PLN Siap Gunakan Teknologi Nuklir

NERACA

Jakarta - PT PLN (Persero) menyatakan kesiapannya untuk memanfaatkan tenaga nuklir dalam mempersiapkan ketahanan energi dimasa depan. Hal tersebut seperti yang diungkapkan Direktur Utama PLN Nur Pamudji di Jakarta, Selasa (16/7). Namun begitu, pihaknya masih menunggu aba-aba dari pemerintah untuk membeli listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

\"Saat ini PLN sudah siap secara teknis menyalurkan listrik yang berasal dari teknologi nuklir, namun hal tersebut kembali lagi ke Pemerintah yang mengatur penggunaan energi tersebut,\" ungkap Nur. Nur menambahkan, sambil menunggu lampu hijau dari Pemerintah, pihaknya sudah dari terlebih dulu menyiapkan teknologi nuklir apabila sudah mendapat persetujuan. \"Kita juga punya beberapa orang dipersiapkan menangani nuklir tapi go atau no go bendera startnya dari pemerintah, tapi kita siap saja,\" jelas Nur.

Kendati demikian, menurut Nur saat ini masyarakat Indonesia masih belum menerima teknologi nuklir dengan alasan bahaya yang tinggi, karena itu perlu adanya sosialisasi secara intensif. \"Itu tidak mudah hanya bisa dilakukan melalui survei, sosialisasi, wawancara, PLN enggak bisa melakukan sendiri, namun mungkin bisa dibantu dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan),\" tandas Nur.

Sebelumnya, Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi M.A.M Oktaufik mengatakan Indonesia baru akan memiliki listrik dari tenaga nuklir pada 2028. Pada saat itu, diperkirakan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sudah mencapai 2 Gigawatt dan pada 2030 sudah memiliki kapasitas terpasang 4 Gigawatt.

Okta mengatakan, pembangunan PLTN tidak mungkin dalam waktu dekat karena faktor politik. Menurutnya, perencanaan PLTN baru mungkin dilakukan setelah pemilihan umum 2014. \"Harus menunggu Pemilu lagi, kemudian pembangunan perlu waktu sekitar 10 tahun. Mungkin teknologi baru bisa dibangun dalam 5 sampai 8 tahun,\" kata Okta.

Okta menerangkan, salah satu faktor kunci yang bisa mendorong pembangunan PLTN adalah jika pengembangan energi baru dan terbarukan kurang berkembang meskipun feed in tariff sudah diberikan. Okta menilai energi nuklir adalah sumber energi yang besar dan andal untuk listrik. \"Kalau investasi di bidang energi baru lambat, maka akan ada krisis. Nuklir harus masuk karena dia paling cepat dan paling andal, sementara energi seperti angin atau matahari kurang stabil,\" katanya.

Okta mengatakan pada saat itu harga listrik dari nuklir akan bersaing dengan listrik dari sumber energi lain, termasuk BBM. Pasalnya pada 2025 diperkirakan harga minyak sudah mencapai US$ 200 per barel. Namun, ia belum bisa menggambarkan berapa besar investasi yang dibutuhkan untuk PLTN.

Okta menjelaskan saat ini menurut hitungan BPPT, skala keekonomian PLTN 1000 Megawatt per unit. Namun Okta menekankan bahwa angka ini bisa berubah sesuai dengan perkembangan teknologi. Okta mengatakan saat ini beberapa kajian mengenai lokasi pembangkit tenaga nuklir sudah dikaji oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Beberapa lokasi yang dipertimbangkan misalnya di Bangka dan Kalimantan.

Untuk menggarap PLTN ini, kata Okta, Indonesia tidak akan bisa lepas dari kerja sama dengan asing. Soalnya, urusan pengembangan nuklir ini akan menjadi perhatian internasional dan harus dikembangkan bersama karena terkait dengan keamanan. \"Kalau nuklir pasti kerja sama internasional dan ada perjanjian untuk tidak membuat senjata. Masalah keamanan untuk nuklir diawasi oleh sedunia, bukan cuma negara, karena kalau bocor itu yang terpengaruh bumi,\" ujarnya.

Saat ini menurutnya di dunia terus mengembangkan teknologi nuklir yang lebih aman. \"Teknologi generasi ke empat, high temperature reactor, di beberapa negara udah mulai, jadi kalau ada kebocoran sistemnya langsung dimampatkan. Bukan bocor segala macam, jadi sistemnya mematikan diri sendiri,\" kata Okta.

Ditakuti Masyarakat

Sementara itu, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto masih memimpikan Indonesia dapat menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) disetiap lini usaha yang ada. Pasalnya saat ini penggunaan nuklir di Indonesia masih sangat minim. \"Ke depan, pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi mimpi kami. Ini menjadi otoritas dari kebijakan energi. Kita juga nggak ingin terjebak dari PLTN saja,\" tuturnya.

Seperti diketahui Batan merupakan lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir. Lahir pada 1958, Batan hanya melaksanakan kegiatan yang bermaksud damai dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan manusia. \"Saat ini Kita mempunyai reaktor riset di Serpong. Yang kedua dalam bidang pangan untuk menghasilkan 20 variates padi,\" kata Djarot.

Djarot juga menambahkan bahwa tenaga nuklir sangat bermanfaat sebagai alternatif energi apabila dibangun PLTN di Indonesia. \"Tenaga nuklir tenaga besar, tidak praktis untuk motor atau mobil, kecuali untuk kapal selam, di negara lain bisa (kapal selam itu) dengan persenjataan nuklir. Energi nuklir memberikan daya yg besar untuk waktu yang lama,\" jelasnya.

Related posts