Jangan Kau Dustakan Nikmat Tuhan - Agus Idwar Jumhadi, Presenter dan Penyanyi Nasyid

Agus Idwar Jumhadi

Presenter dan Penyanyi Nasyid

Jangan Kau Dustakan Nikmat Tuhan

\\\"Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan, jika kau bernafas dengan udara-Nya. Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan, jika engkau hidup dengan rizki-Nya. Nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan, takkan ada...\\\"

Itulah salah satu penggalan lagu nasyid gubahannya yang berjudul ‘Tak Ada’. Bagi dia, bernyanyi tak bedanya dengan berdakwah. Sebab, berdakwah itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Yang penting, kata Agus, cara yang dilakukan itu baik, sesuai dengan syariat atau tuntunan agama. Yang lebih penting juga adalah bahwa berdakwah itu merupakan bagian dari mengamalkan ilmu yang dipunyai sebagai bagian dari karya nyata untuk ikut memperbaiki ilmu, akhlak, dan perilaku umat. Dan Agus memilih lewat jalur nasyid dan menjadi presenter.

Agus Idwar Jumhadi, adalah mantan vokalis grup penyanyi nasyid Snada. Snada dirintisnya bersama beberrapa rekannya di kampus pada 1991. Dan, walaupun tak lagi aktif di Snada, orang masih tetap menempelkan Snada di belakang namanya, Agus Snada. Nama Snada sendiri merupakan pemberian ustad Toto Tasmara, mantan sekretaris perusahaan Grup Humpuss. Jadilah Senandung Nada dan Dakwah disingkat Snada. Sebelumnya, bersama dua temannya memilih nama Trio APK (Administrasi Perkantoran dan Sekretari).

Dia keluar dari Snada karena beda visi. Tapi tetap sering menjalin hubungan dengan para personelnya. Mereka sempat menerbitkan beberapa album nasyid, Di Pintu Langit (2006), Buka Mata Hati - CD (2004), Dari Jakarta Ke Kuala Lumpur - CD (2003), Neo Shalawat - VCD Karaoke dan Neo Shalawat, serta The Best Snada (2007).

Snada sendiri ikut meroket saat manggung bersama dengan ustad ‘manajemen qalbu (MO) KH Ahmad Gymnastiar atau terkenal dengan sebutan Aa Gym. Keduanya meroket dengan lagu ‘Jagalah Hati’. Asyid Snada-lah yang pertama kali memperkenalkan nasyid hingga ke hotel, pesta pernikahan, kegiatan kampus, ruang seminar dan konferensi tingkah nasional maupun internasional hingga ke manca Negara. Setelah itu, muncullah grup nasyid dari Malaysia ‘Rayhan’ yang ikut mewarnai dunia nasyid di Indonesia. Pada gilirannya, Snada memperoleh penghargaan Platinum Award dari Blackboard lewat Neo Shalawat.

Bagi Agus, nasyid adalah panggilan jiwa. Nadanya dapat dibawa dalam berbagai aliran musik, seperti pop, jazz, juga acapela. Dengan demikian nasyid dapat diterima di berbagai kalangan. Agus dengan nasyid pula yang mengantarkan Opick terkenal dengan lagunya ‘Tombo Ati’.

Kini banyak bernyanyi secara solo dan menjadi presenter di sejumlah stasiun televisi, termasuk di TV-One dan MNC-TV. Yang menonjol dari dia adalah dengan gayanya yang kocak, dia mengangkat tema tentang dosa. Maka, jadilah sebuah buku karangannya berjudul ‘Yang Nggak Dosa Dilarang Baca’.

Menurut dia, semua orang pasti memiliki dosa. “Ya, tentunya tidak ada satu orang pun yang tidak berdosa. Karena dosa itu, maka kita perlu me-manage-nya sesuai kesadaran masing-masing, mau ditambah, dipertahankan, atau dikurangi,” tutur suami dari Gieztia Mardini ini.

“Bagi saya, adanya dosa-dosa dalam diri justru bisa menjadi energi untuk lompatan besar ke depan. Jadi, sesungguhnya dosa-dosa kita itu investasi untuk berubah menjadi jauh lebih baik,” tuturnya sedikit berlogika. Maka, jadilah dia terkenal dengan artis Manajemen Dosa. Tema itu sering dibawakan dalam acara Coffee Break-nya TV-One.

Masih ingat dengan ustad Jeffry Al Bukhary Yang meninggal saat mengendarai motor Kawazaki warna hijau pupus beberapa bulan lalu di kawasan Pondok Indah? Agus Idwar adalah saksi mata kematian Uje, sapaan populer ustad Jeffry. Sebab, menjelang kejadian, Agus juga mengendarai sepeda motor beberapa meter di belakangnya. Tepatnya membonceng motor milik anak buah Uje.

Banyak misteri yang diungkapkan Agus tentang kematian itu. Menurut dia, sakaratul maut Uje terjadi sebelum kendaraan almarhum menabrak pohon. Mengapa, dari jasadnya, tak ada luka-luka diwajahnya yang bersih. Masih soal Uje lagi, dia mengungkapkan, motor hijau itu sudah ada yang menawar seharga Rp 300 juta.

Bersama Uje, ternyata membawa nikmat. Contohnya, saat Agus menjadi MC mengiringi ceramah Uje ke sebuah acara halal bi halal di sebuah hotel di Bandung, beberapa waktu lalu. Di sanalah Agus dipertemukan dengan calon istrinya, Gieztia yang kini menjadi redaktur di sebuah majalah fashion.

Khusus menyambut Ramadhan, Agus memilih mengisi acara pada sore menjelang berbuka puasa. “Dengan demikian, saya bisa menjalankan salat taraweh juga salat subuh berjamaah di masjid,” tutur ayah dari Sultan Abyasha Idwar (1,4) ini.

Menurut dia, Ramadhan datangnya setahun sekali. Begitu banyak nikmat rohani yang terkandung di Ramadhan itu. Karenanya sayang jika nikmat-nikmat itu dilewatkan begitu saja. “Belum tentu tahun depan kita bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan,” kata alumnus Fisip UI ini. (saksono)

Related posts