Ramadhan, Bulan Pendidikan

Demi mencerdaskan rakyat, pendidikan nasional yang diamanahkan oleh UUD RI Tahun 1945 sesungguhnya dapat terwujud dengan mengintegrasikan nilai-nilai Ramadhan.

NERACA

Sejak ditetapkannya awal Ramadhan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama yang jatuh pada hari Rabu (10/07) dalam Sidang Itsbat Awal Ramadlan di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin 8 Juli lalu, kurang lebih sudah 11 hari umat Islam bersama bulan penuh berkah, Ramadhan 1434 H atau bersamaan dengan 2013 M. Lalu apa yang dapat dipetik dari kehadiran bulan Ramadhan ini?

Dalam hal mencerdaskan rakyat, Indonesia diminta mencontoh keberhasilan Islam melahirkan tokoh-tokoh besar yang berlandaskan agama. Diantaranya Jabir bin Hayyan, ahli kimia yang menemukan ilmu perbandingan tetap, Abu Bakar Ar Razi, pelopor dalam bidang klinik kedokteran dan orang yang pertama kali melakukan eksprimen pengobatan kepada hewan sebelum dipraktikkan kepada manusia, Al Haitami, Abdurahman Hawqal, Al Farabi, dan masih banyak lagi tokoh muslim terkemuka lainnya.

Hal ini sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berakar dari nilai-nilai agama. Sedangkan Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis, serta bertanggung jawab.

Tanggung jawab utama dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai ini ada di pundak pemerintah sesuai amanat Pasal 31 Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 yang menyebutkan, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj menuturkan, pendidikan adalah hak rakyat dan pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya. Menjalankan pendidikan yang baik bagi masyarakat dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan berkah bulan Ramadhan. Dengan mengedepankan perbuatan yang baik, hindari perbuatan saling hasut, iri dengki dan sombong.

“Jangan sampai bangsa ini menjadi bodoh. Pendidikan adalah hak rakyat, dan pemerintah memang wajib menyelenggarakan pendidikan sebaik-baiknya,” kata dia.

Tidak diragukan lagi bahwa Ramadhan memberikan manfaat yang besar bagi manusia baik dilihat dari aspek kesehatan, spiritual, maupun aspek sosial. Bagaikan madrasah besar bagi setiap insan untuk mau belajar dan terus memperbaiki diri, Ramadhan menempa diri dengan ilmu, amal, dan keinginan untuk selalu berbuat yang terbaik.

Banyak nilai ataupun manfaat yang dapat dipetik dalam bulan Ramadhan. Pasalnya, nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam bulan suci ini sangatlah banyak dan luas. Terlebih lagi dalam hal mengembangkan nilai-nilai karakter, dimana inti dari permasalahan bangsa yang sedang melanda Indonesia kini berakar pada karakter manusianya. Karakter-karakter baik yang terbentuk dari momentum Ramadhan kemudian akan membentuk perilaku masyarakat yang baik pula.

Seperti yang disampaikan oleh Ustadz Imam Syafi’i dalam acara Nada dan Dakwah yang diselenggarakan oleh takmir masjid Anwarur Rasyid pada Senin lalu. Menurut dia, bulan Ramadhan dengan kewajiban berpuasa dimaknai sebagai bulan pendidikan multidimensi. “Puasa itu mendidik kedisiplinan dan jiwa sosial,” kata dia.

Sebagai bulan diwajibkannya berpuasa, maka kedisiplinan melaksanakan puasa dengan jujur dan ikhlas, akan mendidik orang yang berpuasa itu untuk jujur dan ikhlas juga dalam kehidupan sehari-harinya. Tentu saja sifat jujur dan ikhlas akan sangat berguna untuk anak itu sendiri dan pada akhirnya akan meningkatkan kepedulian sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Jika seorang insan telah jujur dan ikhlas dalam puasanya, maka buahnya dia akan terlatih untuk selalu ikhlas dalam setiap amal ibadahnya termasuk ketika ia menjalankan tugas.

Selain itu, bulan Ramadhan mengajarkan agar peduli pada orang lain yang lemah. Di bulan Ramadhan seseorang puasa, merasakan lapar dan dahaga, mengingatkan betapa sedihnya nasib orang yang tidak berpunya, orang terlantar, anak yatim yang tiada orang tuanya, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak. Disinilah sikap peduli untuk membantu saudara-saudara yang tak berkecukupan timbul. Baik karena kondisi ekonomi, disebabkan bencana Alam, dan lain sebagainya.

Related posts