Produsen Raup Untung Besar-besaran - Penjualan Mobil Matic Meningkat

Meningkatnya peminat mobil bertransmisi otomatis (matic) membuat para produsen mobil berlomba-lomba meraup untung, tak ayal penjualan mobil matic mampu menopang pendapatan para Agen Tunggal Pemengang Merek (ATPM).

NERACA

Kondisi lalu lintas yang terus mengalami kesemerautan, membuat masyarakat mencari alternatif untuk mengatasi kelelahan di jalan, kini masyarakat lebih memilih kendaraan mobil bertransmisi otomatis (matic). Tak hayal dengan tingginya permintaan mobil matic para produsen meraup untung dalam penjualan mobil matic.

Pasar mobil matic mulai menanjak sejak 2008, sampai sekarang peminat mobil matic mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Melihat hal ini para produsen mobil seperti Honda, Suzuki, Toyota, Hyundai, dan Daihatsu terus melakukan peluncuran mobil matic yang di yakini akan terus meningkat dibandingkan dengan manual.

Kita bisa lihat penjualan Honda saat ini 70% produk Honda yang diserap pasar adalah mobil matic. Semua varian yang dikeluarkan Honda juga memiliki tipe matic, baik untuk varian sedan, SUV sampai city car.

Bahkan Honda memiliki varian yang tidak bermesin manual, yakni Freed. Seluruh tipe Freed bermesin matic. “Produk ini cukup diminati pasar. Ini menandakan, bahwa mobil matic sudah bisa diterima pasar dengan baik,” tuturnya Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual HPM, Jonfis Fandy.

Kondisi itu berbeda pada periode 2004-2005, di mana mobil tipe manual masih merajai pasar. Saat itu, dealer cukup sulit menjual mobil matic, karena masyarakat yang masih ragu-ragu untuk membeli kendaraan tanpa kopling tersebut.

“Bisa dimaklumi, karena banyak orang yang mungkin masih awan dengan kelebihan matic. Tapi sekarang, kondisinya berbalik. Untuk Honda, mobil matic malah mendominasi penjualan,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Branch Manager Hyundai Solo Hendro W Suryono, yang mengatakan pasar mobil matic akan semakin membesar pada tahun-tahun ke depan. “Saat ini, porsi penjualan mobil matic di Hyundai mencapai 30%. Jumlah itu didongkrak dengan keluarnya Grand Avega yang cukup diminati pasar,” tuturnya.

Kemudahan penggunaan menjadi alasan konsumen Hyundai untuk memilih kendaraan bermesin otomatis tersebut. Harga yang lebih mahal dibandingkan versi manual, tidak membuat konsumen surut dari niatan membeli mobil matic. “Konsumen sudah tahu, jika harga matic lebih mahal dibanding manual. Tapi selisih harga tergantikan dengan kenyamanan dalam berkendaraan,” imbuhnya.

Terus Mengalami Peningkatan

Sementara itu, Hariya Albertus, Kepala Daihatsu Wilayah Jawa Timur, Bali, NTT, dan NTB.Kecenderungan masyarakat memiliki mobil matic terjadi di kota-kota besar dengan tingkat kemacetan parah, seperti di Jakarta, Surabaya dan Medan. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh kemudahan dalam pengoperasiannya.

Dijelaskan, dari sekitar enam produk Daihatsu yang dikeluarkan ke pasaran, empat diantaranya merupakan transmisi matic meskipun komposisinya di Jawa Timur lebih kecil dibandingkan dengan transmisi manual. Keempat mobil tersebut diantaranya Daihatsu Xenia, Sirion, Terios, dan Luxio. Menurutnya, penjualan mobil jenis matic akan berbeda di setiap daerah tergantung kondisi kemacetan dan tipe mobilnya.

“Menurut tipenya penjualan mobil matic di Daihatsu lebih banyak didominasi oleh tipe Terios. Sedangkan di kota Surabaya penjualan mobil matic masih kalah dengan Jakarta karena tingkat kemacetan di Surabaya tidak separah di Jakarta,” ujarnya.

Ia menuturkan tren itu dipengaruhi oleh tingkat kemacetan jalan perkotaan yang semakin padat. Sehingga, demi kemudahan konsumen memilih matic karena terkenal dengan kemudahan dan gesit (city car). “Tren pergeseran itu sudah dialami oleh dealer-dealer otomotif. Mobil bertransmisi matic sekarang banyak diminati pasar,” katanya.

Menurutnya akan ada lonjakan penjualan mobil matic, yaitu komposisi yang selama ini didominasi oleh mobil bertransmisi manual akan seimbang dengan penjualan mobil matic.

Sedangkan Gaikindo optimistis penjualan mobil di Indonesia masih menembus 1,1 juta pada 2013 atau sama dengan tahun lalu. Meski pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Related posts