Investasi Kelapa Sawit Semakin Menggiurkan - Permintaan Meningkat

Krisis keuangan yang melanda Eropa dan beberapa negara berkembang lainnya, pada kenyataannya tidak berpengaruh terhadap industri kelapa sawit di Indonesia. Bahkan, banyak kalangan memperkirakan dalam beberapa tahun mendatang, prospeknya masih tetap cerah.

NERACA

Jika melihat prospek investasi di sektor perkebunan kelapa sawit untuk ke depan masih akan tetap tinggi, karena permintaan komoditas ini terus meningkat dan investasi asing untuk sektor itu juga masih terbuka lebar.

“Permintaan minyak kelapa sawit setiap tahun terus meningkat, sehingga investasi di sektor komoditas itu juga akan menarik bagi para investor. Kendati harga kelapa sawit saat ini turun akibat pelemahan permintaan di pasar global, tetapi dalam jangka panjang, harga komoditas itu masih cukup menjanjikan,” tuturnya Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Joko Supriyono.

Joko mengatakan permintaan minyak nabati terus bertambah. Setiap tahun kebutuhan tambahan minyak nabati mencapai 6 juta ton. Tambahan ini bisa dipenuhi oleh sawit. Sawit bisa mengambil peluang tersebut. “Misalnya, untuk Indonesia bisa megambil pasar 2 juta ton, kemudian Malaysia bisa mengambil pasar 1,5 juta ton. Jadi ada 3,5 juta ton peluang untuk sawit suplai kebutuhan,\" ujarnya.

Senada dengan Joko, pengamat ekonomi politik dari Segi Enam Advisors Pte Ltd Singapura, Khor Yu Leng, berpendapat sama. \"Saya yakin ini prospektif karena Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk meningkatkan dan menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit,\" katanya.

Menurutnya, saat ini industri kelapa sawit terhimpit sejumlah persoalan. Terutama terkait persepsi publik yang negatif, misalnya mengenai isu deforestasi dan kerusakan lingkungan, ekspansi lahan yang dituding memicu menimbulkan konfik sosial dengan masyarakat, hingga isu seputar kesehatan.

Pelaku industri kelapa sawit, kata dia lagi, harus ikut ambil bagian untuk ikut menentukan nasib dari industri itu. \"Oleh karena itu, perlu dirumuskan strategi untuk mempromosikan dan mengelola pertumbuhan industri kelapa sawit yang berkelanjutan,\" katanya.

Untuk mencapai hal tersebut, ada dua hal utama yang harus dilakukan yakni mengelola persepsi dan memperluas akses serta akseptansi (penerimaan) pasar. Kemudian, mengelola agenda dan proses untuk mencapai industri sawit yang berkelanjutan (sustainable).

Hanya saja pelaku industri jangan sampai melupakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Menurut Khor, perlu juga dirumuskan strategi di kalangan pelaku industri kelapa sawit untuk melawan kampanye negatif. \"Kampanye negatif terhadap kelapa sawit saat ini mungkin saja bisa membawa dampak buruk, tetapi sejarah mengajarkan kepada kita dengan arahan yang tepat, upaya pengembangan industri kelapa sawit bisa mencapai hasil yang positif,\" katanya.

Industri Kelapa Sawit

Dalam perdagangan CPO, Indonesia merupakan negara net exporter dimana impor dari Malaysia dilakukan hanya pada saat-saat tertentu. Ekspor Indonesia masih di bawah Malaysia dimana pada tahun 2002 hanya mencapai 6,3 juta ton atau sekitar 32,64% lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 11,2 juta ton atau sekitar 57,28% dari total ekspor dunia.

Sementara itu, impor CPO mulai menyebar ke berbagai negara dan Indonesia mengandalkan pasar di Belanda dan Pakistan. Neraca perdagangan CPO, baik dunia maupun Indonesia, saat ini cenderung berada pada posisi seimbang. Harga pada beberapa tahun terakhir cenderung meningkat baik di pasar internasional dan domestik.

Guna mendukung pengembangan agribisnis kelapa sawit, peranan lembaga penelitian dan pengembangan perkebunan, kelembagaan dan kebijakan pemerintah cukup strategis. Lembaga penelitian dan pengembangan perkebunan hingga saat ini telah berperan nyata melalui berbagai inovasi teknologi. Inovasi tersebut mulai dari subsistem hulu, usahatani, hingga pengolahan produk hilir.

Pada aspek kelembagaan, berbagai organisasi, aturan dan pelaku usaha mulai berkembang. Sedangkan pada aspek kebijakan, beberapa kebijakan perlu diperhatikan, khususnya kebijakan fiskal (perpajakan dan retribusi), dan perijinan investasi.

prospek, potensi, dan arah pengembangan agribisnis kelapa sawit. Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk.

Related posts