BFI Finance Raih Pinjaman US$ 80 Juta - Danai Modal Kerja

NERACA

Jakarta - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) memperoleh pinjaman dana sebesar US$ 80 juta dari sejumlah bank yang dipimpin Standard Chartered Bank untuk digunakan perseroan sebagai modal kerja pembiayaan. “Pinjaman tersebut akan digunakan untuk modal kerja pembiayaan. Fasilitas pinjaman ini berjangka waktu hingga tiga tahun. Standard Chartered Bank bertindak sebagai Mandated Lead Arranger sekaligus sebagai agen jaminan. Selain itu, Standar Chartered Bank Limited juga bertindak sebagai agen fasilitas,”kata Sekretaris Perusahaan PT BFI Finance Indonesia Tbk, Cornellius Henry dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BFIN Mei lalu, Cornellius menyebutkan bahwa tahun ini perseroan membutuhkan pendanaan untuk menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 8,5 triliun atau naik 21,42% dibandingkan dengan realisasi tahun 2012.“Pendanaan tersebut juga diperlukan perseroan untuk menambah sebanyak 35 kantor cabang hingga akhir tahun 2013. Saat ini perseroan memiliki sekitar 185 kantor cabang” ungkap dia.

Pada kuartal I tahun ini, BFIN membukukan laba bersih sebesar Rp 123,10 miliar atau Rp81 per saham naik 15,25% bila dibandingkan dengan laba bersih pada Kuartal I tahun 2012 sebesar Rp 106,81 miliar atau Rp70 persaham.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya pendapatan perseroan dari Rp 357,43 miliar pada Kuartal I tahun 2012 menjadi Rp 422,58 miliar pada Kuartal I tahun 2013, sedangkan beban perseroan mengalami peningkatan dari Rp 224,17 miliiar menjadi Rp 268,58 miliar.

BFIN merupakan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, terutama bergerak di bidang pembiayaan konsumen dengan pendapatan pada kuartal I 2013 dan 2012 sebesar Rp248,98 miliar dan Rp232,40 miliar.

Pendapatan perseroan pada kuartal I 2013 dan 2012 selain dari pembiayaan konsumen, yaitu sewa pembiayaan Rp 95,26 miliar (QI 2013) dan Rp 59,37 miliar (QI 2012), keuangan Rp 1,24 miliar (QI 2013) dan Rp 1,27 miliar (Q! 2012), lainnya Rp 77,09 miliar (QI 2013) dan Rp 64,39 miliar (QI 2012).

Sepanjang 2012, kenaikan pendapatan dari bisnis sewa pembiayaan mencapai 104,22% menjadi Rp 305,78 miliar dibandingkan tahun lalu Rp 149,74 miliar. Kenaikan pendapatan dari bisnis sewa guna usaha lebih tinggi jika dibandingkan pendapatan pembiayaan konsumen yang hanya naik 13,13% menjadi Rp 961,06 miliar pada 2012 dari Rp 849,51 miliar pada tahun lalu.

Asal tahu saja, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memperkirakan pertumbuhan industri pembiayaan pada 2013 hanya sekitar 10 hingga 15% atau turun dibandingkan pertumbuhan normalnya sebesar 20%.

Ketua APPI Wiwie Kurnia pernah bilang, prospek pembiayaan tahun 2013 seharusnya lebih baik tanpa ada aturan yang mengharuskan calon konsumen menyediakan uang muka atau down payment (DP). (nurul)

BERITA TERKAIT

Adhi Karya Siapkan Obligasi Rp 2 Triliun - Danai Belanja Modal

NERACA Jakarta – Pendanaan lewat pasar modal masih menjadi skala prioritas bagi PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dalam mendanai ekspansi…

Gubernur Jabar Targetkan Sebar 100 Juta Benih Ikan

Gubernur Jabar Targetkan Sebar 100 Juta Benih Ikan NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) menargetkan tahun…

Hyundai Bidik 4,68 Juta Kendaraan Terjual Pada 2018

Hyundai Motor menargetkan penjualan sebanyak 4,68 juta unit kendaraan secara global pada 2018, menurut produsen mobil asal Korea Selatan. Target…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perkuat Pasar Ekspor Ke Afrika - Sido Muncul Bikin Anak Usaha di Negeria

NERACA Jakarta - Setelah sukses membuka pasar ekspor ke Filipina dengan berlanjutnya rencana pembukaan kantor pemasaran disana, kini PT Industri…

Gelar Rights Issue, SCMA Bidik Rp 3,58 Triliun

Cari pendanaan di pasar modal lewat penerbitan saham baru atau rights issue, kini tengah marah dilakukan emiten. Begitu juga halnya…

Bahana Sekuritas Taksir IHSG Capai 7.000

NERACA Jakarta – Pencapaian rekor baru indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun 2017…