Empat Produsen Ponsel Akan Bangun Pabrik di Indonesia

NERACA

Jakarta - Beberapa produsen telepon seluler (ponsel) berkomitmen untuk membangun pabrik untuk produk-produknya di Indonesia. Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) C. Triharso, mengatakan, yang jelas sudah ada Axio, Polytron, Cross dan Advan berniat membangun pabriknya di Indonesia. “Itu sudah pembicaraan dan mereka komitmen untuk membuat itu,\" ujarnya di Jakarta, Kamis.

Menurut Triharso, setelah Axioo membangun pabriknya di Indonesia, Polytron akan menyusul. Sebagai bukti keseriusan, Polytron sendiri telah mulai melakukan riset dalam pembuatan chasing, mesin, speaker dan headset. \"Mungkin setelah Polytron itu menyusul Advan dan Cross,\" lanjut dia.

Axioo sendiri telah mengajukan produksi 5 ribu unit ponsel per bulan, sedang Polytron ditargetkan bisa memproduksi sebanyak 30 ribu unit per bulan. \"Itu karena mereka melihat pasar untuk produk mereka disini sudah bagus,\" kata dia.

Triharso sendiri menjelaskan kendala yang dihadapi Indonesia dalam pembuatan komponen untuk telepon seluler khususnya karena kalah bersaing China.Bahkan di China sendiri, industri rumahan telah mampu memproduksi komponen-komponen elektronik seperti untuk ponsel.\"Indonesia sendiri sebenarnya sudah bisa membuat komponen-komponen tersebut, namun di dalam negeri belum ada yang berani memesan, yang ada malah diekspor ke luar,\" tandasnya.

Kawasan Industri

Di tempat yang sama,Presiden Direktur Maspion Group, Alim Markus memaparkan kalau Maspion Group, salah satu perusahaan nasional, berencana membangun suatu kawasan industri di wilayah Kendal, Jawa Tengah. Rencananya di kawasan tersebut menjadi lokasi produksi produk kebutuhan rumah tangga andalan Maspion.

\"Nanti di sana kami bangun pabrik panci teflon, elektronik, seterika, plastik, kipas angin, stainless steel, alumunium dan lain-lain,\" ujar Alim.

Pembangunan kawasan industri ini diharapkan mampu menyerap 10 ribu tenaga kerja kurun 4 hingga 5 tahun.Namun Alim masih enggan menjelaskan detail nilai investasi pusat industri Maspion tersebut. \"Kalau sudah oke, pembangunannya paling hanya membutuhkan waktu 1 tahun,\" lanjutnya.

Perihal pemilihan lokasi di Kendal ketimbang Surabaya, seperti pabrik Maspion sebelumnya berada, Alim mengaku itu karena upah minimum rata-rata (UMR) di wilayah tersebut masih tergolong kecil hanya sekitar Rp 900 ribu per pekerja bila dibandikan dengan UMR di Surabaya yang mencapai Rp. 1,74 juta.

\"Ini kan bedanya sekitar 30%. Nanti juga diharapkan kawasan ini dapat menambah kapasitas produksi sekitar 30% dari yang ada saat ini,\" tutur dia.

Produksi produk di kawasan industri ini nantinya akan memenuhi permintaan produk Maspion Group untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. \"Kalau Jawa Timur kan sudah ada pabriknya di Surabaya,\" jelasnya.

Maspion Group saat ini mampu menghasilkan produk seperti kipas angin sebanyak 6 juta unit per tahun dan seterika sebanyak 15 juta unit per tahun.

Sementara itu, tren pelemahan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terjadi dalam sebulan terakhir ini. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi industri elektronik dalam negeri. Soalnya, sebagian besar komponen elektronik yang dibutuhkan masih impor.

AG Rudyanto, Ketua Electronic Marketers Club (EMC) merasa khawatir dengan kondisi ini. \"Bila dalam beberapa waktu ke depan masih seperti ini, industri maupun penjual elektronik bersiap menaikkan harga jual,\" katanya.

Rudyanto memprediksi, bila nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak bergerak jauh dari kondisi saat ini yang sekitar Rp 9.803 (kurs tengah Bank Indonesia per 31 Mei 2013), produsen elektronik bisa mengerek harga jual di kisaran 2%-2,5% dari harga saat ini. Imbasnya, kenaikan bakal merembet ke harga tingkat ritel. \"Bila ditotal, prediksi kenaikan harga bisa mencapai 5%,\" katanya.

Sebelumnya, industri elektronik dalam negeri juga sudah mengerek harga jual hingga 5% pada Februari 2013 lalu. Kenaikan ini untuk mengompensasi beban biaya produksi yang membengkak akibat kenaikan upah pekerja dan biaya energi.

Alhasil, permintaan barang elektronik makin melemah. Pada Januari 2013, permintaan produk elektronik memang tinggi lantaran masih memakai harga lama. Memasuki bulan berikutnya, permintaan mulai menurun akibat harga jual yang naik.

Penjualan elektronik di Januari 2013 yang sempat melejit menyelamatkan penjualan elektronik sepanjang kuartal I-2013. Di periode ini, penjualan terkerek 13,8% menjadi Rp 7,6 triliun dibanding periode serupa tahun lalu.

Related posts