Rupiah Melemah Ganjal Indeks Bangkit

NERACA

Jakarta-Kebijakan pemerintah menaikkan BI rate 50 basis point (bps) menjadi 6,5% nyatanya belum dapat menenangkan pasar. Nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/7) menembus angka Rp10.000. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun kembali ditutup melemah di level 4.586 dari level sebelumnya 4.633.

Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, ada dua faktor yang menjadi perhatian minggu ini. Salah satunya terkait pergerakan nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS). \"Jika rupiah kembali melemah maka sangat berpengaruh atas pergerakan IHSG,\" katanya di Jakarta, Senin (15/7).

Dia mengatakan, kenaikan BI rate yang dilakukan pemerintah untuk menghadang laju inflasi dan nilai tukar rupiah yang terlalu besar dalam satu kali kebijakan memang membuat IHSG berada dalam kondisi bearish. Pasalnya, ekspektasi pelaku pasar BI hanya akan menaikkan 25 basis point sambil mencermati inflasi bulan Juli. Sehingga IHSG pun pada minggu lalu tidak dapat bangkit karena hanya menguat (rebound) tipis 0,25%, di mana dalam 2 minggu lalu turun sebanyak 216.09 poin atau sebesar 4.48%.

Selain itu, sambung dia, pelaku pasar juga perlu memperhatikan kelanjutan rilis laporan keuangan 2013 emiten. Hal itu juga yang menjadi fokus utama pasar luar negeri pasca sentimen paket stimulus The Fed. Termasuk beberapa data ekonomi negara besar lainnya seperti data perdagangan, ZEW survey/economic sentiment, construction output, dan PPI di Eropa. Sementara di Jepang terkait pertemuan Bank of Japan, machine tool orders, nationwide dept store sales, all activity index, dan leading Index. Selain itu juga data pertumbuhan ekonomi Cina, produksi industri, penjualan ritel, perkembangan harga produksi dan impor serta properti.

Sementara Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menganggap, kenaikan BI rate hanya akan memberikan efek sementara terhadap rupiah karena sentimen yang ada saat ini lebih menguatkan nilai dolar AS. Saat inipun, data rilis pertumbuhan ekonomi Cina belum dapat membuat rupiah berbalik menguat karena masih menegaskan pertumbuhan yang melambat di China sehingga dinilai dapat berpengaruh pada neraca perdagangan Indonesia. “Kondisi yang logis bahwa secara nilai perdagangan, Cina merupakan mitra dagang terbesar untuk Indonesia.” ucapnya.

Jika memang rupiah ingin lebih kuat, sambung dia, seharusnya BI dan Pemerintah bisa menjaga kondisi fundamental dalam negeri atau bisa juga dengan menambah suplai dolar agar rupiah lebih stabil. Karena jika dicermati, dengan sentimen yang sama, laju Won Korea, dolar Singapura, dan beberapa mata uang lainnya bisa stabil menghadapi kenaikan mata uang dolar AS. “Kenapa justru rupiah anjlok lebih dalam?” imbuhnya.

Dia memproyeksikan, IHSG akan berada pada support 4568-4615 dan resistance 4655-4664. Akhir IHSG yang berada di atas target support 4572-4605, namun gagal mendekati target resisten 4650 menurut dia menandakan masih adanya tekanan jual. Diharapkan sentimen positif dari Cina bisa berimbas ke pasar saham global sehingga IHSG pun masih dapat menikmati imbasnya walaupun di tengah aksi profit taking. Sejumlah saham yang dapat dipertimbangkan pelaku pasar antara lain BMTR, LPKR, ICBP, dan PTPP. (lia)

Related posts