Batik Indonesia Laris Manis di Amerika - Nilai Ekspor Kian Melejit

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami menyatakan bahwa sejak ditetapkan Batik sebagai warisan budaya Indonesia tak benda pada tahun 2009, geliat batik di pasar luar negeri semakin berjaya. Meskipun mempunyai tandingan seperti batik dari Malaysia ataupun batik dari Negeria, namun batik itu dikenal dari Indonesia. \"Ekspor batik ke mancanegara cukup besar atau 10% dari total ekspor tekstil yang mencapai US$ 12 miliar pada tahun lalu,\" ungkapnya di Jakarta, Rabu (17/7).

Dia mengaku, total nilai ekspor batik sampai dengan akhir 2012 menembus US$278 juta atau melonjak tajak dibanding tahun sebelumnya mencapai US$5,88 juta. \"Sedangkan dari periode Januari-Maret 2013, nilai ekspor batik sebesar US$50,07 juta. Jumlah ini juga meningkat dari periode yang sama 2012 sebesar US$42,26 juta,\" paparnya.

Gusmardi merinci, Amerika Serikat (AS) sebagai negara tujuan ekspor menyumbang kontribusi terbesar dari total penjualan ke luar negeri di kuartal I 2013 menjadi US$21,18 juta dari kuartal I tahun lalu sebesar US$17,46 juta. \"Negara ekspor batik kedua terbesar adalah Jerman dengan nilai penjualan dari US$2,68 juta menjadi US$4,52 juta. Sedangkan Korea Selatan berada di urutan ketiga dengan nilai ekspor US$3,94 juta sampai akhir Maret ini dari periode sama 2012 sebesar US$1,8 juta,\" tukasnya.

Menurut dia, dengan konsisten menggunakan batik dalam kegiatan formal maupun informal akan mendorong pertumbuhan jumlah permintaan batik sehingga memberikan dampak positif terhadap nilai perdagangan batik. Lebih lanjut diungkapkan Gusmardi, pagelaran Gelar Batik nasional (GBN) yang juga menampilkan perkembangan dan keragaman batik nusantara dari berbagai zaman, tentang keindahan dan keunikan corak, tema, bahkan pakem batik-batik Jawa dari Pekalongan, Semarang, Rembang, Lasem, Kudus, dan Solo. Zona ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai Batik Indonesia.

GBN 2013 merupakan pameran batik tingkat nasional yang diadakan setiap dua tahun sekali yang dirancang untuk menjadi ikon dalam perkembangan batik di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi sarana dalam pengembangan aplikasi batik selain pada fesyen. Penyelenggaraan GBN tahun ini diikuti oleh lebih dari 350 pengrajin batik dan dihadiri oleh masyarakat pecinta batik dari berbagai kalangan.

Daya Saing

Lebih lanjut Dirjen Gusmardi mengatakan bahwa penyelenggaraan Gelar Batik Nusantara memiliki peran strategis untuk meningkatkan daya saing Indonesia dengan berpijak pada keragaman warisan budaya dan kearifan tradisional. Perhelatan ini diharapkan dapat menumbuhkan perhatian dan minat masyarakat terhadap produk budaya Indonesia. \"Khususnya batik yang merupakan salah satu warisan budaya yang dapat mencerminkan kekayaan bangsa Indonesia,\" lanjutnya.

Indonesia akan mendapatkan lawan yang tangguh dalam hal perdagangan batik di pasar luar negeri. Pasalnya, Pemerintah Malaysia sedang mempersiapkan strategi agar batik dari Malaysia bisa mendunia. Menteri Perdagangan dan Industri Malaysia, Datuk Seri Mustapa Mohamed segera mengadakan pertemuan khusus dengan Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Rais Yatim untuk berdiskusi mengenai industri batik.

Pemerintah Malaysia menyatakan komitmennya untuk mengembangkan batik secara besar-besaran dengan memberi perhatian penuh. \"Industri batik memerlukan perhatian serius dan perlu strategi perencanaan pengembangan hingga tahun 2020,\" jelas Mustapa seperti dilansir dari Bernama.

Menurut Mustapa, isu-isu seperti harga bahan baku seperti kain putih polos, warna, dan bahan kimia serta strategi pemasaran dan masalah lingkungan hidup akan diberikan perhatian sepenuhnya. \"Kami menyadari bahwa ekspor batik kita menguap di sekitar 160 juta ringgit setiap tahunnya, karena persaingan yang ketat dari negara penghasil batik lainnya,\" tambahnya.

Malaysia memiliki 400 perusahaan manufaktur produsen batik di Kelantan. Tetapi hanya 150 yang cukup aktif. Pemerintah Malaysia khawatir jika masalah industri batik tidak didorong dan diseriusi, maka akan menjadi penurunan industri yang membuat produsen gulung tikar.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan ekspor batik pada tahun 2013 ditargetkan bisa menembus angka lebih dari US$1 miliar. Dirinya yakin bahwa target tersebut bisa dicapai , jika para pengusaha batik sering mengadakan pameran secara international di berbagai negara.

Hatta menambahkan untuk mempermudah para pengrajin batik untuk bisa mendapatkan modal melalui kredit usaha rakyat (KUR) dan menjembatani pengrajin di perbankan nasional. Selain itu dirinya mengajak kalangan swasta untuk ikut mengambangkan batikyang telah menjadi budaya indonesia selama ratusan tahun.

Related posts