Sumba Timur Bangun Pengolahan Rumput Laut - Kawasan Minapolitan

NERACA

Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku terus mengembangkan program industrialisasi sektor kelautan dan perikanan. Di antaranya, untuk komoditas rumput laut, KKP kembali membangun pabrik pengolahan rumput laut PT. Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL) di Desa Tanamanang, Kecamatan Pahunga Lodu, kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pembangunan pabrik PT. ASTIL di Sumba Timur sangat tepat. Pabrik pengolahan rumput laut ini sangat penting keberadaannya untuk menampung hasil budidaya rumput laut yang ada di sekitar Kabupaten Sumba Timur khususnya maupun Propinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Pendirian PT. ASTIL secara langsung sangat menguntungkan masyarakat, apalagi karena faktor jarak sehingga mampu mengurangi biaya transportasi.

“Pabrik ini dapat memproduksi chips rumput laut sebanyak 2 ton/hari dari bahan baku 6 ton/hari. Kapasitas produksinya akan terus ditingkatkan hingga 10 ton/hari. Pada tahun 2012, Pabrik ini telah memproduksi chips rumput laut sebanyak 124 ribu kg dan dipasarkan ke beberapa perusahaan dalam negeri,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip, Minggu.

Dipilihnya Sumba Timur, menurut Slamet, karena Kabupaten Sumba Timur NTT merupakan salah satu kawasan percontohan minapolitan komoditas rumput laut. Data statistik menunjukkan produksi rumput laut di Propinsi NTT pada Tahun 2012 sebesar 398.000 ton. Dari jumlah tersebut, 1.393,8 ton berasal dari Kabupaten Sumba Timur.

Untuk itu, keberadaan pabrik akan dapat meningkatkan nilai tambah produk rumput laut. Sehingga tujuan program industrialisasi perikanan yaitu meningkatkan produktivitas, nilai tambah produk serta meningkatkan daya saing dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam hal penyerapan tenaga kerja dan penggerak perekonomian masyarakat. ”Potensi lahan budidaya rumput laut yang dimiliki Sumba Timur cukup besar. Potensi ini diharapkan dapat meningkatkan produksi rumput laut sehingga mendukung peningkatan produksi secara nasional,” tandasnya.

Bantuan Kemenperin

Slamet menjelaskan, pendirian pabrik pengolah rumput laut PT. ASTIL ini merupakan bukti nyata adanya sinergitas kinerja antar sektor. Di mana, untuk mesin pengolah rumput laut menjadi chips, merupakan bantuan Kementerian Perindustrian. Sedangkan KKP menyediakan ruang processing beserta bangunan pabrik. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur yang akan mendukung modal kerja.

“Sinergitas kinerja seperti ini harus ditularkan ke daerah lain. Sehingga pembangunan akan melaju dengan cepat karena dorongan yang diberikan merupakan dorongan bersama yang semuanya mempunyai satu tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor kelautan dan perikanan,” papar Slamet.

Slamet menambahkan, tahun 2013 KKP telah menetapkan industrialisasi rumput laut di 6 Provinsi. Yaitu provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan provinsi Sulawesi Utara. Akselerasi peningkatan produksi rumput laut melalui program industrialisasi tahun 2013, ditargetkan mampu menghasilkan rumput laut yang diolah sebanyak 1.214.299 ton.

Lebih dari itu, dari program industrialisasi rumput laut ini mampu menyerap jumlah pembudidaya sebanyak 37.807 RTP. “Sedangkan penyerapan tenaga kerja dari sektor ini akan meningkat hingga 415.462 orang dengan nilai produksi mencapai Rp 1.138 milyar,” katanya.

Data Produksi

Terkait industrialisasi rumput laut, sebelumnya, Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menuntut pemerintah untuk melakukan koreksi terhadap data produksi rumput laut baik secara regional maupun nasional. “Selama ini, data produksi rumput laut masih kurang tepat dan menjadi penyebab tidak adanya pengembangan strategi nasional khusus bagi rumput laut. Pelaku usaha rumput laut sering disulitkan dengan ketidaksesuaian data produksi yang ada di pemerintah dan berpengaruh dengan ketepatan metode ukur,” kata Ketua ARLI, Safari Azis.

Rumput Laut jika diukur dalam keadaan basah, menurut Safari, memang bobotnya menjadi besar.“Pengusaha tidak mengenal adanya kondisi basah terutama untuk perdagangan, kecuali untuk keperluan masih bibit. Pemerintah perlu memperbaiki data produksinya dan perbandingan produksi rumput laut jika diukur dalam keadaan basah dan kering itu bisa 10 berbanding satu (10 : 1),” paparnya.

Saat ini, lanjut Safari, produksi per Mei 2013 diperkirakan menurun 20% hingga 40%. Pelaku usaha juga mempertanyakan jumlah produksi rumput laut yang dinyatakan besar walaupun kondisi musim tidak menentu.

Related posts