Pemerintah Mengklaim Tidak Ganggu Pertumbuhan Ekonomi - Kenaikan BI Rate

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri mengklaim kenaikansuku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) tidak akan menyebabkanpenurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini dikarenakan porsi konsumsi rumah tangga masih cukup terjaga.Kenaikan BI rate,menurut Chatib,memang berpotensi mengganggu sisi investasi, tetapi untuk menentukantergerusnya pertumbuhan ekonomi harus dilihat dari semua komponen.

Terlebih, porsi yang paling besar dalam pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga, yaitu sebesar 55%. Sementara, investasi hanya menyumbang sekitar 25%. “Kalau BI menaikkanBI rate, dimana ekspektasi dari inflasinya bisa dikelola, akibatnya inflasi tidak terlalu tinggi, maka akibatnya daya beli masih tetap bisa tinggi. Kalau daya belinya bisa tinggi makagrowth-nya masih akan tetap tinggi, karena porsi dari konsumsi rumah tangga masih terjaga,”kata Chatib di Jakarta, Jumat (14/7) pekan lalu.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto mengapresiasi kenaikanBI ratedanFasBIrate(Fasilitas Simpanan BI dalam rupiah) masing-masing sebesar 50 bps menjadi 6,5% dan 4,75%. Menurutnya, hal tersebut mengindikasikan bahwa BI bertindakpreventiveatau antisipatif untuk mengendalikan rupiah dan inflasi.

Selain itu, BI juga dinilai lebih agresif daristancesebelumnya, karena baru kali ini kenaikan 50 bps dilakukan untukBI ratedan FasBI secara bersamaan. Di sisi lain, lanjutnya, BI melihat proyeksi ekspektasi inflasi yang cenderung tinggi, yaitu sebesar 7,4% sampai 8% pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang bertepatan dengan Bulan Ramadan,yangmana saat ini kenaikan harga bahan pokok nyaris tidak terkendali.

BI juga melihat tekanan terhadap rupiah makin besar, terutama karena kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan defisit. Bank sentral meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia ada pada kisaran 5,8% - 6,2%. Sementara pemerintah masih optimis dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% seperti yang tertuang dalam APBN-P 2013. Banyak pengamat ekonomi yang merasa target pertumbuhan ekonomi dari pemerintah itu muluk-muluk. Salah satunya adalah Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang meramal pertumbuhan ekonomi ada pada angka 5,9%.

Direktur Eksekutif Deparemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Doddy Budi Waluyo menambahkan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps merupakan salah satu cara untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi. “Kenaikan BI Rate akan memicu naiknya suku bunga bank baik simpanan atau kredit, maka sasaran kredit akan berkurang,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, berkurangnya permintaan domestik akan memicu melambatnya ekonomi domestik serta akan menjadikan inflasi lebih rendah. “Impor akan berkurang, tekanan current account membaik, ekonomi harus tumbuh lebih rendah di bawah 6%, karena kredit harus tumbuh rendah, seperti itu skenarionya,” imbuh Doddy.

Lebih lanjut, dia menjelaskan ditengah kondisi ekonomi dunia yang masih dalam ketidakpastian, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,8% masih cukup normal. “Justru pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi akan memicu over heating atau membuat panas ekonomi,” ucapnya. Dia juga menjelaskan, tidak jadi masalah dengan pertumbuhan ekonomi dibawah 6%, namun dengan inflasi yang terjaga dengan baik.

“Karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menyebabkan neraca transaksi berjalan akan makin defisit, inflasi tinggi bahkan nilai tukar rupiah yang fluktuatif,” cetus Doddy. Current account defisit yang lebih baik, Dengan kenaikan BI Rate itu sudah cukup atraktif karena return instrumen keuangan rupiah kita menjadi lebih mahal.

Jika pada tahun 2008 lalu pertumbuhan kredit sempat dikisaran 30%, Doddy mengatakan itu merupakan pertumbuhan yang sangat ekspansif, BI mencoba kredit optimal sesuai pertumbuhannya. “Angka pertumbuhan kredit yang ideal ada di kisaran 21% hingga 22%,” pungkasnya. [sylke/iqbal]

Related posts