Bencana Aceh, Picu Kepedulian Sesama

Kini sudah saatnya perusahaan memiliki program CSR yang sifatnya long term dan berkelanjutan. Seperti program bantuan untuk korban bencana, tentunya dapat dilanjutkan pada program community development (CD).

NERACA

Ramadhan telah datang. Berbagai bentuk persiapan dilakukan. Laksana menyambut tamu agung masyarakat ‘bergeliat’. Di pasar dan pusat pertokoan terlihat suasana tak biasa, riuh ramai. Ada yang berbelanja sembako untuk kebutuhan Ramadhan, ada yang mempersiapkan mukena, sajadah dan busana baru.

Tak demikian dengan korban gempa Aceh. Pascagempa 6,2 SR menghentak Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Selasa (2/7) silam, kini suasana di dua kabupaten itu sunyi. Pemukiman rata dengan tanah, sarana ibadah pun luluh-lantak. Lebih dari 20,000 jiwa warga Aceh Tengah, mengungsi. Mereka hidup beratap tenda plastik di dekat puing rumah mereka yang hancur mencoba menjaga harta yang tersisa di reruntuh puing.

Anak-anak kehilangan keceriaan, teman-teman mereka tewas mengenaskan tertimpa rumah mereka. Orangtua yang kehilangan anggota keluarganya, atau hartanya, berpandangan kosong, dilibas stress. Ramadhan menjelang, wajah-wajah pias dalam sekapan udara dingin di pengungsian, jelas sebuah tarikan kepedulian.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional BNPB menyebutkan pengungsi korban gempa Aceh bertambah 52.113 jiwa dan tersebar di lebih dari 70 titik pengungsian. Pasca gempa 6,2 skala richter yang melanda beberapa pekan lalu, pengungsi masih berada di lokasi pengungsian di Kabupaten Bener Meriah yaitu 19.984 jiwa dan di Aceh Tengah 32.129 jiwa. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers tertulisnya menyatakan korban meninggal tercatat 39 orang

Fase darurat belum berlalu, Ramadhan tiba. Pun, menyusul fase pemulihan sosial dan ekonomi yang berat jika dibiarkan para korban mengatasinya sendiri. Ya, Gempita menyongsong Ramadhan, tak dinikmati mereka yang dilanda bencana. Korban gempa Aceh, sengsara di pengungsian.

Saat tepat, memasuki Ramadhan dengan kebajikan, menolong korban gempa Aceh dari derita yang mereka terpaksa hidup di pengungsian. Mengedukasi publik, tugas bersama yang amat penting. Bahwa nestapa Aceh, panggilan kemanusiaan untuk semua. Membantu layanan medis, pemulihan kejiwaan, membangun prasarana ibadah dan menyediakan hunian sementara yang lebih layak, menyelamatkan jiwa-jiwa yang tercabik ujian berat kehilangan harta atau anggota keluarga.

Dalam hal ini, peran Corporate Social Responsibility (CSR) sangat strategis, dimana perusahaan memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan dalam skala massive, baik perusahaan yang konsern di wilayah atau lingkungan operasional mereka yang juga terkena dampak bencana.

Juga perusahaan yang memiliki konsumen masyarakat luas, yang tentunya dapat memberikan bantuan tidak hanya di wilayah operasional atau area project mereka. Tentu sangat ironis kalau ada perusahaan yang berdiri di suatu komunitas kemudian menutup mata dari korban bencana banjir yang nyata-nyata terlihat oleh pandangan manajemen perusahaan dan mata publik.

Untuk itu, sudah saatnya perusahaan memiliki program CSR yang sifatnya long term dan berkeanjutan. Seperti program karitatif yang dilakukan dengan memberikan bantuan untuk korban bencana (rescue,relief,medic,and healing), yang tentunya dapat dilanjutkan pada program community development (CD) seperti pada aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan infrastructure publik.

Berangkat dari hal tersebut, beberapa perusahaan turut andil memberikan bantuan melalui program CSR mereka. Seperti PT Pelabuhan Indonesia I misalnya. Bantuan yang diberikan adalah selimut sebanyak 1.000 buah, makanan dan obat-obatan.

Tidak mau ketinggalan, beberapa waktu lalu ACT menggelar “Aksi Damai Peduli Gempa Aceh” di Bundaran HI, Jakarta. Tak hanya itu, Aksi Cepat Tanggap, dengan Tim Humanity Response (HR) telah hadir di lokasi, dipimpin Direkture Humaniryu Response, Bayu Gawtama. ACT menyuplai obat, membuka dapur umum, menyuplai kebutuhan air bersih, pakaian dan melengkapi layanan pengungsi dengan konsep Total Disaster Management (TDM) melalui pendirian Integrated Community Shelter (ICS).

Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan rehabilitasi rumah korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah. Sebelumnya PMI telah memberikan bantuan berupa pangan dan medis terhadap korban gempa. PMI juga mendampingi terhadap orang yang terkena traumatik akibat gempa yang menewaskan puluhan orang tersebut.

Related posts