BI: Depresiasi Nilai Tukar Sesuai Fundamental

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,09% (quartal to quartal/qtq) menjadi Rp9.925 per dolar AS, atau secara rata-rata melemah 1,03% (qtq) menjadi Rp9.781 per dolar AS. \"Nilai tukar rupiah pada triwulan II-2013 mengalami depresiasi sesuai dengan nilai fundamentalnya,\" kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo di Jakarta, Kamis (11/7).

Dia menuturkan, seperti halnya pelemahan mata uang negara-negara di kawasan Asia, depresiasi nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi penyesuaian kepemilikan non-residen di aset keuangan domestik. \"Itu (pelemahan rupiah) juga dipicu oleh sentimen terkait pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh The Fed,\" ujarnya.

Menurut dia, perkembangan tersebut mengakibatkan pelemahan rupiah sejalan dengan tren pergerakan mata uang negara-negara di kawasan Asia. Penyusutan nilai rupiah di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi di Filipina mencapai sebesar 4,94%, Singapura 3,97%, dan Malaysia 3,13%.

Agus mengatakan, di Jepang dan Korea bahkan mengalami depresiasi yang cukup dalam yakni masing-masing sebesar 14% dan 7%. \"Kami memandang bahwa perkembangan nilai tukar pada saat ini menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia,\" kata Agus.

Sementara Kepala Riset PT Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, dinaikkannya suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 6,5%, belum menjadi jaminan bahwa nilai tukar rupiah kembali stabil. Pasalnya, pelemahan nilai tukar rupiah lebih karena faktor eksternal, yakni penguatan nilai tukar dolar AS terhadap semua mata uang dunia karena masih adanya rencana bank sentral AS (The Fed) untuk mengurangi program stimulus.

\"Yang menjadi permasalahan saat ini adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS paling fluktuatif jika dibandingkan dengan mata uang negara lain di kawasan Asia,\" kata dia. Menurut Reza, BI harus memperkuat fundamental rupiah salah satunya dengan memperkuat cadangan devisa sehingga nilai tukar domestik dapat menjadi lebih stabil.

Kendati demikian, kata dia, kenaikkan BI rate sebesar 50 bps dinilai untuk menenangkan pasar dan mencegah spekulasi terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah jika BI Rate tetap berada di level enam persen.

Chief Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto menambahkan, kenaikan BI Rate akan mampu mengendalikan nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi yang belakangan meningkat. \"BI bertindak mendahului atau antisipatif untuk mengendalikan rupiah dan inflasi. Kali ini BI bahkan lebih agresif dari posisi sebelumnya, karena baru kali ini kenaikan 50 bps dilakukan untuk BI rate dan fasbi secara bersamaan,\" katanya. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia juga memutuskan suku bunga deposit facility naik 50 bps menjadi 4,75% dari sebelumnya 4,25% dan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,75%. [sylke/retno]

Related posts