Puasa Membawa Kedamaian - Oleh: Mariyadi Faqih, Doktor Ilmu Hukum di PPS Unibraw

Bangsa kita tengah menjadi bangsa yang sakit secara mental dan spiritual. Namun, jangan takut penyakit ini bisa disembuhkan dengan puasa ramadhan. Jika penyakit ini tidak diupayakan penyembuhannya, maka konstruksi bangsa ini akan kian rapuh. Pasalnya, di antara kita akan berlomba untuk saling menciptakan penyakit untuk sesama.

Jauh hari, kriminolog yang juga ketua Komisi Hukum Nasional JE Sahetapy mempertanyakan mengapa bangsa yang berbudaya, berbudi luhur, ramah tamah, sopan santun, religius, tolong menolong, dan gotong royong, ini berubah menjadi bangsa yang homo homini lupus, anarkis, kejam, brutal dalam hampir seluruh bidang kehidupan, dan strata sosial masyarakat.

Ungkapan yang menggugat potret bangsa seperti itu, logis dan empirik. Pasalnya kejahatan di tengah masyarakat ini berelasi dengan penyakit mental. Terorisme, sadisme, dan pembunuhan terencana, misalnya masih menghiasai bangunan keindonesiaan. Di suatu masyarakat yang kelihatan tenang, damai, toleran, kooperatif, dan menganggukkan kepala atau bertegur sapa ketika bertemu, tiba-tiba dikejutkan oleh berbagai kejahatan berkategori istimewa (exstra ordinary crime). Yaitu, kejahatan yang sangat tidak pantas diperbuat oleh elemen masyarakat Indonesia yang disebut, the biggest moeslem community in the world.

Singkatnya, sadisme menjadi \\\"penyelesaian\\\" terhadap suatu yang masalah dianggap luar biasa oleh pelakunya. Kejahatan sudah mematikan rasa kemanusiaan dan keadilan. Kekerasan yang mengakibatkan nyawa manusia lain melayang adalah bagian dari sadisme itu sendiri. Sedang manusia yang jadi pelakunya ini pantas diposisikan sebagai sosok yang gagal memenangkan kesabaran, mengunggulkan empati, dan \\\"mempanglimakan\\\" relasi sosial berbasis humanitas. Kegagalan ini membuatnya beridentitas sebagai manusia yang kalah.

Puasa Ramadhan yang dijalani oleh masyarakat muslim merupakan opsi yang bisa mengembalikan derajat kemanusiaan dalam strata keagungannya. Pasalnya, manusia yang semestinya akan terjerumus dalam kekalahan, menjadi pengabdi kemarahan dan kebinatangan diri, akan diselamatkan hingga dirinya tetap menjadi pemenang atau memiliki \\\"pribadi yang cerdas\\\", mampu keluar dari belitan kecenderungan berlaku apa yang disebut Thomas Hobbbes, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lain).

Ivan Illich pernah mengingatkan, bahwa problem utama masyarakat modern adalah stres kehidupan, ketidak-puasan, ketidak-bahagiaan, kerakusan, kecemasan terhadap nilai-nilai, maraknya penyimpangan, kelainan jiwa dan kehilangan kontrol diri. Problem ini dapat menyeret manusia menjadi pemarah, pendendam, dan bahkan pembunuh, jika saja di dalam dirinya tidak ada kekuatan spiritualitas yang mengairi dan membeningkan nuraninya. Peringatan itu menunjukkan, bahwa di tengah masyarakat kita ini tidak sedikit individu yang berkeliaran dengan kondisi kejiwaan yang sarat beragam penyakit. Jika penyakit ini dilampiaskan akan mengancam ketahanan dan kelangsungan hidup bermasyarakat. Bukan hanya kekacauan (chaos) dan kekerasan (violence) yang diniscayakan terjadi dan menjadi booming, tetapi praktik-praktik ketidak-adababan berlapis yang bermodus exstra ordinary crime dimungkinkan akan membingkai dan membudaya.

Kalau kita percaya, bahwa agama itu merupakan suatu kanopi suci (canopy of sacre). Maka kewajiban berpuasa yang sudah digariskan oleh syari\\\'at ini, tepat untuk dijadikan sebagai opsi penyelamatan manusia dan peradabannya. Di dalam kewajiban ini, terkandung hikmah, bahwa setiap muslim yang berpuasa akan menuai ketenangan bathin, terdidik dalam kearifan, hidup dalam solidaritas berbingkai kesantunan, dan tidak terjerumus dalam pengemasan \\\"tangan-tangan kotor\\\" (the dirty hands) yang mengakibatkan sesama menjadi korban.

Puasa mampu meneguhkan atau meng-istiqamah-kan prinsip bagi manusia yang menjalaninya untuk memproduk aktivitas duniawi yang berbobot, pengayoman atau perlindungan universal atas hak kehidupan manusia lainnya. Pasalnya, dirinya terdidik atau terbimbing memiliki dan mempertahankan pribadi yang puritan, dididik pintar mengendalikan emosi, memenangkan kesabaran, memanusiakan hak-hak keselamatan dan kedamaian orang lain, dan mengalahkan kecenderungan-kecenderungan berlaku destruksi masif. Selain itu, kondisi psikologis manusia yang berpuasa juga akan menuai ketenangan dan kestabilan. Dengan kondisi ini, masyarakat tidak perlu lagi merasa takut terhadap kemungkinan ancaman sadisme. Ancaman kejahatan berat ini hanya akan tetap rawan membayani masyarakat dan negara yang manusia-manusianya gagal menyembuhkan dahaga kejiwaannya. Sebaliknya, sadisme tidak akan kerap terjadi bilamana kejiwaan manusia berada dalam ketenangannya.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan, \\\"aku melihat salah seorang dari umatku terengah-engah kehausan, setiap kali ia tiba di suatu kolam air, ia tidak dapat mencapainya, kemudian puasa Ramadhan datang padanya, sehingga memberinya air minum dan melepaskan dahaganya.\\\" Hadits ini mengingatkan, bahwa kehadiran Ramadhan akan menjadi rahmat yang demikian besar dalam mengisi kehausan dan kegersangan batin manusia Indonesia. Manusia akan banyak menuai keselamatan dan kebahagian dengan menjalankan puasa. Kehancuran tatanan akibat sadisme tidak akan menyapa kehidupan manusia yang memperoleh rahmat puasa. Tentu saja rahmat ini bisa diperoleh bilamana batinnya \\\"cerdas\\\" membaca hak-hak fundamental masyarakat.

Kehinaan juga tidak perlu menimpa bangsa ini jika manusia-manusianya mampu menyejarahkan makna humanistik dan esoteris puasa yang dijalani, dengan pembuktian kalau dirinya berstigma khalifah fil-arld yang bertugas mengalahkan sadisme individual, kolektif, dan struktural demi memenangkan terwujudnya atmosfir kedamaian dan kebahagiaan universal di tengah masyarakat. (haluankepri.com)

Related posts