Mendambakan Naik KRL dengan Nyaman

Mendambakan Naik KRL dengan Nyaman dan Aman

…… Naik kereta api tut.. tut.,.. tut…. Siapa hendak turun….. Lagu ciptaan Ibu Soed itu masih sering kita dengar di play group atau taman kanak-kanak. Pesan yang disampaikan Ibu Soed adalah ajakan naik kereta yang murah. Bahkan untuk anak-anak percuma alias gratis. Itu dulu.

Sejak diberlakukannya diberlakukannya tarif progresif, jumlah penumpang kereta api listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), naik signifikan antara 10-20 %. Jika semula masih di 456 ribu orang per hari, kini sudah bertambah hingga 126 ribu orang.

Tarif progresif yang diterapkan sejak 1 Juli tersebut adalah setiap lima stasiun pertama dikenakan Rp 2.000, lalu tiap tiga stasiun berikutnya ditambah Rp 500. Jika semula harga tiket Bogor- Jakarta tanpa subsidi sebesar Rp 9 ribu, kini paling banyak sekitar Rp 5.000 saja. Diterapkannya tarif progresif tersebut menyusul dihapuskannya tiket khusus kelas ekonomi yang besarnya paling banyak Rp 2.500 serta akan dihapuskannya kereta ekonomi non AC. Jadi, nanti semua rangkaian kereta komuter Jabodetabek ber-AC.

Direktur Utama PT KCJ Ignatius Tri Handoyo menjelaskan, diterapkannya tarif progresif yang dihitung berdasarkan jarak itu setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendapat kucuran subsidi dari pemerintah sebesar Rp 704 miliar tahun ini. Sebanyak Rp 286 miliar di antaranya diberikan kepada PT KAI Daerah Operasional (Daops) I/Jabodetabek.

Lima hari sebelum tarif progresif diberlakukan, penumpang berjumlah 456.323. Empat hari pemberlakuan tarif progresif, jumlah penumpang menjadi 503.549 orang. Dari angka tersebut, 471.872 di antaranya menggunakan kereta Commuter Line (CL) dan 32.677 orang naik KRL kelas ekonomi.

Selain tiket progresif, PT KCJ juga menerapkan tiket elektronis (i-ticket). Mutasi pembelian tiket dari tiket kertas menjadi tiket plastik itu dimaksudkan untuk memudahkan kontrol terhadap penumpang dan mengurangi petugas. Yang paling penting, memudahkan penumpang tidak selalu harus mengantri beli karcis di peron. Itu sebabnya, diberlakukan tiket satu kali perjalanan (single trip/ST) dan multi trips (MT) untuk beberapa kali perjalanan, tergantung jumlah dana yang disimpan di kartu itu.

Besar paket isiulang kartu MT adalah Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 20.000, Rp 50.000, Rp 100 ribu, hingga Rp 1 juta. Yang terjadi, antrean panjang ada di depan peron pembelian kartu single trip. Pemilik kartu multi trips bisa melenggang memasuki ruang tunggu kereta.

Rangkul Perbankan

“Nantinya, kartu MT itu bisa dipakai sebagai kartu bayar untuk keperluan lainnya, jadi ini akan semakin mudah bagi penumpang untuk naik kereta,” kata Direktur Komersial PT KCJ Makmur Syaheran kepada Neraca belum lama ini.

Makmur menjelaskan, saat ini pihaknya telah menjalin kerjasama dengan lima bank pemerintah yaitu BRI, Mandiri, BNI, Bank Bank BTN, dan Bank Mutiara serta satu bank swasta yaitu Bank Mega untuk menyiapkan kartu parabayar yang bisa diterapkan sebagai kartu MT untuk membayar ongkos naik kereta listrik. Jadi, selain untuk membayar tiket KRL, kartu prabayar itu juga bisa untuk transaksi atau berbelanja di minimarket atau super market.

Tiket elektronis sebelumnya sudah diterapkan oleh Unit Pengelola (UP) Transjakarta. Polanya sama, single trip dan multi trips. Kartu itu diterbitkan oleh sejumlah bank, termasuk di antaranya Jak-Card dari Bank DKI, Flazz dari BCA, E-Toll Mandiri dan Brizzi dari BRI. Jika demikian, e-ticket bus Transjakarta dapat dipakai untuk bayar tiket kereta commuter line Jabodetabek. Namun, untuk mengantisipasi kendala listrik, UP Transjakarta masih tetap menyediakan tiket kertas.

Kendala Kenyamanan

Yang masih dirasakan penumpang adalah aspek kenyamanan. Saat ini, naik KRL pada jam sibuk membutuhkan perjuangan luar biasa. Penumpang berjubel-jubel hingga di depan pintu masuk kereta. Akibatnya penumpang susah keluar apalagi masuk gerbong pada jam-jam tersebut. “Yang masih belum nyaman adalah jumlah kereta yang terbatas dan fasilitas kereta, termasuk seringnya AC bermasalah,” kata Koordinator Aspirasi Penumpang Kereta (Aspeka) Ahmad Syafrudin.

Menurut dia, harga tiket yang murah jangan jadi alasan bagi KCJ untuk menafikan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan minimum (SPM). Puput, sapaan Syafrudin, mengakui ada progress bagi upaya meningkatkan pelayanan. “Namun masih belum sempurna 100%, termasuk menambah gerbong untuk mengurangi penumpukan kereta, dan akses menuju stasiun,” kata dia.

Puput menambahkan, diperlukan koordinasi dengan pemerintah daerah operasi KRL. Hal itu dibutuhkan untuk mengurangi perlintasan sebidang rel dan jalan raya yang berpotensi menyebabkan kemacetanluar biasa jika volume perjalanan kereta diperbanyak. (saksono)

Related posts