Pemilu Beri Stimulus Pertumbuhan Ekonomi 0,2%

NERACA

Jakarta - Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan memperkirakan Pemilu 2014 bisa memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2%. \"Karena dana Pemilu 2014 keluar dari empat tahun sebelumnya ditambah pemilu sampai tiga tahap, dana yang disalurkan lebih besar,\" katanya di Jakarta, Selasa (16/7).

Dengan perkiraan kenaikan 0,2%, Fauzi mengatakan pertumbuhan ekonomi bisa naik pada kisaran 6,2%-6,3%, apalagi ditambah infrastruktur. \"Tergantung besaran dana pemilunya, tapi kembali lagi kalau pertumbuhan ekonominya naik terlalu pesat, defisit neraca transaksi berjalan juga melebar,\" ungkap dia.

Namun, dia menilai pertumbuhan ekonomi seharusnya di bawah enam persen agar tidak terlalu berdampak negatif pada neraca transaksi berjalan. Menurut Fauzi, cara untuk menekan defisit neraca transaksi berjalan adalah menaikkan suku bunga BI agar rupiah semakin menarik investor dibanding dolar AS.

Selain itu, menaikkan suku bunga BI bisa menyeimbangkan aliran dana masuk ke dalam negeri (inflow) setelah sebelumnya mengalami capital outflow senilai US$4 miliar.

\"Sebetulnya, kalau pertumbuhan ekonominya 5,8%-6% tidak buruk karena pertumbuhan perekonomian global juga 2,3%-2,4%,\" jelas Fauzi. Dia juga mengatakan agar terjadi capital inflow, kurs rupiah-dolar AS harus stabil terlebih dahulu.

\"Kalau stabil, otomatis valuasi-valuasi fundamental menjadi relevan BI rasio di pasar saham, imbal hasil di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan inflasi hitungannya lebih mudah bagi investor,\" katanya.

Namun, jika rupiah melemah, dia menjelaskan investor akan sulit masuk ke pasar modal.

\"Kita ingat banyak sekali investor yang sudah menjual saham dan SBN, tetapi mereka belum membeli dolar AS, mereka masih \'parkir\' di rekening rupiah dalam negeri,\" katanya.

Fauzi memperkirakan rupiah bisa melemah antara Rp10.00-Rp.10.200 per dolar AS, namun akan kembali \"rebound\" pada triwulan IV 2013.

\"Ini terjadi karena neraca transaksi berjalan sudah defisiti secara struktural bukan lagi siklikal, kedua dolar AS menguat di pasar valas global dan imbal hasil (yield) Amerika bukan dua persenan lagi, tapi sekarang sudah tiga persen,\" katanya.

Dia mengaku khawatir neraca modal tidak bisa menutupi defisit neraca transaksi berjalan yang mencapai US$25 miliar.

\"Untuk tahun ini, kalau rupiahnya terus melemah gak akan cukup untuk menutupi defisit neraca transaksi berjalan,\" katanya. [ardi]

Related posts