Exploitasi Energi Optimis Daya Serap Investor - Rencana Penerbitan Global Bond

NERACA

Jakarta - Kenaikan imbal hasil (yield) di pasar surat utang tak menyurutkan niat PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) untuk menerbitkan obligasi global di semester kedua 2013. Produsen batubara ini tetap optimis terhadap daya serap investor atas rencana penerbitan obligasi perseroan bernilai emisi sekitar US$500 juta-US$1 miliar tersebut.

Presiden Direktur CNKO, Henry H. Sitanggang mengatakan, ada dua alasan pihaknya berencana menerbitkan obligasi global karena daya serap investor masih besar, “Masih tingg daya serap investor asing yang masih positif terhadap surat utang korporasi dari Indonesia menjadi keyakinan perseroan untuk tetap terbitkan obligasi, “ujarnya di Jakarta kemarin.

Kemudian pengurangan stimulus ekonomi (quantitative easing) Amerika Serikat di kuartal ketiga 2013, juga dinilai tidak mempengaruhi daya serap investor, khususnya terhadap obligasi yang akan diterbitkan perseroan, “Obligasi yang kami terbitkan ini untuk pembangunan infrastruktur, yakni pembangkit listrik atau powerplant,”tandasnya.

Sedangkan penyerapan investor ke pasar surat utang yang digunakan untuk pembiayaan proyek infrastruktur masih tinggi. Makanya perseroan optimis ddaya serap investor pasti masih baik.

Alasan lain terbitkan obligasi adalah, terkait barang modal untuk pembangunan pembangkit listrik yang didapatkan dari impor dan menggunakan denominasi Dolar AS. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, kenaikan inflasi domestik serta naiknya suku bunga acuan perbankan Bank Indonesia (BI rate) dinilai Henry bukanlah alasan yang menyebabkan perseroan lebih memilih menerbitkan obligasi di pasar global ketimbang di pasar domestik., “Saat ini kami bersama dengan pihak konsultan sedang mengkaji rencana ini. Kami belum bicara mengenai angka (nilai emisinya), jadi sebenarnya nilai emisinya belum pernah kami putuskan,”tegasnya.

Sebagai informasi, rencananya obligasi global ini akan diterbitkan di bursa efek salah satu negara di kawasan Asia Tenggara dan tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kabarnya, dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 2x300 MW senilai US$1,2 miliar yang akan dilakukan secara konsorsium dengan mitra bisnis perseroan asal China, Quadiant. (bani)

Related posts