Siapkan Gudang dan Cool Storage Buat Petani

Nasfi Burhan:

Siapkan Gudang dan Cool Storage Buat Petani

Rentannya pasar kebutuhan bahan pokok, termasuk sayur-mayur, buah-buahan, rempah-rempah, bumbu dapur, karena tidak terjaminnya stok yang memadai. Dampaknya, harga menjadi tak terkendali. Persoalannya, antara lain terletak di kemasan dan distribusi. Barang-barang hasil bumi atau hortikultura itu rawan busuk jadi tak awet. Berapa banyak sayur-mayur dan buah-buahan membusuk di pasar menunggu pembeli.

Itulah salah satu persoalan yang berhasil ditangkap oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Para petani kita tak memiliki dan tak mampu menyiapkan sarana pendingin (cool storage) agar buah dan sayurannya tak lekas busuk di pasar atau di perjalanan dari kebun ke pasar.

Sebut saja Pasar Induk Kramat Jati, di Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur. Tak ada gudang besar untuk menyimpan hasil bumi. Yang ada hanyalah kios-kios yang disewa para pedagang. Tak ada fasilitas gudang maupun cool storage di sana. Berikut wawancara Neraca dengan Wakil Ketua Umum Bidang Koperasi dan UMKM Kadin Jaya Nasfi Burhan yang awal pekan ini berkunjung ke Pasar Induk Kramat Jati, gudang Depot Logistik (Dolog) di Kelapa Gading, maupun pasar tradisional di Tebet.

Apa yang Anda saksikan dan simpulkan dari kunjungan itu?

Kami ingin melihat situasi pasar, bagaimana persediaan bahan kebutuhan pokok menjelang Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Biasanya, di awal-awal, ada kenaikan harga-harga sekitar 20-30%. Nanti, kata para pedagang, harga akan melambung tinggi lagi mendekati Lebaran.

Bagaimana para pedagang itu menjamin stok?

Tak ada jaminan stok aman, karena paling tidak ada dua hal. Menjelang Lebaran nanti, jalur distribusi dari luar daerah ke Jakarta terhambat oleh kemacetan. Sedangkan, barang yang mereka bawa tidak awet, mudah busuk. Busuk di perjalanan yang lama, atau kualitas buah dan sayuran yang kurang baik saat tiba di pasar.

Kondisi itu tentu berbeda dengan pasar modern seperti Carrefour yang mampu mengatur stok barang dan harganya juga relatif stabil.

Jika tak ada yang menjamin stok, itukah yang dijadikan modus harus impor?

Betul sekali. Di sinilah persoalan pentingnya. Bagaimana menjaga kualitas barang hingga mampu menguasai pasar. Kalau tak ada perhatian dari pemerintah, saya yakin petani kita akan tetap miskin yang kaya adalah para pedagang dan importir. Barang-barang lokal akan tersingkir kalah bersaing dengan barang impor yang unggul di kemasan dan penyimpanan.

Jadi apa yang harus dilakukan pemerintah?

BERITA TERKAIT

Penetrasi Pasar di Luar Jawa - Mega Perintis Siapkan Capex Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta – Rencanakan membuka 20 gerai baru tahun ini guna memenuhi target penjualan sebesar 14%-15% menjadi Rp 509 miliar,…

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

Rig Tender dan Petrus Sepakat Berdamai

Perkara hukum antara PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS) dengan PT Petrus Indonesia akhirnya menemui kata sepakat untuk berdamai. Dimana…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Literasi Tangkal Hoaks

Literasi atau pengetahuan/kemampuan terkait bahasa dan membaca bisa menjadi daya pertahanan bagi bangsa berkenaan maraknya kabar bohong atau hoaks. Namun…

Waspadai Manuver Gunakan Modus Hoaks

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta masyarakat mewaspadai berlanjut manuver politik yang menggunakan modus kabar bohong atau hoaks karena kemungkinan…

Jernih Berpikir Menyongsong Pilpres 2019

Di tengah maraknya penghalalan segala cara untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan, perlulah bagi pihak-pihak yang berkompetisi untuk mengikhtiarkan kejernihan berpikir,…