Saham Sektor Properti Topang Laju Indeks BEI

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Rabu kemarin, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menguat 34,962 poin (0,75%) ke level 4.679,001. Penguatan indeks BEI dipicu aksi beli investor domestik, khususnya saham sektor properti dan perdagangan.

Analis e-Trading Securities, Betrand Raynaldi mengatakan, penguatan saham sektor properti dan perdagangan memberi dampak pada melajunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),”Sejumlah saham yang menjadi penggerak bursa sesi pertama antara lain PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE),”ujarnya di Jakarta kemarin.

Tercatat investor asing melakukan pembelian bersih di pasar reguler sebesar Rp9 miliar. Hampir seluruh sektor saham menguat yang dipimpin oleh properti sebesar 2,3%, perdagangan 1,3%, konsumer dan industri dasar masing-masing 1,1%. Sedangkan sektor saham yang mengalami koreksi hanya perkebunan dan infrastruktur masing-masing 1% dan 0,4%.

Sebelumnya, Research Analyst Panin Sekuritas Purwoko Sartono pernah mengatakan, saham berbasis properti diproyeksi bakal mengalami tekanan. Hal ini seiring dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menyempurnakan aturan loan to value ratio (LTV), “Tekanan kami lihat mulai muncul pada saham sektor properti seiring dengan kebijakan baru BI terkait KPR untuk rumah kedua dan ketiga,”jerlasnya.

Bukan kali ini aja saham properti tertekan, sebelumnya keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin dari sebelumnya 6% menjadi 6,5% juga mengancam pergerakan indeks saham sektoral, khususnya properti, “Dengan kenaikan BI Rate yang terlalu besar dalam satu kali kebijakan tidak serta merta berdampak positif pada perkembangan pasar,”ujarnya.

Kinerja saham-saham properti dalam beberapa pekan ini anjlok signifikan, bahkan indeks sektor properti dalam sebulan ini turun hingga sekitar 20%. Sementara itu, saham-saham properti yang sebelumnya kinclong, belakangan ini meredup. Sebut saja BSDE yang dalam sebulan ini telah terkoreksi sebesar 20,76%, ASRI -15,29%, SMRA (0,20%), LPKR (-26,75%).

Dalam riset PT Mandiri Sekuritas menyebutkan, secara historis, indeks saham emiten properti cukup sensitif terhadap kebijakan moneter dari Bank Indonesia. BI rate naik, akan menekan harga saham emiten properti. Sebaliknya, kinerja saham sektor properti akan membaik ketika BI menurunkan suku bunga.

Namun demikian, ketentuan BI yang akan menerapkan uang muka (down payment/DP) lebih tinggi untuk pembelian rumah kedua dan seterusnya diperkirakan tak banyak menekan kinerja saham sektor ini. (bani)

Related posts