Revolusi Sepeda Motor - Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Istilah “revolusi sepeda motor” saya kutip dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN, ketika tampil sebagai pembicara dalam seminar yang diselenggarakan UIN Jakarta, beberapa bulan silam.

Mari kita amati sekilas saja betapa pengguna sepeda motor setiap waktu senantiasa bertambah. Diperkirakan setiap tahun terjual 9 juta sepeda motor. Sebuah angka yang sangat signifikan untuk meramaikan jalan raya dan kegiatan ekonomi masyarakat. Untuk warga Jakarta saja diperkirakan terdapat 7 juta sepeda motor. Rata-rata satu keluarga memiliki tiga sepeda motor. Apa artinya semua ini?

Banyak sudut pandang untuk melihat fenomena ini. Pertama, revolusi sepeda motor menunjukkan kegagalan sistem transportasi massal, terutama bus dan kereta api, sehingga sepeda motor dianggap sebagai alternatif paling praktis mengatasi kemacetan lalu lintas kota besar semacam Jakarta. Kedua, harga sepeda motor terjangkau masyarakat bawah meski dengan jalan mencicil. Mereka merasa lebih praktis dengan sepeda motor ketimbang angkutan kota untuk pergi ke tempat kerja.

Ketiga, sepeda motor multiguna. Sebelum menuju tempat kerja bisa mengantarkan anaknya ke sekolah atau mengantar keluarga berbelanja. Sepulang kantor pun bisa saja untuk ngojek cari tambahan pemasukan buat beli bensin. Keempat, biaya perawatan motor termasuk murah asalkan hati-hati menggunakannya serta rajin merawatnya.

Mobilitas Kelas Bawah

Pengalaman mengesankan tentang membeludaknya sepeda motor adalah ketika saya berkunjung ke Vietnam sekitar lima tahun lalu. Ketika kendaraan berhenti di lampu merah, gerombolan sepeda motor bagaikan laron mengelilingi cahaya lampu. Sedemikian banyaknya memenuhi jalanan. Hanya saja uniknya di sana relatif kecil tingkat kecelakaan karena mesinnya sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak bisa lari di atas 40 km/jam.

Sekarang lorong-lorong Jakarta pun penuh dengan sepeda motor sebagai respons masyarakat bawah yang tidak mampu membeli mobil dan kecewa dengan layanan transportasi umum. Naik mobil pribadi maupun umum sama-sama tidak enak karena macet. Yang paling praktis adalah sepeda motor. Fenomena ini sekaligus juga menunjukkan dinamika ekonomi kelas menengah ke bawah.

Sepeda motor begitu lincah memasuki lorong- lorong kecil dan tempat parkir pun mudah. Secara psikologis, mereka terpacu bekerja lebih giat lagi untuk melunasi kreditnya ataupun agar bisa membeli sepeda motor yang lebih bagus mengingat kualitas dan harga sepeda motor sangat bervariasi. Bahkan mereka yang sudah punya mobil pun masih memerlukan sepeda motor di rumahnya.

Tidak asing lagi, pembantu rumah tangga saat ini sudah akrab dengan sepeda motor dan telepon genggam. Ini sebuah perubahan perilaku ekonomi, komunikasi, dan mental di kalangan masyarakat bawah. Hubungan ”majikan” dan ”pembantu” tidak sehierarkis zaman dahulu. Sekarang cenderung egaliter, bisa berkomunikasi melalui telepon.

Dibandingkan semasa zaman Orde Baru, jumlah kepemilikan televisi, sepeda motor, dan telepon genggam hari ini jauh lebih banyak dan melonjak. Oleh karena itu,di balik komentar yang suram tentang panggung politik, potensi dan perkembangan ekonomi Indonesia relatif stabil. Persoalannya hanyalah tingkat korupsi yang kian membengkak dan merata serta kesejahteraan rakyat yang timpang.

Sementara itu, kondisi sosial yang menyedihkan adalah semakin meningkatnya mental konsumtif masyarakat. Diperkirakan gaji seorang pembantu rumah tangga, seperempat atau bahkan lebih, dibelanjakan untuk membeli pulsa hanya untuk mengobrol atau bergosip dengan temannya. Jadi, di samping terjadi revolusi sepeda motor yang mengindikasikan mobilitas ekonomi dan gaya hidup masyarakat bawah, mental konsumtif juga naik tajam.

Dalam kaitan ini peran iklan di televisi sangat besar pengaruhnya. Sajian televisi bagaikan panggung campursari, silih berganti antara berita kecelakaan, korupsi, banjir, ceramah agama, musik, lawak, dan sebagainya. Semua itu tidak akan tersaji tanpa dukungan iklan dan setiap iklan bertujuan menggerakkan tangan pemirsa agar antusias merogoh koceknya untuk berbelanja apa yang dijajakan dalam televisi.

Salah satunya adalah membeli sepeda motor dengan segala turunannya. Memang ada beberapa keluhan dari orang tua, anak-anaknya yang masih sekolah di tingkat SMP dan SMU bersikeras minta dibelikan sepeda motor. Padahal, ekonomi orangtua sangat berat, lagi pula dengan memiliki sepeda motor tidak menjamin prestasi belajar anak-anak semakin meningkat. Bahkan bisa sebaliknya yang terjadi. (uinjkt.ac.id)

BERITA TERKAIT

APP Sinar Mas Dukung Pemprov DKI - Bebaskan Jakarta dari Praktik BAB Sembarangan

Meskipun di Ibu Kota Jakarta yang terkesan maju, kesadaran lingkungan tinggi, namun tingkat prilaku buang air besar (BAB) sembarang masih…

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

Dunia Usaha - Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Dihindari

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dijalani.…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Korupsi dan Transaksi Bursa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Perdagangan bursa di awal tahun 2019 mencetak IHSG…

MA: Sang Ekonom Putih

  Oleh:  Amalia Insani, Mahasiswi Ekonomi Syariah STEI Tazkia Banyak pihak menilai KH Ma’ruf Amin (MA) tak memiliki kemampuan mumpuni…

Polemik Harga Tiket, Dugaan Kartel dan Penyelamatan Maskapai

Oleh: Royke Sinaga Pesawat terbang sebagai moda transportasi harus diakui tetap menjadi favorit bagi masyarakat. Selain dapat menjelajah jarak ribuan…