Saatnya Kaum Elite Kembali ke Ajaran Agamanya

REFLEKSI RAMADHAN 1434 H

Saatnya Kaum Elite Kembali ke Ajaran Agamanya

Datangnya Ramadhan bagi penduduk Indonesia yang mayoritas muslim adalah berkah, bahkan juga bagi yang non-muslim.

Sebab, Ramadhan ada musim panen bagi para pedagang. Daya beli masyarakat cukup tinggi walaupun harga selalu meroket dan membumbung tinggi.

Bagi sektor perbankan, Ramadhan termasuk puncak dari perputaran uang di dalam negeri. Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas mengungkapkan total uang tunai yang ditarik hingga Idul Fitri tahun lalu saja mencapai Rp 85,6 triliun atau naik 6,6% dari tahun 2011 yang besarnya Rp 80,3 triliun.

Tingginya perputaran uang tunai pecahan di atas Rp 20 ribuan mencapai Rp 78,4 triliun, sedangkan untuk uang pecahan di bawah itu sebanyak Rp 7,3 triliun. Penarikan uang tunai juga berasal dari pencairan gaji ke-13 para pegawai negeri sipil (PNS) maupun swasta dalam bentuk tunjangan hari raya (THR).

Konsentrasi perputaran uang tunai itu memang ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, Makassar, Yogyakarta, juga Padang. Tapi, tertinggi tentu saja Jakarta karena ditarik di Jakarta dan dibawa mudik ke kampung halamannya.

Belanja selama Ramadhan pun juga melonjak, karena banyak orang membeli kebutuhan sehari-hari untuk buka dan sahur, membayar zakat dan sedekah, juga membeli baju baru. Orang-orang bisa ikut menikmati makanan-makanan lezat saat berbuka puasa bersama. Perputaran uang di pasar grosir pakaian di Tanah Abang dalam sehari bisa mencapai miliaran rupiah.

Para artis dan presenter banyak dibooking untuk acara sebulan penuh dengan bayaran di luar kebiasaan. Penghasilan stasiun televisi juga meningkat karena banyaknya iklan produk yang menempel di berbagai acara rohani.

Khusus belanja zakat saja, menurut hasil penelitian terbaru yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun lalu, berpotensi mencapai Rp 217 triliun per tahun.

Potensi yang luar biasa, lebih besar dari jumlah subsidi BBM yang dialokasikan pada APBN 2013 sebesar Rp 199,85 triliun. Walaupun aktualisasinya pada 2010 hanya mencapai Rp 1,5 triliun. Angka itu dikumpulkan dari semua organisasi pengelola zakat di seluruh Indonesia.

Refleksi Diri

Selama satu bulan penuh, umat Islam menjalankan ibadah puasa beserta amalannya. Selain berpuasa sejak datangnya fajar hingga tenggelamnya matahari, amalan-amalan itu adalah menjalankan salat taraweh berjamaah setelah salat isya. Kaum muslimin juga dianjurkan banyak-banyak membaca Alquran, dan diharapkan bisa memahami maknanya.

Membayar zakat yang besarnya bahan makanan pokok seperti beras per orang 2,5 kg atau dapat diganti dengan uang. Beras yang dizakatkan minimal kualitasnya sama dengan yang kita makan. Banyak bersedekah dan berbuat baik diyakini dapat menghapus doasa-dosa yang telah lalu. Pada sepuluh hari terakhir, anjurannya banyak berzikir di masjid pada tengah malam hingga menjelang dini hari. Itu namanya iktikaf. Di antara malam-malam itu, terdapat satu malam yang lebih mulia dari malam seribu bulan. Namanya malam lailatul qadar. Yang mendapati malam itu, Tuhan menjamin keselamatannya hingga akhir zaman.

Karena itu, Ramadhan dapat dijadikan sebagai momentum untuk membersihkan diri dari berbagai perbuatan buruk yang telah dilakukan selama ini. Jika ibadah sungguh-sungguh, tidak basa-basi, baik puasanya, salatnya, juga sedekahnya, kebaikan Ramadhan akan terus menempel di hati mereka dan terjagalah tabiatnya dari perbuatan tercela.

“Kita semua berharap, Ramadhan bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi tingkah perbuatan seseorang. Yang ibadahnya sungguh-sungguh, bukan basa-basi, insya’Allah kebaikan Ramadhan akan menempel seterusnya, hingga tak ada lagi tindak korupsi, nepotisme, juga kolusi,” kata Agus Idwar, presenter rohani Manajemen Dosa Café Break Teve One.

Benarkah Ramadhan dijadikan refleksi dan evaluasi, terutama para pejabat, pengusaha dan kaum politisi? Hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan publik menilai para elite tersebut telah bertindak tidak sesuai dengan ajaran agamanya. Sebanyak 37,5% masyarakat beranggapan kaum politisi banyak yang memiliki akhlak tercela. Itu sebabnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mereka menurun karena sudah tidak bisa dijadikan teladan lagi.

\\\"Diharapkan banyak elite politik yang mengubah perilakunya saat bulan Ramadhan. Momentum bulan puasa diharapkan bisa menjadi momentum perbaikan perilaku elite,\\\" kata peneliti LSI Rully Akbar, di kantornya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Survei itu bertajuk ‘Moralitas Publik Para Elite di Titik Nadir’. Sebanyak 36,5% koresponden lainnya yakin selama Ramadhan akan ada perubahan perilaku para kaum elite politik tersebut. \\\"Sementara itu, sebesar 40,2% menyatakan perilaku elite politik tidak akan berubah meski bulan Ramadhan,\\\" tutur Rully yang membacakan sendiri hasil surveinya.

Rully menjelaskan, kasus itu menunjukkan adanya disparitas antara klaim agama dan perilaku kaum elite. Hasil survei menunjukkan, makin ada jarak antara ajaran agama dan praktik politik mereka. Dia menjelaskan, riset dilakukan selama tiga hari pada 3-5 Juli 2013 dengan 1.200 responden di 33 provinsi.

\\\"Dalam survei ini juga ditemukan bahwa mayoritas publik meyakini bahwa elite partai politik yang sering kali membawa nama agama lebih banyak bertindak yang bertentangan dengan ajaran agama,” tutur Rully. Ada sebanyak 36,5% koresponden yang yakin masih ada tindakan politisi yang sesuai dengan ajaran agamanya.

Menurut Rully, kalau mereka tidak memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbaiki diri, masyarakat akan makin apatis terhadap iklim demokrasi di Indonesia. Sikap hipokrit masyarakat akan semakin menonjol. (saksono)

Related posts