Waspadai Mafia Importir Mainkan Harga Pangan - Permintaan Pedagang Pasar Kepada Pemerintah

NERACA

Jakarta - Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran meminta pemerintah mewaspadai mafia importir yang biasa menahan penjualan bahan pangan untuk menunggu lonjakan harga.

\"Impor bahan pangan untuk memenuhi pasokan di pasar itu boleh, tapi harus dikendalikan. Pemerintah harus mewaspadai jangan sampai mafia-mafia importir itu menahan barang, ini kan sering mereka mainkan,\" kata Ngadiran di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan bahwa pemerintah dalam mengeluarkan izin impor harus mematok pula harga jual sesuai dengan perhitungan biaya importir. Hal itu untuk mencegah importir memasang harga yang tidak wajar yang dapat merugikan pedagang lokal dan konsumen.

\"Saat impor tentukan ongkosnya berapa, lalu pemerintah pantek harga agar importir tidak seenaknya. Pemerintah jangan sampai dikendalikan oleh importir,\" kata dia.

Selain itu Ngadiran meminta pemerintah dalam melakukan impor harus memperhatikan siklus panen petani, serta kecukupan pasokan bahan pangan hasil dari petani/peternak.

Lebih jauh Ngadiran menjelaskan bahwa pemerintah harus mengeluarkan izin impor untuk mengintervensi pasar atas kurangnya pasokan bahan pangan yang menyebabkan meningkatnya harga.

Di awal bulan Ramadhan saat ini menurut dia, hanya minyak goreng dan gula pasir yang harganya relatif stabil. Sedangkan bahan pangan seperti daging, ayam potong, cabai dan bawang harganya meningkat cukup drastis.

\"Saat ini hanya minyak goreng dan gula pasir yang harganya tidak naik, karena produksi sawit bagus dan gula sedang panen. Sedangkan cabai sekarang Rp70.000 per kilogram dari sebelumnya Rp16.000, bawang Rp35.000 per kilogram dari biasanya Rp17.000, dan ayam, daging serta telur juga mengalami kenaikan harga,\" ujar dia.

Pemerintah memutuskan percepatan impor untuk bahan pangan yang harganya naik drastis di atas 5%. Kebijakan ini khususnya dilakukan untuk komoditas cabe rawit dan bawang merah.

Disebut Musiman

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan kenaikan harga beberapa bahan pangan ini sebetulnya musiman. Ditambah memasuki bulan puasa, kencenderungan permintaan meningkat.Permasalahannya, bulan ini, sentra cabe rawit dan bawang merah belum panen. Sehingga impor dilakukan.

\"Kita bertekad menstabilkan harga ini. Langkah yang kita lakukan termasuk untuk bawang merah. Mundurnya musim panen mengakibatkan pasokan berkurang, maka dibuka keran penutup. Selain itu cabe, pasokan berkurang karena cuaca dan meningkatnya permintaan, oleh karenanya akan disuplai juga,\" kata Hatta.

Dari pantauan rata-rata nasional, cabe rawit hingga pekan kedua Juli dibanding bulan lalu meningkat 63,03%, menjadi Rp 45.000 per kilogram. Bawang merah melonjak 49,08 %dibanding Juni, menjadi Rp 48.000 per kilogram.

Kenaikan di atas 5 %, dialami juga oleh ayam ras, menjadi Rp 34.000 per ekor, naik 19,5 %. Menurut Hatta, persoalan untuk ayam dapat diatasi lewat koordinasi dengan pengusaha pakan dan bibit ayam.

Selain tiga komoditas itu, cabe merah, ikan bandeng, serta daging sapi, meningkat 1 sampai 5 persen. Meski di bawah cabe ataupun ayam, Hatta berjanji stabilisasi harga akan terus dilakukan sampai sesudah Lebaran.\"Walaupun di bawah 5 persen kami tidak ingin bahan pokok itu turut meningkat tinggi,\" tandasnya.

Diklaim Aman

Dari catatan pemerintah, posisi bahan pokok utama lain seperti beras meski naik, tapi masih dalam batas aman. Sebab cadangan beras Bulog saat ini yang terbesar sepanjang lima tahun terakhir.

\"Satu hal, beras naik 0, sekian tetapi bobotnya besar, karena masuk bahan pangan pokok. Sekarang stok Bulog 2,91 juta ton, cukup untuk 12 bulan ke depan. Jadi jangan main spekulasi,\" tandasnya.

Sebelumnya, berdasarkan pantauan di pasar Piyungan, Bantul, Yogyakarta, harga sejumlah komoditas bahan pokok meningkat tajam. Warga Yogya, Dwininta, menuturkan harga cabe semakin \"pedas\" menjelang puasa.

Biasanya konsumen membeli cabe rawit merah seharga Rp 30.000 per Kg, saat ini harga melonjak menjadi Rp 58.000 per Kg. Sementara harga bawang merah dari Rp 19.000 per Kg sekarang menjadi Rp 38.000 per Kg.

\"Orang-orang yang biasanya membeli per kilo sekarang jadi beli hanya setengah kilo bahkan per ons,\" tuturnya.

Tidak hanya mahal, masyarakat saat ini juga semakin dipersulit dengan terbatasnya stok barang. Tak ayal hal ini semakin membuat masyarakat semakin menjerit kesusahan.

Related posts