Komitmen Stanchart dan Legendaris LFC Atasi Kebutaan

Kebutaan dan kerusakan mata merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk Indonesia, yang saat ini menduduki urutan ketiga di daftar negara dengan jumlah kebutaan tertinggi di dunia menurut World Health Organizatioan (WHO). Secara global, sebanyak 39 juta orang menderita kebutaan, 246 juta orang lainnya perlahan menderita gangguan penglihatan, dengan 90% dari mereka masih dapat dicegah dari kebutaan penuh.

Sedangkan di Indonesia, terdapat sekitar 3,5 juta orang (seitar 1,47% dari populasi) mengalami kebutaan pada kedua belah mata. Penyebab utama kebutaan di Indonesia adalah katarak, glaucoma, dan penimpangan pembiasan mata (refractive errors). dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya, tingkat kebutaan di Indonesia tergolong tinggi yakni sekitar 1,5%. Akibatnya, kebutaan menyebabkan Indonesia kehilangan US$1 miliar setiap tahunnya.Diperkirakan sekitar US$200 miliar per tahun untuk menghindari kebutaan total di seluruh dunia.

Mencegah kebutaan menjadi salah satu upaya kesehatan paling efektif dengan biaya terjangkau. Biaya yang dapat dihemat secara global dengan mencegah kebutaan sebesar US$223 miliar selama jangka waktu 20 tahun. Selain itu, program pencegahan kebutaan dapat membantu mewujudkan tujuan yang telah dicanangkan dalam Millenium Development Goals (MDG) - termasuk MDG 1 (memerangi kemiskinan), MDG 2 dan 3 (akses terhadap pendidikan dan persamaan gender), MDG 4 (kematian anak), dan MDG 6 (memerangi penyakit).

Terkait dengan hal tersebut, Standard Chartered Bank melalui program Seeing is Believing, sebuah inisiatif global untuk membantu pencegahan kebutaan yang masih dapat dihindari, melakukan pemeriksaan mata untuk pelajar sekolah.

\"Di Standard Chartered, masyarakat tempat kami berada tidak akan pernah berjalan sendiri. Ini merupakan komitmen terus menerus dari kami untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan mata di kalangan masyarakat di Indonesia. Diharapkan program ini akan bermuara pada meningkatnya kepedulian akan kesehatan mata disekolah-sekolah dan lingkungan sekitarnya,\" tutur Country Head of Corporate Affairs, Standard Chartered Indonesia, Arno Kermaputra.

Pememriksaan mata bertujuan agar anak-anak yang membutuhkan kacamata dan yang menderita gangguan mata akut atau gangguan mata ringan teridentifikasi dan dapat diobati sebelum mengganggu pendidikannya. Dalam kesempatannya kali ini, Standard Chartered menggandeng legendaris Liverpool (LFC) Didi Hamann dan pelatih-pelatih dari LFC Foundation melakukan eye screenings untuk pelajar SMP Negeri 16 di Palmerah.

Hampir 1000 anak-anak dan 25 sukarelawan yang terdiri atas karyawan-karyawan bank turut serta dalam pemeriksaan mata yang dilakukan bersamaaan dengan tur Asia LFC minggu ini. Bersamaan dengan pemeriksaan mata, anak-anak juga diajak bermain bola bersama eks midfielder LFC membagikan keahlian dan teknik-tekniknya.

\"Sebagai bank internasional, kami berniat membantu masyarakat untuk berkembang dan sejahtera bersama sejalan dengan janji kami Here for Good. Bersamaan dengan LFC Asia Tour, kami berpikir kenapa tidak jika kita juga membawa kepada anak-anak ini pengalaman LFC dengan membawa seorang bintang sepak bola ke sini,\" kata Head of Consumer Banking, Standard Chartered Bank Indonesia, Sajidur Rahman.

Related posts