Kimia Farma Kepakkan Sayap Ke Timor Leste - Raih Kontrak US$ 11,6 Juta

NERACA

Jakarta - Anak usaha PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) dapatkan kontrak pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan dari Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Timor Leste senilai US$ 11,6 juta atau sekitar Rp 110 miliar.

Kontrak kerja sama ditandatangani oleh Direktur Utama KFTD Ignatius Muryanta dengan Menteri Kesehatan Republik Demokratik Timor Leste Sergio G.C. Lobo, yang disaksikan Wakil Perdana Menteri Republik Demokratik Timor Leste Fernando Lasama de Araujo. Dari Kimia Farma hadir Direktur Utama Rusdi Rosman dan Direktur Riset & Pengembangan Bisnis M. Wahyuli Syafari.

Berdasarkan keterangan persnya Senin (15/7), penandatanganan kontrak kerja sama antara PT KFTD dengan Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Timor Leste dilaksanakan pada Jumat (12/7) di Timor Leste. Kontrak tersebut mencakup bidang pengadaan dan distribusi obat-obatan, alat-alat kedokteran, reagen serta instrumen-instrumen Rumah Sakit.“Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari MoU yang telah ditandatangani sebelumnya antara KFTD dengan Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Timor Leste Mei 2013 lalu”, ungkap dia.

Perseroan memiliki anggaran cukup besar untuk aksi korporasinya ditahun ini, yaitu Rp 600 miliar. Aksi korporasi perseroan dibidang pengembangan bisnis meliputi rencana pengembangan layanan kesehatan yang menyeluruh yang ditangani Kimia Farma Rumah Sakit, pengembangan layanan kesehatan di apotek Kimia Farma yang terdapat di Malaysia, pengembangan radiofarmaka, skin culture, stem cell, dan pengembangan proyek yodium baru.

Di bidang manufaktur, aksi korporasi yang akan dilakukan adalah membangun pabrik baru dan revitalisasi dengan nilai investasi Rp 400 miliar dan membangun pabrik herbal FitoFarmaka dengan nilai investasi Rp100 miliar.

Terbitkan Obligasi

Selain itu, dana untuk capex tersebut diperoleh melalui rencana penerbitan obligasi yang direncanakan pada semester II-2013 mendatang sebesar Rp 1 triliun. Saat ini proses menuju rencana obligasi tersebut mencapai tahap perundingan rating di Pefindo.

Setelah mendapatkan rating, perseroan baru akan menentukan underwriternya. Diharapkan semester II sudah selesai. Apabila obligasi tersebut gagal dilakukan, maka Perseroan akan menempuh jalur pinjaman kepada bank pemerintah karena memang sudah ada yang menawarkan.

Perseroan mencatat kinerja pendapatan naik 7,3% di 2012 secara tahunan. Berdasarkan laporan keuangan Kimia Farma, pendapatan konsolidasi perseroan di 2012 mencapai Rp 3,73 triliun, naik 7,3% dibanding 2011 sebesar Rp 3,48 triliun. Kenaikan pendapatan juga diikuti peningkatan beban pokok penjualan perseroan.

Selain itu, perseroan juga akan merambah pasar internasional dengan melakukan ekspansi ke regional Asia Tenggara. Hingga akhir tahun perseroan berencana membuka tiga apotek. Rencananya Juni tahun ini perseroan meresmikan satu apotek di Malaysia dan dua lagi menyusul dalam tahun ini.

Perseroan juga berencana membuka di beberapa negara lain sebagai tujuan pengembangan jaringan seperti Filipina, Vietnam, Kamboja dan bahkan juga Arab Saudi. Selain itu perseroan juga membuka diri terhadap produsen farmasi nasional lainnya terutama dari kalangan BUMN untuk ikut memasarkan produknya melalui jaringan apotek Kimia Farma.

Sementara itu, rencana ekspansi tersebut diharapkan dapat menambah target pendapatan sekitar Rp100 miliar hingga akhir tahun dibandingkan sebelumnya sebesar Rp60 miliar. (nurul)

Related posts