free hit counter

Kontroversi Bandar Udara Internasional Kuala Namu

Oleh: Erwin F. Sirait S.Pd, Pemerhati Sosial

Kamis, 18/07/2013

Mungkin kita semua sudah mengetahui bahwa bandar udara internasional Kuala Namu akan segera menerima tamu perdananya saat uji coba (soft operation) pada 25 Juli 2013. Banyak kontroversi terjadi pada pembangunan bandar udara internasional Kuala Namu ini, mulai dari nama bandara yang jadi sumber keributan para anggota dewan, pengoperasiannya yang molor karena tidak sesuai dengan rencana awal yaitu Maret-April 2013, pemindahan para pedagang buku dari lapangan merdeka ke tempat yang dinilai kurang tepat, kesiapan kereta api sebagai transportasi menuju dan dari bandara yang masih setengah hati, hingga akhirnya kesiapan jalan tol ataupun arteri menuju dan dari bandara yang masih carut-marut karena belum sepenuhnya pemberian ganti rugi tanah rakyat untuk pembangunan jalan tol dan jalan arteri. 

Setelah membaca beberapa masalah pembangunan bandar udara internasional Kuala Namu, Penulis merasa, kita sebagai masyarakat Medan tentunya patut merasa malu karana keruwetan masalah pembangunan bandar udara internasional Kuala Namu. Di sana-sini banyak kekurangan, kemoloran waktu, ketidaksiapan sarana dan prasarana pendukung. 

Padahal, bandar udara internasional Polonia Medan sudah sangat tidak layak dan sudah melebihi kapasitas penerbangannya, baik rute penerbangan domestik (dalam negeri), maupun rute penerbangan internasional. Jika tidak segera dipindahkan, maka ditakutkan kejadian yang menimpa pesawat Mandala Airlines pada september 2005 silam yang telah jatuh di daerah pemukiman padat penduduk yaitu di jalan Padang Bulan dan yang telah merenggut nyawa Gubernur Sumatera Utara yaitu Tengku Rizal Nurdin akan terjadi lagi. 

Sebagai salah satu pintu gerbang utama untuk masuk ke Sumatera Utara, sudah sepantasnya para pihak terkait mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat dan tepat. Sungguh sangat tidak pantas atau memalukan apabila kemoloran kesiapan pembangunan bandar udara internasional Kuala Namu bisa terjadi. Alangkah lebih bijaksananya jika pembangunannya bisa tepat waktu sehingga tidak mengecewakan semua pihak pada umumnya dan masyarakat Sumatera Utara khususnya. 

Namun kenyataannya saat ini masyarakat Sumatera Utara sudah merasa kecewa dan malu karena kemoloran dan berbagai masalah pembangunan bandar udara internasional Kuala Namu. Apa mungkin dalam pembangunan bandar udara internasional Kuala Namu menerapkan prinsip alon-alon asal kelakon? Sebuah prinsip masyarakat Jawa yang artinya pelan-pelan yang penting selamat. Pertanyaannya sekarang apanya yang selamat? Kantong pribadi? Koorporasi? Atau Kelompok?Next