BNI Syariah Menilai Belum Masuk Equilibrium Baru - Fluktuasi Rupiah

NERACA

Jakarta - Direktur Utama Bank Negara Indonesia Syariah, Dinno Indiano mengatakan, kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah melewati angka psikologis Rp10 ribu, dinilai belum tentu suatu nilai equilibrium (harga keseimbangan) yang baru. Menurut dia, semua pihak seharusnya menyadari bahwa nilai tukar memang sudah cukup lama mendekati angka Rp10 ribu, namun rupiah tidak pernah di atasnya.

\"Kalau mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terakhir ini semakin melemah tentu akan berpengaruh pada ekonomi kita. Namun, kami belum bisa mengatakan kalau ini memang equilibrium baru karena sebetulnya ini bisa saja suatu adjustment (penyesuaian). Jadi, hal ini terjadinya baru beberapa hari saja. Artinya, dalam masa penyesuaian ini, tentunya, kita perlu waktu untuk mengatakan apakah ini suatu equilibrium yang baru atau tidak,\" ujar Dinno di Jakarta, Rabu (17/7).

Dia juga menekankan keadaan tersebut sebenarnya juga tergantung pada \"supply\" (penawaran ) dan \"demand\" (permintaan) terhadap dolar Amerika di pasar. Oleh karena itu, dia berharap Bank Indonesia (BI) dapat segera mengambil suatu tindakan yang tepat agar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat stabil kembali.

\"Kami berharap ini akan menjadi \'smooth\' (lancar) dalam beberapa hari kedepan. Kami juga berharap dari BI ada gerakan agar nilai tukar rupiah ini dapat lebih stabil,\" katanya. Dia menyadari nilai tukar rupiah yang melemah itu akan berdampak bagi sektor-sektor ekonomi, khususnya bagi sektor ekspor dan impor.

Dinno mengatakan, kalangan dunia usaha menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat membantu kinerja ekspor Indonesia. Akan tetapi, kondisi tersebut juga menimbulkan permasalahan bagi industri manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

\"Kalau untuk eksportir tentunya senang bila kurs rupiahnya melemah, tetapi untuk importir yang bergantung pada bahan baku impor tentu tidak,\" ucap Dinno. Bagaimana pun, dia menilai, hal yang paling penting untuk diusahakan saat ini adalah kestabilan dari nilai tukar rupiah guna mendukung sektor perdagangan dan bisnis.

\"Jadi yang diharapkan adalah ditentukan hasil equilibriumnya mau berapa. Terutama kestabilan dari nilai tukar rupiah ini yang paling diperlukan agar di dalam perdagangan menjadi lebih mudah memprediksi untuk jangka waktu kedepan,\" tandas Dinno.

Tersulut The Fed

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah pada Rabu sore kemarin masih berada dalam area negatif atau melemah sebesar 20 poin terhadap dolar AS menjelang pernyataan The Fed mengenai stimulus keuangan AS. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah menjadi Rp10.030 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp10.010 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia kemarin, tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp10.040 dibanding posisi sebelumnya, Selasa (16/7), Rp10.036 per dolar AS.

\"Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia, termasuk dengan rupiah menjelang testimony Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke mengenai kelanjutan stimulus keuangan AS,\" kata analis Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra.

Dia menambahkan, sebagian kalangan mengekspektasikan bahwa The Fed akan perlambat stimulus moneternya menyusul perkiraan sektor perumahan akan meningkat. \"Dolar AS tidak mungkin untuk di jual dalam jangka panjang dalam kondisi saat ini,\" kata dia.

Ariston menuturkan, sulit mengharapkan penguatan mata uang Indonesia yang berkelanjutan seiring masih minimnya sentimen positif di dalam negeri maupun eksternal. Sementara Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, menambahkan rupiah masih di area negatif, intervensi yang dilakukan BI di pasar uang diperkirakan sedikit berkurang.

Dia menilai kebijakan BI untuk menaikan suku bunga acuan (BI rate) belum berdampak positif seiring dengan perekonomian nasional yang sedang melambat. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Difi Ahmad Johansyah memastikan bahwa tidak ada kepanikan di pasar. Kondisi tersebut, menurut dia, jauh berbeda dengan tahun 1997-1998 silam. \"Saat ini, pelemahan rupiah menunjukkan kondisi fundamental ekonomi, tetapi dalam situasi ekonomi dan politik yang terjaga,\" tukasnya. [ardi]

Related posts