Sektor Otomotif Diproyeksikan Tergerus 7% - Cermati Saham ASII dan IMAS

NERACA

Jakarta- Kinerja sektor otomotif dinilai akan cukup tertekan pada semester kedua tahun ini dengan adanya kebijakan menaikkan BI rate sebesar 50 basis point menjadi 6,5%. Terlebih jika perbankan nasional menaikkan tingkat suku bunganya yang secara otomatis ikut menaikkan suku bunga kredit. “Bisa jadi akan ada penurunan penjualan untuk roda empat, sementara untuk roda dua tampaknya tidak akan turun terlalu banyak. Proyeksinya pertumbuhan tahun ini bisa turun sekitar 7%.” kata analis Net Sekuritas, Fadli di Jakarta, Rabu (17/7).

Menurut dia, kinerja sektor otomotif tidak hanya terpukul kenaikan BI rate, namun juga terimbas pada pelamahan rupiah dan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah pada Juni lalu. “Kalau lihat kenaikan BBM tahun 2009 sebesar 30%, tidak pengaruh banyak ke penjualan kendaraan bermotor. Namun, sentimen saat ini cukup banyak.” jelasnya.

Meski demikian, sambung dia, jika tertarik masuk ke sektor otomotif maka pelaku pasar dapat mempertimbangkan kinerja fundamental emiten di sektor tersebut. Terlebih untuk emiten yang tercatat memiliki pangsa pasar yang cukup besar. “Saya rekomendasi hold untuk saham ASII dan IMAS dengan target masing-masing 6.300 dan 5450.” ucapnya.

Namun, dari kedua emiten tersebut, Fadli lebih menjagokan ASII ketimbang IMAS meskipun kinerja keduanya tercatat mengalami koreksi pada kuartal pertama 2013. “Kita perlu lihat lagi, terlebih dengan regulasi Low Cost Green Car (LCGC) yang akan keluar sebentar lagi, ASII pun tercatat emiten yang ekspansif dan produknya lebih banyak dari pada IMAS.” jelasnya.

Memang, jika dilihat dari kinerja kedua emiten tersebut perusahaan Astra Internasional Tbk (ASII) dengan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) maka akan terlihat perbedaan yang begitu jauh. Secara fundamental, terlihat bahwa di kuartal pertama tahun 2013 IMAS sedang mengalami kelesuan setelah laba bersih yang dihasilkan jika dibandingkan dengan yang didapatkan pada kuartal pertama tahun 2012 menurun sebesar 40%. Selain itu, dengan semakin banyak saham yang dijual membuat EPS semakin mengalami penurunan yang begitu besar. Pada kuartal pertama tahun ini telah terjadi penurunan EPS sebesar 70%.

Penjualan Indomobil merosot 4% menjadi 25.223 unit pada kuartal pertama 2013. Bahkan, penjualan pada Maret ambles 14% menjadi 7.592 unit. Adapun penjualan Nissan turun 4,2% menjadi 16.644 unit dan Hino, merek andalan Indomobil lainnya, terpangkas 5,2% menjadi 8.028 unit. Imbas berikutnya, pangsa pasar tergerus dari 10,5% menjadi 8,5%. Kondisi itu bertolak belakang dengan pasar mobil domestik yang naik18,7% menjadi 297 ribu unit.

Sementara laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) mengalami penurunan 7% dari Rp4,6 triliun menjadi Rp4,3 triliun. Laba bersih per saham juga turun tujuh persen menjadi Rp106 per saham. Laba bersih divisi otomotif tercatat mengalami penurunan sebesar 10% menjadi Rp2,2 triliun. Laba itu terdiri atas Rp1 triliun dari perseroan dan anak-anak perusahaan, serta kontribusi dari perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities di bidang otomotif sebesar Rp1,2 triliun. (lia)

Related posts