Kawasan Industri “Hijau” Akan Dibangun di Karawang - Kerjasama RI-Jepang

NERACA

Jakarta - Indonesia berencana membangun kawasan industri yang ramah lingkungan dan hemat energi. Menggaet perusahaan asal Jepang, Indonesia akan mengembangkan model kawasan industri yang dianggap cerdas dan sekaligus efisien dalam penggunaan energi.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana mengatakan, pembangunan kawasan industri ramah lingkungan tersebut akan dilakukan di kawasan industri Surya Cipta City, Karawang, Indonesia.

Kawasan industri ini merupakan proyek kerjasama antara Jepang dan Indonesia yang melibatkan perusahaan jepang seperti Sumitomo Corporation, Mitsubishi Electric, Fuji Electric, NTT Communications. Sementara dari tanah air, industri yang terlibat diantaranya PT PLN (Persero) dan PT Suryacipta sebagai model kawasan industri cerdas dan ekologi.

\"Kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Ditjen EBTKE dan New Energy and Industrial Technology of Development (NEDO),\" kata Rida, di Kantornya, Jakarta, Senin (12/7).

Rida menambahkan, proyek kerjasama ini menerapkan Demonstration Project for Smart Communities in Industrial Park merupakan salah satu upaya untuk menerapkan efisiensi energi disektor industri. \"Demonstration Project for Smart Communities in Industrial Park pertama Nedo diterapkan di kawasan Asia,\" ungkapnya.

Upaya penerapan efisiensi energi perlu terus dilakukan untuk mengendalikan laju permintaan energi, terlebih permintaan energi nasional saat ini masih relatif tinggi dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 7% pertahun.

Tingginya pertumbuhan energi tersebut, terutama disebabkan pertumbuhan ekonomi yang melobjak 6,1% pertahun ditambah bertambahnya jumlah penduduk sebesar 1,1% per tahun. Namun studi terbaru menunjukan bahwa energi masih digunakan dengan cara yang tidak efisien, termasuk di sektor industri.

\"Sektor industri merupakan konsumen energi terbesar dengan pangsa 38% terhadap konsumsi energi nasional, namun belum menerapkan secara optimal prinsip-prinsip efisiensi energi. Potensi penghematan energi, potensi penghematan energi di sektor industri relatif tinggi yaitu 10%-30%,\" tukasnya.

Sementara itu,New Energy and Industrial Technology of Development (NEDO) dari Jepang siap mengucurkan dana 3,5 miliar yen setara Rp 350 miliar untuk merealiasikan pembangunan proyek percontohan kawasan industri yang ramah lingkungan dan hemat energi pertama di kawasan Asia.

Direktur Eksekutif Nedo Hiroshi Kuniyoshi mengatakan NEDO merupakan lembaga semi pemerintah yang melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi energi, teknologi lingkungan dan teknologi industri.

Untuk menjalankan proyek kawasan industri yang ramah lingkungan, NEDo mengaku telah memiliki empat perusahaan mitra yang memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Mitra pertama adalah Fuji Elektrik yang bertanggungjawab terhadap distribution automation system (DAS) berupa DAS server dan high quality power supply system, serta UPS.

Sementara itu, Mitsubishi Elektrik bertanggung jawab terhadap dua teknologi, yakni demand side management system dan factory energy management system. Sedangkan NTT Communication bertanggungjawab terhadap hubungan komunikasi yang melalui kabel.

\"Jadi masing-masing perusahaan yang terlibat akan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan proyek itu. perusahaan jepang itu punya tanggung jawab masing-masing,\" ujar Hiroshi.

NEDO memastikan kebutuhan dana sebesar 3,5 miliar yen tersebut akan dipenuhi seluruhnya dari institusinya. Dana itu akan dikoordinasikan dibawah Sumitomo Corporation.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji, mengatakan, salah satu bentuk efisiensi energi dikawasan industri adalah dengan cara penggiliran dalam menggunakan listrik yang diharapkan bisa mengurangi beban puncak listrik akan berkurang. Selain itu, penghematan bisa dilakuan dengan cara menggunakan alat produksi secara kolektif.

Related posts