Volatilitas Tinggi, IHSG Masih Menguat Terbatas

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,621 poin (0,06%) ke level 4.635,729. Indeks LQ45 ditutup bertambah 0,244 poin (0,03%) ke level 777,903. Aksi beli di penghujung perdagangan membuat indeks mampu menguat tipis.

Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, seharian indeks BEI dizona merah akhirnya indeks mampu menguat di picu aksi beli,”IHSG BEI ditutup menguat tipis setelah hampir sepanjang sesi perdagangan bergerak di area negatif. Menguatnya bursa regional menjadi katalis positif ditengah ancaman akan tingginya inflasi di dalam negeri,\" katanya di Jakarta, Senin (15/7).

Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi China sebesar 7,5% diperkirakan menjadi penggerak bursa regional Asia setelah sebelumnya dilanda kekhawatiran bahwa pemerintah China akan melambat pertumbuhannya. Selain itu, lanjut dia, salah satu sektor yang menjadi pendorong indeks BEI naik beberapa hari terakhir yakni kembali menguatnya sektor pertambangan.

Purwoko memproyeksikan, IHSG BEI Selasa masih akan bergerak dalam volatilitas tinggi dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran 4.560-4.630 poin. Perdagangan kemarin, saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual. Saham-saham bank, infrastruktur dan perkebunan terkena aksi ambil untung sehingga indeksnya memerah.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 115.907 kali pada volume 3,667 miliar lembar saham senilai Rp 4,757 triliun. Sebanyak 121 saham naik, sisanya 128 saham turun, dan 95 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia kompak menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Sedangkan bursa saham Jepang tidak berdagang karena tutup menyambut libur nasional.Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Merck (MERK) naik Rp 17.200 ke Rp 199.000, Sarana Menara (TOWR) naik Rp 1.000 ke Rp 28.000, Unilever (UNVR) naik Rp 750 ke Rp 31.750, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 550 ke Rp 26.750.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 650 ke Rp 22.600, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 450 ke Rp 45.600, PGN (PGAS) turun Rp 400 ke Rp 5.550, dan Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 350 ke Rp 15.000.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi 42,178 poin (0,91%) ke level 4.590,930. Sementara Indeks LQ45 anjlok 10,740 poin (1,38%) ke level 766,919. Saham-saham unggulan langsung jadi sasaran aksi jual. Saham-saham bank, infrastruktur dan perkebunan terkena aksi ambil untung sehingga indeksnya memerah.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi hanya sebanyak 65.034 kali pada volume 1,863 miliar lembar saham senilai Rp 2,382 triliun. Sebanyak 89 saham naik, sisanya 127 saham turun, dan 91 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bukit Asam (PTBA) naik Rp 250 ke Rp 12.050, Mahatari (LPPF) naik Rp 200 ke Rp 11.450, Surya Toto (TOTO) naik Rp 150 ke Rp 7.850, dan Gajah Tunggal (GJTL) naik Rp 150 ke Rp 3.275.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 900 ke Rp 22.350, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 45.450, Unilever (UNVR) turun Rp 550 ke Rp 30.450, dan PGN (PGAS) turun Rp 450 ke Rp 5.500.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 6,70 poin atau 0,14% ke posisi 4.639,81. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 1,71 poin (0,22%) ke level 779,37,”Bursa Asia dibuka \'mixed\' seiring dengan pelaku pasar yang masih mengantisipasi data produk domestik bruto (PDB) China kuartal II 2013,\" kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dia menambahkan minimnya sentimen positif baru dapat mendorong pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Selain itu dari dalam negeri, terkoreksinya pasar obligasi pada akhir pekan lalu membuat jarak imbal hasil (yield) antara pasar obligasi dan pasar saham menjadi 0,89% yang menandakan pasar saham relatif mahal dibandingkan pasar obligasi.\"IHSG BEI sendiri hari ini berpotensi mengalami \'profit taking\' seiring minimnya sentimen positif baru dari pasar keuangan domestik,\" kata dia.

Kata Benedictus Agung, beberapa sektor saham yang rawan terhadap aksi ambil untung antara lain perbankan, semen, konsumer dan infrastruktur. Analis Sinarmas Sekuritas, Christandi Rheza Mihardja menambahkan, ekspektasi pasar keuangan terhadap akan diperpanjangnya stimulus di Eropa, Jepang, dan AS masih akan memberikan sentimen positif pada bursa saham.\"Dilanjutkannya stimulus keuangan itu karena masih melambatnya pertumbuhan ekonomi global,\" kata Christandi Rheza Mihardja.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 14,64 poin (0,07%) ke level 21.291,92, indeks Nikkei-225 naik 33,67 poin (0,23%) ke level 14.506,25, dan Straits Times menguat 11,15 poin (0,34%) ke posisi 3.247,21. (bani)

BERITA TERKAIT

Faktor Ekonomi Masih Jadi Penarik Utama Korban TPPO

Faktor Ekonomi Masih Jadi Penarik Utama Korban TPPO NERACA Jakarta - Faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama banyak orang terjebak…

Martina Berto Masih Merugi Rp 17,18 Miliar

Bisnis kosmetik dan kecantikan PT Martina Berto Tbk (MBTO) masih terteka di semester pertama tahun ini. Dimana tekanan ini sama…

Industri TPT Tumbuh Paling Tinggi, Terus Dipasok SDM Mumpuni

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus menciptakan penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai kebutuhan dunia industri…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Juli, Penjualan Semen Indonesia Naik 78,8%

NERACA Jakarta – Meskipun industri semen dalam negeri masih terjadi oversuplai, namun penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pada Juli…

Lagi, Bank Mandiri Kurangi Porsi Saham di MAGI

NERACA Jakarta – Kurangi porsi saham di PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bakal…

Lindungi Invetor Ritel - OJK Perketat Keterbukaan Informasi Emiten

NERACA Jakarta – Menciptakan industri pasar modal sebagai sarana investasi yang aman dan melindungi investor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan…