnya juga diakui menjadi juara di tingkat nasional. Khususnya di Rembang karena lingkungannya sangat baik untuk tambak. Meski begitu kelompok budidaya Sido Rukun di Purworejo lah yang menjadi juaranya.

“Semenjak tahun 2004 sampai saat ini budidaya udang kelembagaan yang paling eksis dan menjadi juara nasionalnya ya kelompok Sido Rukun. Kelompok itu kerap menjadi cluster percontohan dan tempat belajar bagi para pembudidaya,” ungkapnya.

Made menjelaskan komoditas yang berorientasi untuk pasar ekspor ini produktivitasnya bisa mencapai 14-20 ton per hektar dalam satu musim. Setiap tahun para pembudidaya itu sendiri bisa panen sebanyak tiga musim atau tepatnya sekitar 100-115 hari per musimnya dengan hasil udang berukuran 44-50 per ekornya. Bahkan pada beberapa tempat binaan di Rembang bisa mencapai size 44-45 dalam kurun waktu 90 hari saja.

Meski dengan memaksimalkan tambak yang sudah ada saja sudah luar biasa, Made mengaku ekspansi lahan juga terus berjalan. Baru-baru ini telah dilangsungkan ekspansi dengan luas yang luar biasa di wilayah Pekalongan kota. Ekspansi itu diambil dari lahan-lahan sawah yang sebelumnya kena dampak rob. Di sana petak-petak dibuat dalam ukuran 4.000 meter persegi dengan hasil baru mencapai 4-5 ton per hektarnya.

“Yang sebelumnya sawah produktif, setelah kena rob jadi tidak bisa dimanfaatkan oleh petani. Tapi sekarang berubah jadi tambak udang dengan hasil yang sangat memuaskan,” jelas Made.

Usaha yang digadang BBPBAP KKP sebagai industri air payau utama ini berpeluang memberi untung sekitar Rp 20.000 - Rp 25.000 per kilonya bagi para pembudidaya. Dengan biaya produksi sekitar RP 30.000 per satu petak seukuran 4.000 meter itu dianggap sangat menjanjikan untuk kelangsungan ekonomi penduduk lingkungan tambak. “Coba di kali 4-5 ton per 4.000 meter. Sudah hampir 90 jutaan per tiga bulan kan. Itu sudah bersih loh,” tegas Made.

“Sebagai langkah lanjut BBPBAP KKP tengah melangsungkan kerja kemitraan dengan swasta pada pola Denpam. Mekanismenya kelompok pembudidaya akan berperan sebagai pelaku, kemudian mitra berperan sebagai teknisi sekaligus pemberi bantuan dalam bentuk pendanaan dan perbaikan infrastruktur, dan terakhir para pendamping di mana tim ini terdiri dari Pemerintah dan mitra. Jadi nanti tidak hanya menerapkan sistem intiplasma saja,” jelas Made.

Adapun bentuk kerjasamanya akan meliputi pada kegiatan managemen budidaya dan kawasan di setiap tambak. Kewajiban swasta sebagai mitra adalah memberi akses untuk pasar dan keuangan. Khusus lembaga keuanganan hanya akan berkerjasama dengan lembaga yang berpengalaman. Dengan dasar anggapan lembaga tersebut merupakan pebisnis yang sudah biasa berhubungan dengan banyak lembaga.

“Kami dari balai akan mendampingi dengan mengembangkan teknologi produksinya. Mulai dari mengawali produksi benih sampai mengawali penerapan teknologi budidayanya,” tutup Made.

Related posts