Lumbung Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Eko Listiyanto

Peneliti Indef

Seiring koreksi penurunan atas target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013, urgensi untuk mengamankan lumbung pertumbuhan menjadi tugas yang tidak terelakkan oleh pemerintah. Serangkaian kebijakan ekonomi yang pro growth perlu segera diimplementasikan untuk mencegah tingkat koreksi pertumbuhan yang lebih dalam. Pada tahun ini, pemerintah merevisi target pertumbuhan ekonomi dari 6,8% menjadi 6,3% seperti yang sudah tertuang dalam asumsi makro APBN-P 2013.

Senada dengan pemerintah, beberapa lembaga ekonomi baik internasional maupun nasional juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2013 dengan tingkat koreksi yang lebih dalam. Bank Dunia belum lama ini mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 6,3% menjadi 5,9%. Asian Development Bank (ADB) menurunkan dari 6,4% menjadi 6,1%-6,2%. Sementara di level nasional, Bank Indonesia (BI) juga merevisi proyeksinya dari 5,9%-6,3% menjadi 5,8%-6,2%.

Koreksi terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi ini sejatinya merupakan sinyal bagi pembuat kebijakan untuk segera melakukan langkah strategis guna mengamankan target yang sudah ditetapkan. Revisi angka proyeksi dari beberapa lembaga tersebut juga menyiratkan bahwa pemerintah harus lebih bekerja keras dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi meskipun target sudah diturunkan.

Berkaca pada capaian di triwulan I-2013, secara sektoral lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi Indonesia dikontribusikan oleh tiga sektor, yaitu industri pengolahan (23,59%); pertanian (15,04%); serta perdagangan, hotel dan restoran (14,11%). Sementara dari sisi pengeluaran, kontribusi konsumsi rumah tangga masih merupakan yang utama (55,64%), disusul investasi (32%). Ini berarti untuk menjaga pertumbuhan, sektor industri pengolahan dan pertanian harus \"diamankan\". Selain itu, upaya menjadikan investasi sebagai basis pertumbuhan juga harus dilakukan.

Berbagai upaya mitigasi diperlukan agar lumbung pertumbuhan ekonomi tidak terkoreksi lebih dalam. Pertama, untuk menjaga agar kontribusi konsumsi rumah tangga tidak tergerus maka perlu mengendalikan inflasi, yaitu dengan memperlancar arus distribusi barang dan jasa. Terhambatnya distribusi sering menjadi pemicu melonjaknya inflasi.

Kedua, kebijakan optimalisasi investasi harus dipertahankan. Daya beli masyarakat tidak datang dari langit, upaya mendorong masyarakat untuk terus berproduksilah yang dapat menjamin daya beli tetap tinggi.

Ketiga, menjaga ketersediaan energi terutama bagi sektor industri. Fluktuasi harga energi yang cenderung meningkat, disertai dengan relatif terbatasnya pasokan energi untuk mendukung tumbuh-kembang industri membuat urgensi menjamin ketersediaan energi merupakan bagian penting dari upaya memacu investasi.

Keempat, mencegah lumbung investasi agar tidak digerogoti oleh buruknya layanan birokrasi dan korupsi. Tiga faktor utama penyebab rendahnya daya saing ekonomi Indonesia adalah buruknya layanan birokrasi, korupsi, dan ketidakcukupan infrastruktur. Ketiga penghambat ini harus diperbaiki untuk meningkatkan daya saing ekonomi. Dengan berbagai upaya pembenahan ini, diharapkan lumbung pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin aman, di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Related posts