Menantikan Sentimen Positif Rencana IPO Freeport - Progres Kajian Jalan Ditempat

NERACA

Jakarta – Lama tidak terdengar soal rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Freeport Indonesia, kini kembali mencuat rencana tersebut yang langsung dilontarkan pimpinan perusahaan. Namun sayangnya, rencana IPO perusahaan tambang asal Amerika ini masih sebatas kajian dan belum sampai progress yang siginifikan.

Vice President Corporate Communication, PT Freeport Indonesia, Daisy Primayanti mengatakan, pihaknya tengah mengkaji rencana IPO di pasar modal dalam negeri, “Wacana IPO terus dikaji secara internal,\"tandasnya di Jakarta kemarin.

Gayung pun bersambut, pemerintah membuka pintu lebar-lebar soal IPO Freeport Indonesia. Hal inipun diakui langsung Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Thamrin Sihite,”Sebagai bagian dari proses perpanjangan kontrak karya, Freeport bakal listing di Bursa Efek Indonesia,”ungkapnya.

Sampai saat ini, Freeport belum merinci prosentase saham yang akan dilepas ke publik. Ssaat ini sebanyak 90,64% saham Freeport dimiliki oleh Freeport McMoran Copper & Golden Inc. Sementara, sisanya sebesar 9,36% sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Freeport-McMoRan akan melepas 10,64% saham lagi kepada pihak nasional, tapi tidak melalui IPO.

Banyak pelaku pasar dan termasuk investor pasar modal berharap agar Freeport bisa listing di BEI. Hal ini diyakini akan menjadi saham buruan para investor layaknya saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dikenal sahamnya sejuta umat. Tidak hanya itu, pihak BEI menilai, Newmont dan Freeport dapat menjadi pilihan investasi yang berkualitas bagi masyarakat.

Tak heran, jika Direktur Utama BEI Ito Warsito selalu berharap Freeport Indonesia bisa listing di bursa. Alasannya, pencatatan saham Freeport dan Newmont bisa meningkatkan kapitalisasi pasar bursa. Kala itu, pihak BEI pernah sesumbar bila listing Freeport dan Newmont dilakukan tahun ini.

BEI juga siap memberikan jaminan untuk memproses cepat perizinan listing, bila kedua perusahaan tersebut sudah mantab untuk IPO di Indonesia. “Kalau kedua perusahaan itu sudah siap maka BEI bisa saja mempercepat proses perizinan itu,”kata Ito.

Menurutnya, dengan pencatatan saham Freeport Indonesia di pasar modal akan menjadikan perusahaan lebih transparan dalam melaporkan keuangannya seperti emiten yang sudah mencatatkan di papan BEI serta transparansi dalam operasional di Indonesia. Selain itu, pencatatan saham Freeport juga bisa mendapatkan pendanaan.

Hal senada juga disampaikan Direktur Penilai Perusahaan BEI, Hoesen yang menyatakan, jika PT Freeport Indonesia melaksanakan IPO jelas akan menambahkan nilai kapitalisasi di pasar modal,”IPO Freeport bisa dua kali dari BUMI dan mestinya lebih bagus,\"tuturnya.

Diapun mengakui, saat ini memang belum ada kelanjutan mengenai rencana itu. Namun dia berharap, dengan masuknya Freeport Indonesia sebagai perusahaan terbuka bisa menambah kapitalisasi pasar bursa Indonesia.

Kewajiban Divestasi

Bagi sebagian analis menilai, rencana IPO Freeport Indonesia ini merupakan bagian dari upaya perseroan itu untuk mengurangi dampak dari kewajiban divestasi saham perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia.

Sebelumnya, Indonesia yang memiliki tambang timah terbesar di dunia dan eksportir batu bara terbesar telah mengumumkan serangkaian aturan yang membatasi kepemilikan asing di perusahaan tambang tidak lebih dari 49% setelah beroperasi 10 tahun. Meski perincian dari aturan ini belum jelas, tujuan pembatasan kepemilikan asing itu diharapkan bisa meningkatkan pendapatan dan investasi dari industri tambang. Pemerintah Indonesia telah mengatakan bahwa kewajiban divestasi akan berlaku bagi semua pihak asing, bukan terbatas pada Freeport Indonesia. \"Ada sebuah kecenderungan untuk melepas saham lewat IPO karena adanya kewajiban divestasi. Jika mereka pilih lewat pasar keuangan, mungkin prosesnya akan berjalan mulus,”kata analis Sucorinvest Arief Budiman.

Namun, rencana IPO Freeport Indonesia akan butuh dukungan dari pemerintah Indonesia yang saat ini merupakan pemegang saham 9% di perusahaan itu. Saat ini, Freeport Indonesia juga tengah dalam pembahasan untuk memperpanjang kontrak karyanya di Grasberg yang akan berakhir tahun 2021 mendatang.

Juru Bicara PT Freeport Indonesia, Ramdani Sirait mengatakan, IPO merupakan salah satu opsi yang akan ditempuh Freeport apabila saham yang ditawarkan Freeport kepada pemerintah pusat dan daerah tidak diminati, “Kami tawarkan dulu ke Pemerintah pusat dan daerah, kalau tidak berminat maka baru kita tawarkan ke publik,”tuturnya.

Tujuan IPO Freeport Indonesia sendiri, kata Ramdani lebih kepada ada atau makin banyaknya keterlibatan masyarakat Indonesia di Freeport. Rencananya, jika opsi tersebut terealisasi, target dana IPO diperkirakan bisa menembus US$1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. (bani)

Related posts