Utamakan Keluarga - Elin Waty, Chief Distribution Officer PT Sun Life Financial Indonesia

Semangat, itu yang coba ditularkan Elin Waty kala bertemu awak Harian Ekonomi Neraca di kantornya, di bilangan Sudirman, Jakarta. Benar saja, semangatnya itu mampu ditularkan kepada kami yang sebelumnya tak kuasa menahan kantuk di pagi hari saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan kali ini.

Kontan, pembicaraan pun mengalir begitu saja pagi itu, mulai dari bagaimana dia merengkuh karir di dunia asuransi hingga masalah keluarga terpapar dengan jelas dan penuh semangat. Yang jelas, dapat kami simpulkan kalau Elin Waty adalah sosok wanita yang terus berusaha menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Dengan kata lain, soal karir dia tidak pernah main-main, semantara urusan keluarga juga tidak dilupakannya.

“Intinya Senin-Jum’at pikiran dan tenaga, saya berikan untuk kepentingan perusahaan, sementara Sabtu-Minggu adalah waktu untuk keluarga, tanpa ingin adanya gangguan. Tetapi, walupun ada gangguan, saya selalu berusaha melibatkan keluarga saat beraktifitas Sabtu dan Minggu,” jelas ibu beranak dua ini.

Ya, sejak pertama kali berkarir Elin memang salalu fokus terhadap karirnya. Makanya jangan heran kalau dia terus dipercaya mengisi posisi penting di setiap perusahaan yang ia bela. Kini dia telah berkarir selama 18 tahun di dunia asuransi. Menurut dia, bidang asuransi itu sangat menarik, banyak yang bisa dikembangkan dari bidang ini khusunya di Indonesia.

Ada hal menarik ketika dia pertama kali memutuskan untuk menekuni bidang ini (asuransi). Dulu, ketika pertama kali timbul keinginan untuk bekerja, dia bercita-cita ingin bekerja di sebuah perusahaan yang bisa mewujudkannya cita-citanya untuk berkeliling Indonesia. Saat itu, sektor asuransi lah yang memberikan kesempatan itu, karena saat itu dia dipercaya untuk memberikan berbagai pelatihan asuransi di seluruh Indonesia.

“Kini sebagain besar kota yang ada di Indonesia pernah saya singgahi, paling yang belum ya hanya kota-kota kecil saja, dan itu alasan saya bekerja, saya ingin bekerja pada perusahaan yang bisa membuat saya berkeliling Indonesia,” sebut dia.

Jangan salah, Elin tak hanya berpengalaman di bidang training saja, segala jabatan pernah diembannya, mulai dari costumer service, menganalisa pengembangan bisnis, dan mengurusi masalah manajemen penjualan. Kini, dia dipercaya untuk menetapkan strategi distribusi dan penempatan bisnis baru oleh perusahaannya.

Walaupun semua posisi yang diberikan tak melulu sesuai dengan keinginannya, dia selalu bersemangat dan menganggap kepercayaan yang diberikan kepadanya adalah sebagai amanat yang harus dilaksanakan. Makanya, tidaklah megherankan kenapa dia selalu sukses setiap menjalankan setiap amanat yang diberikan.

Tetapi, satu hal yang pasti, dalam menjalankan pekerjaannya dia selalu menjunjung tinggi kebersamaan dan kenyamanan terhadap bawahannya. Maklum Elin lebih menyenangi kerja tim ketimbang personal. Makanya, dia tak segan-segan untuk berhubungan dengan bawahannya laiknya hubungan dalam keluarga.

“Setiap orang dalam bekerja pasti butuh kenyamanan, itu yang saya coba terapkan kepada bawahan saya, makanya bawahan saya di perusahaan lama hingga kini masih berhubungan baik dengan saya, kalau mereka ke Jakarta pasti mereka menyempatkan ke rumah saya,” kata dia.

Yang membuat dia semakin kerasan di industri ini, adalah saat ini mulai banyak masyarakat Indoinesia yang mulai ‘melek’ asuransi, dan itu membuat pertumbuhan industri asuransi semakin baik. Sementara soal kompetisi, dipercaya Elin kalau kompetisinya tidak seketat industri lain, pasalnya industri ini baru sebagian kecil tergarap.

“Berbeda dengan kondisi dulu, sekarang sudah lumayan masyarakat kita yang ‘melek’ asuransi, itu tak lepas dari peran pemerintah, serta media yang juga sering memberi sosialisasi kepada masyarakat akan betapa pentingnya asuransi itu,” tegas ibu yang mengaku tak bisa menghitung berapa polis asuransi yang dimiliki.

Incar Top Position

Seperti kebanyakan wanita karir lainnya, Elin pun meninginkan posisi yang lebih baik lagi dalam karirnya, tentu saja di bidang asuransi. Usut punya usut, Elin ternyata ingin berada di jajaran wanita yang menjadi CEO di sebuah perusahaan asuransi. Maklum, saat ini jumlah CEO wanita di dunia asuransi bisa di hitung dengan jari.

“Sebagai wanita karir saya pasti menginginkan posisi yang lebih baik lagi. Apalagi saat ini CEO wanita di bidang asuransi masih sangat sedikit, dan saya ingin sekali berada di jajaran itu. Tetapi, walaupun mengincar posisi tersebut, saya tidak mau ‘ngoyo’ dalam bekerja,” jawab dia.

Dia menyatakan kalau ia akan lebih senang untuk dapat membantu banyak orang ketimbang meraih karir dengan cara ‘ngoyo’ atau dengan menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Karena, dia percaya kalau kini dia bekerja dengan baik, kenaikan jenjang karir pun akan datang dengan sendirinya.      

“Saya tidak punya target untuk hal itu, pokoknya yang ada saat ini saya kerjakan dengan baik, karena persoalan karir akan mengikiuti, mungkin kalau itu memang jalannya, saya pribadi memang tertantang untuk menjadi CEO wanita dalam lima tahun ke depan, entah dari perusahaan mana,” jawab Elin disertai tawa.

Ya, soal santai tapi pasti dalam berkarir ini, dibuktikan Elin dalam kehidupannya. Walaupun mempunyai keinginan menjadi CEO, Elin tetap tidak melupakan keluarganya, dia tidak pernah bekerja berlebihan dan selalu beruspaya menyeimbangkan karir dan keluarga.

Menurut dia, walaupun dia kini adalah seorang wanita karir, Elin tetap tidak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Makanya, jangan heran tiap libur atau saat weekend menghampiri, dia selalu menyempatkan diri untuk belanja keperluan dapur di pasar, dan memasak untuk keluarganya.

“Kan seperti saya katakan tadi, kalau saya tidak mau ‘ngoyo’ dalam mengejar karir, yang penting Senin-Jum’at saya berikan segalanya untuk karir saya, sementara untuk Sabtu dan Minggu waktunya untuk keluarga, untuk anak-anak saya, ” tegas wanita yang mengaku lebih menyenangi berbelanja di pasar tradisional itu.

Keluarga Adalah Hidup

Telah disebutkan Elin sebelumnya, kalau dia selalu berupaya menyeimbangkan bagaimana dia berkarir dan bagaimana ia menjalani kehidupannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Tak heran, kalau disela-sela karirnya dia selalu menyempatkan diri untuk melakukan yang terbaik bagi keluarganya, khusunya bagi anak-anaknya.

“Saya sangat dekat dengan kedua anak saya, tetapi yang perempuan kan lebih kecil, jadi sepulang kerja waktu saya habis dengan dia, sementara saya juga tidak mau melupakan anak laki-laki saya yang kini beranjak remaja dan butuh ruang untuk berbicara banyak hal,” sebut Elin.

Makanya, usai menina-bobokan anak perempuannya hingga tertidur, seolah tak pernah lelah dan kehilangan semangat walau telah capek seharian bekerja, dia tetap semangat menghampiri anak laki-lakinya di kamarnya, dan berbicara santai sambil bertanya bagaimana sekolahnya, bagaimana hubungan dia dan teman-temannya, sampai mungkin pada hal-hal lain yang mungkin dianggap banyak orangtua adalah hal sepele.    

Sementara itu soal pendidikan, Elin selalu berupaya mendorong anak-anak untuk berteman dan berorganisasi. Buat dia, pendidikan itu harus fun, dia selalu mengingatkan kalau dia tidak akan merasa bangga meski anaknya juara satu tetapi tidak memiliki berteman dan tidak berorganisasi. Faktanya, semua itu berbuah manis, anaknya menjadi anak yang berprsetasi dan juga mandiri.

“Anak laki-laki saya sukses ikut program pertukaran pelajar. Itu pun semua dia yang mengurus sendiri. Intinya, walau saya capek saya selalu harus tetap semangat, karena semangat itu dapat menular,” kata dia.

Selain itu, dia sangat menjunjung tinggi norma-norma Timur dalam mendidik anak-anaknya. Jadi, walaupun, diakui Elin pola pikir anak-anaknya menggunakan cara berpikir ala Barat. Tetapi mereka tetap terdidik untuk tetap menjunjung norma-norma Timur.

“Walaupun anak saya ikut program pertukaran pelajar ke Prancis dan negara lainnya, tetap dia harus belajar norma-norma Timur. Apalagi dia kan datang membawa nama bangsa indonesia ke sana,” tegas Elin.

Dua Hobi

Sebagai pekerja keras, Elin mengaku memiliki dua hobi untuk menyalurkan emosi saat bekerja agar tidak dibawa saat pulang ke rumah. Dia pun menyalurkannya dengan hobi membaca novel. Meski saat ini lebih menyenangi novel bukan berarti koleksinya hanya berisikan buku-buku novel saja, segala macam buku dia koleksi.

“Tidak nampak ya kalau saya ini hobi membaca buku, segala macam buku saya punya, tetapi karena saya sudah stres bekerja saya rasa lebih baik kalau membaca yang ringan-ringan saja, karena dengan membaca novel kan akan lebih rileks,” ujar dia.

Soal koleksi, buku-buku yang dimilki Elin sangat banyak, kini tempat yang tersedia seakan tak mampu lagi menampung buku-buku yang dia beli. Maklum, kecepatan membaca Elin sangat cepat, bahkan sang anak mengatakan kecepatannya membeca buku lebih cepat dari toko buku (Gramedia) mengeluarkan buku baru.

“Di tembok itu empat kali empat laci untuk buku, selain terisi dengan buku-buku yang tertata rapih juga ada tumpukan buku yang tak karuan lagi, dan saya rasa saya harus punya ruangan baru untuk buku-buku saya,” sebut dia ketika ditanya berapa banyak koleksi buku yang dimiliki.

Karena buku-buku yang dimiliki begitu banyak, tak heran kalau banyak teman yang meminjam bukunya. Tapi awas, kalau meminjam buku dengannya harus dikembalikan, karena Elin tak akan meminjamkannya lagi bila hal itu kejadian.

“Kan buku itu tidak hanya saya baca satu kali, suatu saat akan saya baca lagi, apalagi untuk buku-buku trilogi, kalau satu hilang tak dikembalikan kan rasanya sangat menjengkelkan, makanya saya hanya mensyaratkan satu hal, kalau meminjam buku ya dikembalikan,” tegas dia.

Selein membaca novel, sejak dua tahun kebelakang dia juga memiliki hobi lainnya, kata sebagian orang pada Elin, hobinya ini adalah hobi yang ‘gokil’. Mau tahu apa hobi dia yang lain lagi? Elin memiliki hobi menyusun nanoblock.

Awalnya hobi ini dimulai karena anak adiknya ingin membeli nanoblock saat jalan-jalan ke Singapura, setelah membeli dia pun ikutan memainkannya dan keterusan hingga saat ini. Bedanya saat membantu anak adiknya dia membentuk bentuk-bentuk sederhana, kali ini bentuk-bentuk rumit mampu dia kerjakan dalam waktu satu sampai dua bulan.”Karena sambil bekerja, ya saat ada waktu lengang saja saya membuatnya,” tegas dia.

Bagi Elin, hobi barunya ini mampu memberikan efek positif terhadap pekerjaannya.  Kata dia, bermain nanoblock, membuatnya dapat meningkatkan kesabaran dan mernurunkan emosi, dan itu tentu akan sangat bermanfaat dalam pekerjaannya. “Karena kalau dalam kondisi enak tidak enak saya tidak bisa menyelesaikannya. Seperti membuat bentuk Tajmahal,  menara Pizza itu kan butuh ketelitian serta kesabaran,” lanjut dia.

Sayangnya, miniatur yang dia inginkan belum disediakan oleh produsen. Ya, dia sangat ingin membeli serta membuat nanoblock berbentuk Candi Borobudur. Makanya, saking menginginkan bentuk Candi Borobudur, dia sempat menyurati produsen nanoblock untuk membuat bangunan Candi terbesar di Indonesia itu.

“Sayangnya, detail Borobudur tidak ada. Padahal, saya sangat menginginkannya, makanya saya sampai membuat surat tertulis agar produsen membuat nano blok untuk miniatur Borobudur,” tegas dia.

Dan kini bukan hanya dia yang keranjingan bermain nanoblock, anak perempuannya juga turut senang bermain nanoblock. Mungkin ini sebabnya ada istilah ‘kalau buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya’. (ahmad)

 

Related posts