PLN Janji Kurangi Konsumsi BBM - Diupayakan Single Digit di 2015

NERACA

Jakarta – PT. PLN (Persero) berjanji akan terus mengurangi konsumsi listrik untuk pembangkit sampai single digit pada 2015. Pasalnya pengunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pembangkit listrik cukup besar. Lihat saja pada 2011 lalu, penggunaannya hampir 23% dari kuota BBM. Demikian diungkapkan Direktur Utama PLN Nur Pamudji, akhir pekan kemarin.

Ia menyatakan dengan tren penggunaan yang selalu turun, pihaknya optimis bisa mengurangi konsumsi BBM sampai single digit. \"Pada 2012 telah turun menjadi 15%. Dengan tren yang selalu turun, kami menargetkan tiga tahun ke depan itu pemakaian BBM bisa single digit,\" ujarnya.

Sementara untuk 2013 ini, PLN berharap penggunaan BBM untuk pembangkit listrik bisa kembali turun hingga 12% dari kuota penggunaannya. “Terus tahun depannya lagi itu sudah single digit mungkin 9 koma sekian persenan, terus nanti turun-turun terus,\" harap dia.

Hingga pada akhirnya pada 2015 pemakaian BBM untuk pembangkit listrik bisa benar-benar turun di angka 5 persen. Menurutnya, ini butuh tahap, tidaklah bisa langsung secara per tahun karena dalam penerapannya sangat butuh waktu tiga tahun bahkan bisa lebih.

Dukungan untuk mengurangi konsumsi BBM juga datang dari Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo. Ia mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong agar perusahaan listrik plat merah tersebut bisa mengurangi konsumsi BBM dengan menggantinya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan pembangkit mikro hidro.

Susilo mengatakan, selama ini, PLN menghabiskan BBM hingga enam juta kiloliter untuk menghasilkan 1.500 megawatt listrik. \"Penggunaan BBM harus dikurangi, tapi bertahap,\" kata Susilo.

Pemerintah, dia menjelaskan, memang gencar mengampanyekan penggunaan gas untuk menggantikan minyak. Indonesia tidak mungkin lagi mengandalkan minyak sebagai sumber energi utama.

Produksi minyak saat ini telah anjlok ke level 800 ribu barel per hari, sedangkan di sisi lain produksi gas terus meningkat. \"Penggunaan gas harus dimaksimalkan untuk menggantikan ketergantungan BBM,\" kata Susilo.

Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi tujuan itu, seperti pemasangan converter kit oleh Kementerian Perindustrian serta membangun puluhan SPBG di Jakarta dan Surabaya pada tahun ini. \"Ini bertujuan mendorong masyarakat untuk beralih kepada penggunaan gas,\" kata dia.

Lakukan Pemborosan

Sebelumnya, PLN dituding telah melakukan pemborosan lantaran masih menggunakan BBM untuk pembangkit. Tak tanggung-tanggung, Ketua Departemen Penelitian Pengembangan Serikat Pekerja PLN Jumadis mensinyalir pemborosan bisa mencapai Rp8,1 triliun. \"Pemakaian melebihi target, dari 7,3 kiloliter menjadi 8,2 juta kiloliter,\" ujar Jumadis.

Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait dengan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu sektor hulu listrik tahun 2009-2010, menyebutkan bahwa PLN melakukan pemborosan uang negara sebesar Rp 37,6 triliun. Sayangnya, ketika Direktur Utama PLN Nur Pamudji memaparkan pemakaian BBM sepanjang tahun lalu, tidak banyak pihak yang mempertanyakan angka tersebut. “Padahal, pemborosan itu sangat besar, melebihi angka bailout Bank Century Rp 6,7 triliun,” ujarnya.

Jumadis juga mengingatkan agar publik mempertanyakan ide PLN yang akan mengonsumsi gas sebagai sumber energi pembangkit listrik. \"Saat Dahlan Iskan menjadi Dirut PLN di 2009, dia bilang PLN salah makan, seharusnya makan gas yang murah,” katanya.

Pada kenyataannya, menurut dia, sejak periode Dahlan, PLN justru lebih banyak menggunakan BBM. Sehingga, biaya produksinya lebih mahal ketimbang biaya operasional. “Akhirnya masih terpaksa disubsidi negara,” ungkap Jumadis.

Sebagai gambaran, dia menuturkan bahwa perusahaan listrik milik pemerintah Malaysia, yaitu Tenaga Nasional Berhad atau TNB, pada 2011 hanya menggunakan bahan minyak sebesar empat persen. Sementara gas 48% dengan harga sebesar 10,7 ringgit per mmbtu atau setara dengan US$ 3,3.

Karena itulah TNB mampu meraih keuntungan Rp 24 triliun. Sebesar 10% diberikan ke negara sebagai dividen. Pada periode sama, PLN mengonsumsi BBM sebesar 23%, setara dengan Rp 93 triliun atau 44% dari total biaya operasi. Penggunaan gas hanya 21%. \"Malahan, pada 2013 ini PLN berani membeli gas seharga US$ 16 per mmbtu. Ini sangat mahal,” jelas Jumadis.

Sebagai catatan, untuk menghasilkan setiap kilowatt hour energi listrik, PLN menggunakan biaya pokok operasi Rp 1.240. Sementara TNB hanya Rp 800/kWh.

Related posts