Saatnya Evaluasi dan Berbagi

Saatnya Evaluasi dan Berbagi

Oleh Bani Saksono

(Wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Menjelang dan memasuki bulan Ramadhan, masyarakat Indonesia mempunyai tradisi saling mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Mereka juga menyatakan saling minta maaf atas segala kesalahan yang telah masing-masing perbuat, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Bahkan, khusus menyambut Lebaran Idul Fitri nanti, ucapan permohonan maaf diembel-embeli kata-kata ‘lahir dan batin’. Itu memang anjurannya. Yang jadi persoalan adalah apakah ucapan selamat menjalankan ibadah Ramadhan dan permohonan maaf lahir dan batin itu diucapkan secara tulus ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam, atau hanya sekadar basa-basi untuk menutupi tabiat yang selama ini mereka lakukan.

Ibadah memang soal urusan pribadi, yaitu antara dirinya dengan Tuhan. Namun, jika memang ibadah itu dilakukan secara benar, tentu akan berdampak sangat positif tidak hanya bagi dirinya, tapi juga orang banyak. Ibadah dalam arti luas, adalah segala tingkah laku, tindak tanduk dalam kesehariannya, maupun dalam bentuk kebijakan yang menjadi beban tanggung jawabnya, yang menjadi amanahnya.

Sebagai pejabat publik, misalnya, apakah benar, kebijakan yang selama ini dibuat telah benar-benar demi kepentingan umat, masyarakat, negara, dan bangsanya? Reaksi dari masyarakat, kalangan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), pribumi, adalah refleksi dari kebijakan yang telah dibuat. Mereka berharap bisa berkembang menjadi pengusaha produsen yang besar dan kuat. Tentu saja, kebijakan yang diharapkan adalah yang mampu mengentaskan para UMKM dan pengusaha lokal itu hingga mampu bersaing, tidak hanya di pasar domestik, tapi juga pasar global.

Yang kita harapkan adalah bulan Ramadhan ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk saling melakukan evaluasi dan sekaligus berbagi. Evaluasi, apakah kebijakan itu benar-benar bermanfaat, atau hanya sekadar menguntungkan sekelompok orang atau korporasi saja, termasuk pihak investor asing, di segala sektor, keuangan dan perbankan, pertanian, industri, perdagangan, jasa transportasi, pertambangan dan energi, dan sebagainya.

Esensi berbagi dapat dilambangkan dalam bentuk sedekah dan zakat. Si kaya membantu si miskin, si pintar dan si cerdik pandai membantu mereka yang masih terbelakang mental, pengetahuan, dan ketrampilannya. Tidak ada kasus si kaya jatuh mlarat karena banyak bersedekah. Orang berilmu justru akan makin bijak jika menularkan ilmunya.

Dalam ajaran agama Islam, ditegaskan, ada sebagian dari hartamu itu milik si miskin, maka berikanlah. Demikian juga dengan ilmu. Ilmu yang baik, tentu saja adalah yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat banyak. Demikian juga kebijakan pemerintah yang bermanfaat adalah yang mampu menjadi pengayom, bagi rakyatnya dalam berkarya, berproduksi, dan juga berdagang. Bukan menjadi penindas dengan cara berspekulasi, kolusi, korupsi, manipulasi, juga monopoli. []

Related posts