Sisa Dana Obligasi Sari Roti Capai Rp 458 Miliar

NERACA

Jakarta – Produsen Sari Roti, PT Nippon Sari Roti Tbk (ROTI) masih memiliki sisa dana hasil emisi obligasi berkelanjutan I tahap I 2013 sebesar Rp458,051 miliar per akhir Juni 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Direktur Perseroan, Yenni Husanto mengatakan, dari dana bersih sebesar Rp495,27 miliar yang diraih pada penerbitan Juni lalu, perseroan sudah menggunakan Rp18,13 miliar untuk ekspansi pabrik di Purwakarta, Rp19,09 miliar untuk ekspansi pabrik di Cikande sehingga penggunaan dana sebesar Rp37,219 miliar.

Rencana penggunaan dana menurut prospektus sebesar Rp140 miliar untuk ekspansi pabrik di Purwakarta, Rp140 miliar untuk ekspansi pabrik di Cikande dan Rp220 miliar untuk refinancing utang di BCA. Dana sisa hasil emisi obligasi itu kini ditempatkan di deposito BCA sebesar Rp240 miliar, di deposito Bank Mandiri sebesar Rp290 miliar dan di giro BCA sebesar Rp28,051 miliar.

Tahun ini, perseron bakal meningkatkan produksi 30% dibandingkan tahun lalu. Oleh karena itu, perseroan tengah membangun tiga pabrik baru. Dua di Jawa dan satu lagi di Kalimantan. Untuk mendanai ekspansi pembangunan tiga pabrik tersebut, perseroan telah menggangarkan belanja modal (Capex) 2013 sebesar Rp 400 miliar atau naik dibandikan tahun lalu karena tingginya harga tanah untuk pembangunan pabrik.

Adapun untuk dana belanja modal yang akan digunakan pembangunan pabrik, berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Asal tahu saja, pembangunan satu pabrik perseroan membutuhkan dana sebesar Rp100 miliar-Rp200 miliar. Alhasil, perseroan membutuhkan dana sebesar Rp600 miliar untuk pabrik tersebut.

Sebagai informasi, PT Nippon Sari Roti Tbk membukukan kenaikan laba bersih sebesar 72% menjadi Rp56 miliar sepanjang kuartal pertama tahun ini. Kenaikan laba didorong oleh naiknya penjualan netto sebesar 30%. Dimana penjualan netto mengalami kenaikan sebesar Rp357 miliar atau naik 30% dibandingkan sebelumnya sebesar Rp274 miliar.

Selain itu, laba usaha perseroan juga ikut mengalami kenaikan sebesar 82% menjadi Rp79 miliar dibandingkan sebelumnya sebesar Rp43 miliar. Soal kenaikan BBM, pihaknya menyatakan tidak akan menaikan harga produknya pada tahun ini. Pasalnya, kenaikan harga BBM tidak berdampak besar terhadap kinerja perseroan dan harga jual roti.

Maka untuk menekan pengeluaran yang besar seperti kenaikan BBM, perseroan akan melakukan penghematan biaya produksi namun tidak akan melakukan pengurangan karyawan. Tahun lalu, perseroan mencatatkan kenaikan laba bersih 28,65% per Desember 2012 menjadi Rp149,149 miliar dibandingkan laba bersih periode yang sama 2011 sebesar Rp115,932 miliar. (bani)

Related posts