Impor Daging Bulog Terganjal Aturan Karantina

NERACA

Jakarta - Menteri Pertanian Suswono menyatakan bahwa saat ini impor daging yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) masih tertunda masuk ke Bandara Soekarno Hatta lantaran Bulog belum mempunyai kontrak kerjasama karantina. Untuk itu, pihaknya akan mencari solusi agar daging Bulog bisa masuk. \"Aturan kontrak Bulog belum punya, kita carikan solusi tanpa melanggar karatina,\" ujar Suswono di Jakarta, Rabu (10/7).

Suswono menyebutkan, setiap barang khususnya hewan yang masuk ke Indonesia wajib masuk karantina. Itu untuk mencegah tersebarnya penyakit mulut dan kuku yang dikhawatirkan terdapat pada daging tersebut. Bulog menjanjikan memasukkan daging sapi segar sebanyak 3.000 ton. Pasokan tersebut akan mengamankan kebutuhan daging sampai akhir tahun. Rencananya untuk sampai lebaran Bulog mengimpor terlebih dahulu 1.000 ton daging sapi. Sisanya akan menyusul pada kemudian hari. \"Karantina bagi pelaku usaha wajib, ketika masuk bandara ada instalasi. Sementara Bulog belum punya instalasi,\" ujar Suswono.

Untuk itu Suswono akan mempertemukan Badan Karantina dengan Bulog agar Karantina segera memprosesnya. \"Barang segera terjamin keamanan ketika dimakan, nanti segera kami suruh Badan Karantina mensiasatinya segera,\" tutur Suswono.

Sementara itu, Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimoeso menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu keluarnya izin dari Kementerian Pertanian untuk penggunaan karantina di bandara Soekarno Hatta sebelum mengimpor daging sapi Australia. Soalnya, Bulog dalam mengimpor juga akan menggunakan jasa pesawat udara.

\"Awalnya, semua importasi dilakukan lewat laut. Namun, kini sebagian percepatan dilakukan melalui jalur udara lewat Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, supaya lebih cepat,\" katanya.

Sutarto menyebut, dari 3 ribu ton daging sapi yang akan diimpor, sekitar 200 ton diantaranya akan didatangkan lewat dan seribu ton lainya didatangkan melalui jalur laut. Sementara sisanya belum diputuskan akan didatangkan lewat jalur mana. \"Paling tidak 200 ton dulu, sehingga sebagian masyarakat sudah bisa menikmati harga daging yang lebih murah,\" kata Sutarto.

Menurutnya, jika izin karantina bandara diterbitkan Kementerian Pertanian esok hari. Maka, Bulog sudah bisa mengimpor 200 ton daging sapi pada pekan depan.

Dinilai Terlambat

Pengamat Ekonomi Universitas Brawijaya Malang Prof. Dr. Achmad Erani Yustika mengatakan, penunjukan pemerintah agar Perum Bulog ikut menangani masalah daging untuk stabilisasi harga, dinilai sudah terlambat. \"Pemerintah sudah sangat terlambat dalam memberikan kewenangan pada Bulog untuk ikut menstabilkan harga daging, apalagi sampai sekarang lisensinya juga belum diberikan (belum turun),\" ucap Erani.

Menurut Erani, seharusnya lisensi dan kewenangan Bulog untuk menangani masalah distribusi daging tersebut jauh-jauh hari sebelum Ramadhan. Sekarang sudah Ramadhan dan lisensi belum turun, sehingga bagaimana Bulog akan bergerak cepat untuk stabilisasi harga daging di pasaran.

Sebab, lanjutnya, distributor dan importir sudah melangkah lebih dahulu untuk \"bermain-main\" di komoditas pokok tersebut, termasuk sejumlah komoditas yang tidak dipegang oleh pemerintah, seperti cabai rawit, bawang merah dan putih, telur maupun daging ayam ras.

Berbeda dengan beras yang sudah diantisipasi jauh-jauh sebelum Ramadhan, sehingga harga di pasaran tetap stabil, kalaupun ada kenaikan juga masih belum terasa. Karena tingginya harga berbagai kebutuhan bahan pangan pokok tersebut, angka inflasi pada Bulan juli secara nasional bisa mencapai 2 sampai 2,5 persen, sebab indikatornya sudah jelas.

Sejumlah indikator yang ikut andil dalam memicu inflasi Juli ini di antaranya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu kenaikan harga berbagai komoditas pangan pokok serta tingkat kebutuhan selama Ramadhan yang cukup tinggi serta biaya pendidikan dan tarif transportasi yang juga naik.

Memang, lanjut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB tersebut, harga BBM naik pada Juni lalu, namun dampaknya akan sangat terasa pada Juli hingga Agustus, karena kebutuhan berbagai komoditas akan naik tajam untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.

Menyinggung upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk mengendalikan laju inflasi tersebut, Erani mengatakan, cukup sulit. Kalaupun bisa dikendalikan angkanya sangat tipis, sebab pemerintah tidak memegang sejumlah komoditas yang ikut memicu inflasi, seperti bumbu-bumbuan, telur, daging ayam ras maupun minyak goreng.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah menggelar pasar murah selama Ramadhan di sjeumlah titik. \"Langkah ini pun juga lumayan sulit untuk menstabilkan harga yang sudah terlanjur tinggi seperti sekarang ini,\" tegas Erani.

Related posts