Industri Tekstil Nasional Ingin Geser Dominasi India

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin Panggah) Susanto mengatakan hingga saat ini hanya perusahaan Italia yang serius untuk membantu bagi perkembangan industri tekstil di Indonesia.

\"Ini untuk training, ada perusahaan Italia berminat untuk bantu kita. Saat ini mesin yang sudah ada dari Italia ada 24 unit, karena baru hanya Italia yang serius untuk masalah ini,\" ujar dia di Jakarta, Kamis (18/7).

Hal tersebut dibuktikan dengan pemberian 24 mesin tekstil yang rencananya digunakan untuk pelatihan guna meningkatkan produksi tekstil dalam negeri. Menurut Panggah, adanya bantuan ini bertujuan untuk memajukan industri tekstil dalam negeri karena selama ini industri tekstil dunia masih dipegang India. \"Nah ini nanti dari Indonesia yang bisa menggantikan, dengan adanya traning-traning ini,\" lanjutnya.

Pada awal Januari lalu, perusahaan asal Jepang, Marubeni, pernah berniat untuk berinvestasi pada industri tekstil di Indonesia, namun hingga kini, menurut Panggah belum menunjukan perkembangan yang menggembirakan. \"Tadi Marubeni belum berbicara dengan saya soal itu, jadi sementara baru Italia saja,\" tandasnya.

Sebelumnya Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ramon Bangun mengungkap prospek industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini masih dapat eksis. Namun, dengan catatan, Indonesia harus memosisikan diri pada segmen menengah ke atas.\"Negara seperti Vietnam dan Bangladesh telah lebih dahulu bermain di segmen low-end. Kalau barang yang biasa akan sulit bersaing,\" ujar Ramon.

Apalagi, menurut Ramon, pada tahun 2015 nanti akan memasuki ASEAN Economic Community (AEC). \"Kamboja, Laos, Vietnam dan Myanmar minta bea masuk TPT 7 %. Kita minta 5%. Jadi, nanti mungkin makin berat bersaing dengan Vietnam,\" ujar Ramon.

Karena itu, menurut Ramon, jika produk TPT nasional sama dengan produk negara Bangladesh maka akan sulit untuk bersaing. Apalagi, Bangladesh mendapat fasilitas kerjasama perdagangan tekstil ke Eropa dan Vietnam mendapat fasilitas ke Amerika Serikat.\"Sedangkan kita tidak dapat fasilitas ke mana-mana. Kalau kita tetap sama barangnya, tidak akan bisa melawan,\" ujarnya.

Restrukturisasi Mesin

Menurut dia, sebenarnya program restrukturisasi mesin TPT yang dijalankan pemerintah terbilang positif. \"Ini perlu dilanjutkan untuk lima tahun mendatang, khususnya dalam mempersiapkan AEC,\" katanya.

Ramon menyambut baik pemberlakuan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) untuk sektor tekstil. \"Makin cepat CEPA di sektor tekstil ini diberlakukan, semakin bagus. Karena kita akan masuk pasar mereka. Masalahnya, mereka mau apa tidak. Untuk tekstil, semua produk kita siap (kerjasama perdagangan) dengan Uni Eropa,\" ujar Ramon.

Kerja sama perdagangan itu menurut Ramon akan saling menguntungkan kedua pihak. Disatu sisi, dapat menjual produk TPT ke Eropa, dan disisi lain mereka dapat menjual mesin ke Indonesia. \"Sekarang kita sudah mulai menggunakan mesin-mesin buatan Eropa, dari Jerman, Italia dan Swiss. Jadi, tidak hanya terpaku pada mesin Cina. Cina sendiri juga pakai mesin Eropa untuk produk yang akan mereka ekspor,” ucapnya.

Kendati begitu, menurut Ramon, saat ini pihaknya masih terkendala sumber daya manusia yang dapat mengoperasikan mesin asal Eropa tersebut. \"Kalau pakai mesin Eropa dengan kapasitas tinggi, kita tidak punya operator yang handal, jadi itu akan percuma. Jadi sekarang kita ada kerja sama dengan Itema, salah satu pabrik mesin tekstil dan mesin tenun Italia. Kita kerjasama untuk pelatihan tenaga operatornya. Keuntungannya buat dia (Itema), kita beli mesin mereka. Sedangkan keuntungungan untuk kita, kalau makin banyak pakai mesin Italia, maka nanti bisa mengurangi impor kain kita. Sekarang ini garmen kita banyak diimpor dari Korea dan Taiwan, untuk diekspor lagi. Kalau sudah bisa bikin di dalam negeri, ya tidak perlu impor lagi,\" bebernya.

Patut diketahui, industri garmen merupakan salah satu penyumbang devisa ekspor tertinggi.Nilai ekspor dalam kurun waktu lima tahun terakhir selalu mencapai US$ 6 miliar. Pada tahun 2012, nilai ekspor industri garmen mencapai US$ 7,18 miliar atau 57,65% dari total ekspor TPT nasional.

Selain itu, industri TPT tercatat sebagai industri penyedia lapangan kerja yang cukup besar di Indonesia, terutama pakaian jadi (garmen). Tenaga kerja yang terserap oleh industri skala besar dan menengah pada tahun 2012 mencapai 1,53 juta orang di sektor TPT, dan 520.000 orang pada sektor pakaian jadi (garmen). Hal ini mencerminkan industri TPT, khususnya industri pakaian jadi masih merupakan salah satu penggerak utama bagi perekonomian nasional.

Related posts