Sirna Keteladanan Komunikasi

Oleh Eko Cahyono

Wartawan Harian NERACA

Tanda-tanda zaman kebangkrutan moral bangsa sudah semakin dekat. Buktinya, antar pejabat tinggi negara saling serang dan saling membuka borok. Tak hanya pimpinan DPR dan pimpinan DPD yang ribut soal anggaran pembangunan gedung. Namun juga saling serang antar pejabat negara, baik internal Mahkamah Konstitusi (MK), maupun dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tak ketinggalan pula Mahkamah Agung (MA) ikut-ikutan berkomentar.

Padahal sebagai pimpinan lembaga negara, semuanya mesti menunjukkan sikap berpikir dan berpolitik secara dewasa. Intinya, tak ada lagi teladan sebagai pejabat negara. Tentu ada yang salah dari komunikasi pimpinan lembaga negara. Karena kondisi ini malah berujung kontraproduktif dan tidak bermanfaat bagi masyarakat.

Yang jelas para elit negara tidak ada yang bicara soal rakyat. Mereka hanya berfikir dirinya sendiri. Saling ejek saling tuding. Sehingga membuat rakyat sudah capek dan lelah. Kisruh pimpinan lembaga ini harus segera dihentikan. Jika tidak akan berdampak buruk pada proses dan mekanisme lembaga negara. Mereka harus bisa menempatkan diri dan jangan malah saling menjatuhkan.

Sejatinya, para elite negara bisa belajar pada Alif Ahmad Maulana, siswa SDN Gadel II, Tandes, Surabaya yang membeberkan contek massal menjadi narasumber bagi teman-teman sebayanya.

Sikap kejujuran yang digelontorkan Alif sebenarnya merupakan sikap asli bangsa Indonesia yang mulai menghilang. Karena itu sangat disayayangkan sikap jujur itu telah luntur. Artinya, nilai kejujuran semakin mahal dan langka. Bahkan dianggap aneh. Orang jujur dianggap membawa masalah. Kita perlu belajar dari Alif, kalau bangsa ini mau maju. Petinggi negara harus belajar bijak, anak kecil saja bisa jujur.

Selain mengedapankan kejujuran, perlu juga ada kearifan dari semua elite negara, termasuk juga para pemimpin formal dan informal, tokoh agama, ormas dan LSM untuk menghidupkan tradisi tabayyun (klarifikasi) diantara para pemimpin. Sehingga semua kritik, koreksi dan masukan bagi perbaikan bangsa dapat disampaikan secara langsung, komunikatif dan solutif melalui forum tabayyun.

Tradisi ini diyakini bisa menyelesaikan separuh permasalahan bangsa ini. Karena elite negara, tokoh ormas dan LSM untuk diminta berhenti saling mengejek. Sebab tidak jarang kritik yang disampaikan keluar dari substansi dengan disertai data yang tidak akurat, sehingg berpotensi menjadi fitnah.

Sekali lagi semua bentuk hujatan sebaiknya dihentikan, sebab skala hujatan para tokoh ini sudah sampai stadium yang mengkhawatirkan. Yakni asal bunyi dan asal beda. Perilaku elit dinilai menciderai demokrasi. Ini sungguh sangat memprihatinkan, sebab tugas para pemimpin informal itu salah satunya adalah memberi contoh kepada rakyat. Sekali lagi, Kita kehilangan teladan yang baik dalam cara penyampaian komunikasi dan ketidaksetujuan.

Kita khawatir, sikap asal beda, asal menghujat akan menyebabkan rakyat antipati terhadap para pemimpinnya, baik pemerintah formal maupun informal.

Related posts