Menanti Regenerasi Kader Posyandu

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Sejak 1986, bermula di Yogyakarta, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) lahir. Pengertian Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan (Cessnasari. 2005). Sedangkan definisi Posyandu menurut Kementerian Kesehatan RI adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait. Tujuan Posyandu a.l. menurunkan angka kematian bayi, angka kematian ibu (ibu hamil), melahirkan dan nifas.

Membudayakan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKBS) dan meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera, serta berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.

Jumlah Posyandu semakin berkembang dari tahun ke tahun. Itu tentu satu kabar yang menggembirakan. Namun, bagaimana dengan pertumbuhan kader Posyandu sebagai salah satu ujung tombak berjalannya program-program kesehatan? Faktanya di Indonesia regenerasi kader Posyandu untuk menggantikan kader berusia tua kadang mengalami kesulitan. Kurangnya motivasi masyarakat dan mungkin kepedulian generasi yang lebih muda untuk menjadi seorang kader jadi penyebabnya. Akhirnya memang dibutuhkan konsep baru tentang peran kader kesehatan di masyarakat. Berbagai studi tentang implementasi program yang melibatkan kader, menunjukkan bahwa peran mereka dalam menurunkan kematian dan kesakitan anak akibat penyakit malaria, pneumonia, kurang gizi, dan diare cukup signifikan dengan deteksi dini. Bahkan hingga memberikan pengobatan seperti antibiotik dan antimalaria.

Selain itu selama satu dekade terakhir, peran kader kesehatan dalam sistem pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu fokus diskusi di dunia internasional. Terutama tentang peran kader membantu memperpanjang pelayanan dari fasilitas kesehatan ke masyarakat di daerah terpencil. Di beberapa negara seperti Brazil, Pakistan, Ethophia, dan India telah menjadikan kader sebagai penghubung dalam meningkatkan cakupan pemberian pelayanan kesehatan masyarakat.

Tapi karena sifatnya yang sukarela, \"profesi\" sebagai kader akhirnya bukanlah hal yang menarik di tengah dunia yang semakin matrealistis ini. Memberi kebanggaan dan kehormatan demi mengangkat harkat si kader walaupun tanpa gaji perlu diupayakan.

Untuk meningkatkan peran kader dalam memperkuat sistem kesehatan, seperti yang dikemukakan dalam suatu hasil penelitian, keberadaan kader perlu diintegrasikan dengan sistem dan pelayanan kesehatan yang ada. Informasi kesehatan dan data, alat dan bahan medis, cara mendiagnosis, teknologi alat kesehatan, pendanaan dipasok untuk kader. Dengan terintegrasinya kader ke dalam sistem kesehatan paling tidak kita bisa tahu berapa jumlah kader, distribusinya dan potensi apa yang bisa digali. Pelatihan-pelatihan untuk para kader yang berfokus pada misalnya promosi kesehatan dan menyediakan perawatan dasar bisa jadi solusi.

Selanjutnya kader bisa diberdayakan sebagai agen perubahan juga bagi penyakit degeneratif dan kesehatan mental seperti halnya depresi, kencing manis, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular, yang cenderung lebih tinggi di perkotaan. Jika penanganan penyakit infeksi lebih berfokus di daerah terpencil dan pedesaan, bukan berarti kader tidak dapat berperan di daerah perkotaan, di mana fasilitas kesehatan lebih mudah terjangkau. Tentu saja dengan pelatihan terlebih dahulu. untuk mengasah pengetahuan dan keahliannya. Lebih memberi rasa aman kepada masyarakat bahwa paling tidak ada yang dekat yang bisa dirujuk saat kita membutuhkan.

Related posts