Mengapa Beli Gerbong Kereta Bekas dari Jepang?

Mengapa Beli Kereta Bekas dari Jepang

Tiap tahunnya, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menargetkan pembelian 180 gerbong kereta bekas dari Jepang, hingga terkumpul 1.800 gerbong dan mampu menampung 1,2 juta penumpang setiap hari. Tiap gerbong membutuhkan ongkos hingga Rp 1 miliar.

Kereta bekas yang sudah berumur 20 tahun itu, kata Direktur Komersial PT KCJ Makmur Syaheran, kereta bekas untuk masih bisa dipakai hingga 15-20 tahun lagi. Apa alasan KAI dan KCJ memilih membeli gerbong bekas dari Jepang? Makmur menjelaskan, jika membeli kereta baru buatan dalam negeri, yaitu yang diproduksi PT Industri Kereta Api (Inka), harganya mencapai Rp 10 miliar. “Jika demikian, harga tiketnya bisa mencapai Rp 50 ribu,” kata dia.

Lain halnya jika pemerintahlah yang membelanjakan pengadaan gerbong kereta baru, harga tiket bisa ditekan hingga mencapai harga yang terjangkau penumpang, terutama golongan ekonomi kecil. Menurut Makmur, memang pemerintah sudah membeli 40 unit gerbong baru. Kini sudah dipakai untuk mengisi trek lingkar kota (loop line), yaitu yang melintas di 13 stasiun Jatinegara, Manggarai, Duri, Kampung Bandan, Kemayoran, Senen, dan kembali ke Jatinegara.

Mengapa harus membeli kereta bekas? Ahmad Syafrudin mengingatkan pemerintah agar menghidupi industri dalam negeri yang sudah ada, jangan selalu tergiur dengan harga murah yang ditawarkan pihak asing. Harga murah memang itulah politik dagang yang ditawarkan asing agar laku dan diminati pemerintah Indonesia.

“Jika pemerintah selalu cari murah dan tanpa memperhatikan kelangsungan hidup industri dalam negeri, ya tunggu saja negeri ini jatuh dan dikuasai asing, pemerintah hanya antek saja,” kata dia. Seharusnya, lanjut Puput, pemerintah memikirkan bagaimana caranya agar industri dalam negeri seperti PT Inka tumbuh, besar dan kuat, hingga mampu bersaing di pasar global. Jangan justru dikebiri terus.

Dia pun menyontohkan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013 yang membebaskan mobil Jepang masuk Indonesia bebas pajak barang mewah, bersembunyi di balik kampanye mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) dan membiarkan merambah pasar mobil nasional di segmen 1.000 cc ke bawah. (saksono)

Related posts