Perbankan Syariah Masih Terhalang Berbagai Masalah

NERACA

Jakarta - Kalangan industri perbankan syariah tengah gencar memburu dana murah atau current and savings account (CASA). Pasalnya, selama ini CASA masih didominasi oleh bank konvensional lantaran telah menguasai sistem dan teknologi perbankan. Des, beragam cara pun dilakukan. Mulai dari pengalihan dana haji yang rencananya tahun ini Rp20 triliun, wakaf yang berpotensi Rp20 triliun per tahun, zakat serta dana bergulir perusahaan BUMN sebesar Rp40 triliun per tahun.

Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar tak menampik bila perbankan syariah Indonesia masih belum berkembang dan kalah jauh dari Malaysia. Dia menilai, yang menjadi masalah terletak di konseptual. “Kita bermasalah di rumusan-rumusan tentang pemahaman syariah. Artinya, Indonesia sangat kurang ahli keuangan syariah. Sampai saat ini yang ahli hanya para ulama, dan menyebabkan terjadinya \"one man show\" saja. Jadi aturannya kaku,” ungkap dia di Jakarta, Rabu (17/7).

Lebih lanjut Nazaruddin mengungkapkan, perbankan syariah Malaysia maju lantaran memiliki banyak ahli keuangan syariah. Padahal, kata dia, dari segi aturan seperti fiqih, Negeri Jiran itu jauh lebih ketat. Akan tetapi, justru dari sisi ekonomi syariah mereka jauh lebih friendly aturannya. “Itu karena banyak ahli (keuangan syariah). Jadi tidak ada \"one man show\",” terangnya.

Selain konseptual, dari sisi aturan telah diperkuat. Menurut Nazaruddin, setelah keluarnya Peraturan Menteri Agama (PMA) No.30 tahun 2013 tentang Bank Penerima Setoran (BPS) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), otomatis dana haji harus dilimpahkan ke perbankan syariah. Meski begitu, dia mengaku tidak mudah untuk melakukannya dalam waktu dekat.

“Setelah UU No.21/2008 ada, lalu diperkuat dengan PMA No.30/2013, sudah seharusnya dana haji ini dialihkan ke perbankan syariah. Tapi memang harus bertahap. Karena kalau ditarik semuanya itu nanti ada persoalan teknis. Intinya, masih dalam proses. Tunggu waktu saja,” imbuh Nazruddin.

Akuisisi BMT

Pada kesempatan yang sama, pengamat ekonomi syariah Arif Muftie menilai, ada beberapa cara yang harus dilakukan perbankan syariah untuk menggaet dana murah. “Kita kan sudah lengkap perangkat hukumnya. Nah, hukum itu alat rekayasa, gunakan untuk menekan lembaga mengumpulkan dana agar disimpan ke bank syariah,” kata dia, kemarin.

Arif menambahkan, selain itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan harus mengubah kebijakan yang mengatakan bahwa seluruh dana BUMN wajib masuk bank BUMN. “Itu salah. Harusnya ditambah juga supaya dimasukkan ke bank syariah. Memang ada bank syariah BUMN, meskipun mereka terafiliasi?” ungkapnya, menegaskan.

Kemudian, Arif mengakui kalau kantor cabang bank syariah belum ada yang mencapai pelosok daerah. Oleh karena itu, bank syariah didorong untuk mengakuisisi lembaga keuangan mikro (LKM) atau baitul maal wat tamwil (BMT). Hal ini akan mempermudah bank syariah menggaet dana murah dari masyarakat lebih banyak, sekaligus mendukung langkah dalam menerapkan konsep branchless banking.

“Bank syariah bisa manfaatkan branchless banking melalui BMT-BMT ini. Jadinya terafiliasi, kan, mereka juga banyak menyalurkan dananya ke sektor UKM. Anggota BMT ini variasi, mulai dari 1.000-10.000 orang. Apalagi konsep branchless banking ada tahapannya. Ke depan, BMT ini bisa mewakili bank dalam mengumpulkan dana murah. Jadi mereka tidak usah buka kantor cabang. Ini sudah diterapkan di negara-negara Afrika dan Pakistan,” tambah Arif.

Sebagai catatan, porsi dana murah di perbankan syariah tercatat menurun. Pada Mei 2012, dana murah perbankan syariah memiliki porsi 41,19% dengan jumlah Rp47,46 triliun. Sedangkan pada periode yang sama tahun ini, porsi dana murah perbankan syariah justru melorot menjadi 38,5% namun jumlahnya meningkat sebesar Rp63,09 triliun.

Hal berbeda juga terlihat dari dana pihak ketiga (DPK). Pada Mei tahun ini, DPK perbankan syariah mencapai Rp163,8 triliun atau tumbuh 42,23% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah Rp115,2 triliun. Saat ini, pangsa pasar perbankan syariah telah mencapai 4,9% dari total pangsa perbankan. Ke depan, diharapkan pangsa pasar bank syariah mampu mencapai angka 5%, di mana target ini telah dicanangkan sejak 2008 lalu.

Pada tahun itu, dana murah di bank konvensional telah memegang porsi mayoritas, yaitu 53%. Kemudian di akhir tahun lalu, porsi tersebut menjadi 57%. Cara lainnya untuk mendapatkan serta meningkatkan dana murah adalah perbankan syariah harus berupaya maksimal menjadi bank transaksional. Hal ini dilakukan dengan memberi layanan anjungan tunai mandiri (ATM) yang memiliki banyak fitur canggih, SMS banking, atau internet banking. [ardi]

Related posts