Dana Asing Kembali Masuk Pasar Modal - Sentimen Positif BI Rate

NERACA

Jakarta- Kenaikan acuan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin dari sebelumnya 6% menjadi 6,5%, diyakini bakal menarik dana asing kembali masuk ke pasar modal. Alasannya, kondisi ini akan memberikan sentimen positif karena menawarkan return tinggi.

Kata analis dari Recapital Securities, Agustini Hamid, aliran dana asing diperkirakan kembali masuk ke pasar modal domestik menyusul kenaikan BI rate, “Saat ini Indonesia merupakan satu-satunya negara yang menaikkan suku bunga di tengah kondisi ekonomi dunia sedang melambat. Hal itu akan mendorong aliran dana investor asing kembali ke pasar modal Indonesia di semester II,”ujarnya di Jakarta, Rabu (17/7).

Menurutnya, peluang dana investor asing kembali ke pasar modal Indonesia cukup besar karena sampai saat ini suku bunga di AS hanya sebesar 0,25%. Kebijakan BI menaikan suku bunga selain meredam kenaikan inflasi juga untuk menarik investor asing agar tetap menginvestasikan dananya di Indonesia.

Apalagi, lanjut dia, jika program stimulus ekonomi AS diputuskan untuk diperpanjang oleh The Fed maka dana asing akan kembali ke dalam negeri dan meningkat mencapai level 5.000 poin. Oleh karena itu, dirinya tetap optimis indeks harga saham gabungan (IHSG) masih dapat mencapai level diatas 5.000 poin dengan ditopang oleh penguatan saham-saham di sektor infrastruktur, konstruksi bangunan, industri dasar khususnya sub sektor semen, konsumsi, perbankan dan pembiayaan.

Sementara Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menambahkan, dalam empat hari perdagangan terakhir, dana investor asing mulai kembali masuk ke pasar modal Indonesia meski belum signifikan.

Hal itu dikarenakan bahwa sentimen eksternal lebih berperan dibandingkan dalam negeri, “Apalagi The Fed akan memberikan testimoninya, diharapakan terlihat arah dari kebijakan The Fed untuk semester kedua 2013 nanti positif bagi pasar,\"ungkapnya.

Satrio menyarankan dalam beberapa hari ke depan investor dapat mengoleksi saham-saham sektor perbankan, konsumer dan sub sektor konstruksi bangunan. Strategi investasinya adalah akumulasi ketika harga sahamnya sedang melemah (buy on weakness).

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pernah bilang, kenaikan BI Rate yang terlalu besar dalam satu kali kebijakan tidak serta merta berdampak positif pada perkembangan pasar. Pasalnya, pelaku pasar sebelumnya mengekspektasikan BI tidak akan menaikkan suku bunga acuannya hingga 50 basis point menjadi 6,5%, “Sementara waktu menjadi bearish bagi IHSG karena pelaku pasar mengharapkan BI Rate naik hanya 25 basis poin,”tuturnya.

Hal senada juga disampaikan analis Trust Securietis, Reza Priyambada, meningkatnya BI rate secara signifikan akan mempengaruhi kenaikan suku bunga perbankan secara umum sehingga dapat menambah sentimen negatif terjadinya penurunan laju kredit nasional. Karena itu, diharapkan perbankan tidak gegabah dalam mengubah suku bunganya, “Kalau sektor perbankan mulai turun maka akan merembet ke sektor yang lain.” ujarnya.

Misalnya untuk emiten yang menerbitkan obligasi dan emiten yang mengajukan kredit ke perbankan karena bunga obligasi yang diterbitkan juga dapat mengalami kenaikan sehingga investor lebih bersikap wait and see. (bani)

Related posts