Saatnya Koleksi Saham Telekomunikasi - Belum Masuki Masa Jenuh

NERACA

Jakarta – Penilaian beberapa analis mengenai saham emiten telekomunikasi dan distributor telepon selular (ponsel) menyebabkan banyak pelaku pasar terutama investor kurang tertarik dengan saham tersebut. Padahal, menurut analis pasar modal dari Trust Securities Reza Priyambada, menilai sebaliknya.

Selain itu banyak yang menyatakan bahwa saham ini sedang masuk masa jenuh, padahal tidak. Sehingga pernyataan tersebut termakan oleh pelaku pasar yang menyebabkan keraguan bahkan tidak tertarik dengan saham emiten ini. Dilanjutkan Reza, memang jeleknya industri pasar modal adalah masalah persepsi,”Saat ini bulan puasa justru menjadi saat tepat untuk membeli saham telekomunikasi dan distributor ponsel karena memang kinerja perusahaanya saat ini akan mengalami peningkatan penjualan antara 10-15%”, ujarnya di Jakarta kemarin.

Dia juga memperkirakan, bulan Juli dan Agustus menjadi tempat tumbuhnya omset penjualan produk perusahaan-perusahaan tersebut. Menurut dia, pihak pemasaran perusahaan tentu dapat memperkirakan waktu karyawan mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR), sehingga membuat promosi lebih menarik lagi agar produknya laris.“Saham emiten provider dan distributor ponsel saling terkait. Sehingga dimana penjualan ponsel meningkat, pendapatan perusahaan provider juga ikut terkerek. Di indonesia, setiap ada gadget baru keluar pasti akan dibeli, ini membuktikan masih diminatinya produk tersebut”, ungkap dia.

Karenanya, menurut Reza saham industri seperti ini belum terlihat mati. Terutama di bulan puasa, pendapatan bisa naik 5-6% meskipun jika dilihat secara full year memang tidak terlalu banyak. “Besaran nilai antara distributor ponsel dan provider memang beda, namun untuk peningkatan pendapatan tetap sama”, jelas dia.

Saat ini,menurut dia semua saham distributor ponsel dan provider dapat di mainkan. Namun untuk provider, Reza menyarankan perhatikan provider yang secara besar-besaran mengiklankan promo bulan puasa. “Untuk yang besar-besaran melakukan promosi bulan puasa bisa dipilih menjadi yang utama untuk dibeli”, ujar dia.

Pada pertengahan Mei lalu, Singapore Telecom (SingTel) enggan melepas saham di PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). SingTel masih ingin terus berinvestasi di Indonesia yang saat ini memegang sekitar 35% saham Telkomsel.

Sementara itu, PT Indosat Tbk berencana untuk menghapuskan pencatatan (delisting) American Depository Receipts (ADR) miliknya di Bursa Efek New York (NYSE) pada Mei lalu. Setelah tersiar kabar rencana delisting itu berdampak beragam pada perdagangan saham perseroan di NYSE maupun BEI. Pada transaksi 10 Mei lalu, harga saham Indosat masih menguat Rp50 (0,86 persen) ke posisi Rp5.850.

Untuk provider, contohnya PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) membeli 51,20 juta saham PT Global Teleshop Tbk (GLOB) senilai Rp 1.060 per saham. Adapun total dana pembelian saham GLOB sekira Rp 54,27 miliar. Pembelian saham tersebut untuk menambah investasi di PT Global Teleshop, transaksi pembelian saham dilakukan pada 30 April lalu. (nurul)

Related posts