Saatnya Pengusaha Pakaian Panen Penghasilan - Ramadhan dan Lebaran

Seperti tahun-tahun sebelumnya, puasa dan lebaran memang dimanfaatkan betul oleh sejumlah pengusaha pakaian jadi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Maklum, sejak awal puasa hingga mendekati Lebaran permintaan pakaian jadi meningkat pesat.

NERACA

Puasa memang baru saja dimulai tetapi soal pakaian lebaran pasti sudah disiapkan sejak awal puasa, bahkan mungkin sebelum puasa dimulai beberapa pasar grosir pakaian jadi sudah mulai diserbu konsumen.

Tidak percaya, lihat saja bagaimana kondisi pasar Tanah Abang sejak dimulainya puasa hingga sekarang ini. Penuh sesak kondisinya, tak hanya Tanah Abang, pusat perbelanjaan lainnya pun tak kalah ramai, mulai dari pusat grosir pakaian hingga mal mulai sudah terlihat ramai dikunjungi.

Pasalnya, masyarakat kita memiliki tradisi untuk berhias diri di kala lebaran. Mereka berlomba-lomba mengenakan pakaian terbaik mereka saat lebaran. Wal hasil, seperti yang tampak saat ini, pusat perbelanjaan mulai dipadati pengunjung, bahkan jumlanya bisa dua kali lipat dari sebelum Ramdhan datang.

Nah, bagi sebagian kalangan kondisi ini hanyalah sebuah pemandangan biasa saja, tetapi bagi sebagian kalangan lainnya, yang memiliki jiwa entrepreneur, kondisi yang ada dimanfaatkan betul untuk menperoleh keuntungan yang besar.

Maklum, saat –saat seperti ini merupakan saat yang tepat untuk memperoleh keuntungan besar. Karena seperti hukum pasar harga akan meningkat jika permintaan juga meningkat. Tak heran, jika ada harga celana atau baju yang harganya bisa naik dua kali lipat.

“Itu kan sudah menjadi hukum pasar, kalau permintaan meningkat ya harganya bisa naik tetapi kalau tidak bagaimana mau dinaikan, harganya murah saja tidak ada peminatnya. Ya, sejak awal Ramadhan sudah mulai terjadi peningkatan harga, karena pengunjung yang datang juga meningkat,” jelas Iin penjaga sebuah toko pakaian pasar Cipulir, Jakarta Selatan.

Menurut Iin, investasi di usaha ini memang membutuhkan dana yang sangat besar, mungkin bukan dalam hal penyediaan barangnya (pakaian) yang membutuhkan dana besar, tetapi untuk dana memiliki sebuah kios atau mengontrak yang mahal. Namun, Iin enggan merinci berapa soal investasi yang dilakukannya. “Orangtua saya membeli tempat ini sejak tahun 90-an, dulu harganya berapa yah? Saya kurang tahu, yang jelas kini harganya bisa mencapai ratusan juta bahkan hingga miliaran,” sebut dia.

Sementara soal isi toko (pakaian), itu bisa dengan cara dibayarkan secara cash serta berhutang terlebih dahulu kepada pengusaha konveksi. Atau dengan kata lain, pengusaha konveksi menitipkan barang mereka untuk dijualkan kepada pemilik toko. Meskipun sistemnya seperti itu, transaksi sudah berjalan antara pemilik toko dan pengusaha konveksi.

“Jadi sistemnya bukan orang naro barang lalu ada pembeli menawar, dan harga itu dan kita negosiasikan dengan pengusaha konveksi. Tetapi, kita sudah menawar produk mereka terlebih dahulu, baru kemudian kita menjualnya kalau sudah deal dengan pemilik barang,” kata dia.

Jadi intinya, sebelum barang dijual ke konsumen, telah terjadi kesepakatan harga antara pemilik toko dan pengusaha konveksi. Umpamanya, untuk selusin pakain anak-anak pengusaha konveksi mematoknya dengan harga Rp450.000, lantas setelah terjadi tawar menawar lahirlah angka Rp400.000. “Nah dari angka yang telah disepakati baru kita cari untung sendiri ke konsumen,” tegas Iin.

Menurut Iin, sukses bisnis ini adalah tingginya faktor trust dari pemilik konveksi kepada toko yang akan menjual barang mereka. Untuk itu, Iin mengatakan toko yang baik adalah toko yang bisa menjaga amanat pemilik konveksi. Karena, tak jarang ada pihak toko yang terkadang mencicil barang pengusaha konveksi, padahal barang mereka telah sold out. Ada pula pihak toko yang lari dari tanggungjawabnya.

“Ada tuh yang lari dari tanggungjawabnya, pemiliknya punya hutang ratusan juta sama pemilik konveksi, tetapi tokonya buru-buru dijual dan membawa lari uang pemilik konveksi, makanya kalau mau sukses ya junjung tinggilah kepercayaan orang lain,” tutup Iin.

Related posts