Harga Karet di Tingkat Petani Anjlok 11,1% - Pemerintah Diminta Turun Tangan

NERACA

Jakarta - Kondisi yang dialami para petani karet di dalam negeri rupanya sedang tidak menggembirakan. Setelah produksi terancaman menurun karena banyak hujan, kini harga karet mereka juga terus anjlok. Pada bulan Juni lalu, harga karet di tingkat petani berada di kisaran Rp 9.000 per kilogram (kg), pada awal Juli ini, harga tersebut menjadi Rp 8.000 per kg atau turun 11,1%.

Lukman Zakaria, Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) mengatakan pada saat produksi karet berkurang, harga karet dari hasil sadapan para petani justru turun. \"Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun lalu,\" kata Lukman, di Jakarta,Selasa (9/7).

Pada tahun lalu, harga rerata karet di tingkat petani berada di kisaran Rp 10.000 per kg. Bahkan pada akhir tahun lalu, harga tersebut sempat melambung hingga mencapai Rp 15.000 per kg. Agar kondisi petani tidak semakin terpuruk, Lukman meminta kepada pemerintah campur tangan untuk mengerek harga karet petani. Caranya, menurut Lukman, harus ada Badan Usaha Milik Negara supaya dapat menjamin harga jual karet rakyat. \"Idealnya, harga karet di tingkat petani Rp 15.000 per kg,\" kata Lukman.

Ia mengakui selama ini peran pemerintah belum sepenuhnya berupaya menaikan produktivitas karet rakyat. Ini berbeda dengan negara tetangga seperti di Thailand dimana petani diberi fasilitas untuk menyanggah air hujan sehingga terus bisa menyadap dan kualitas tetap terjaga.

Jika harga terus turun, dipastikan pendapatan petani karet makin tipis. Menurutnya, tahun ini merupakan masa paceklik bagi para penyadap. \"Musim hujan petani akan mengurangi sadapan dari enam hari seminggu menjadi tiga hari,\" katanya.

Untuk membantu petani menaikan produksi karetnya, Kementrian Pertanian sedang menyiapkan program Gerakan Nasional (Gernas) Karet. Herdrajat Natawidjaya, Direktur Tanaman Tahunan, Ditjen Perkebunan, Kemtan mengatakan gernas karet akan dilakukan di atas lahan seluas 450.000 hektare (ha). Tetapi, program Gernas karet ini pada tahun 2014. \"Sekarang masih dibahas,\" kata Herdrajat. Diharapkan produktivitas karetrakyat naik menjadi 1,3 juta ton per ha.

Data Kementerian Pertanian mencatat, luas perkebunan karet di Indonesia pada 2012 seluas 3,45 juta ha terdiri atas perkebunan rakyat 2,93 juta ha, perkebunan milik negara 240.000 hektare dan perkebunan swasta 284.000 ha.

Industri Hilir

Sementara itu, Ketua Dewan Karet Indonesia, Aziz Pane mengungkap kalau pemerintah hingga saat ini dinilai masih abai dalam membangun industri hilir karet. Indonesia merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand. Sayangnya, sekitar 85% produksi karet dalam negeri masih diekspor dalam bentuk karet mentah dan sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Akibatnya, petani karet memiliki pendapatan yang kecil. Sebagai ilustrasi, harga karet dunia saat ini berada pada kisaran US$2,5- 3 per kilogram, namun, harga jual di tingkat petani di Kalimantan Selatan hanya berkisar Rp7 ribu Rp8 ribu per kg. \"Hal serupa dialami juga oleh petani karet di daerah lain. Padahal, jumlah mereka sekitar 2,1 juta orang menguasai 85% luas areal karet alam nasional. Mereka ini telah memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan devisa negara,\" kata Aziz kepada Neraca.

Untuk atasi itu, Aziz meminta pemerintah serius untuk menangani hilirisasi karet yang saat ini stagnan. Dalam hal ini, hilirisasi karet tertinggal dari kakao dan kelapa sawit. \"Setelah diketahui penyebabnya, maka buat regulasi yang bisa mendorong pertumbuhan industri hilir karet,\" katanya.

Menurut dia, keberhasilan hilirisasi karet akan berimplikasi positif pada stabilitas harga yang menguntungkan petani. sebagai bukti, keberhasilan hilirisasi industri kakao di dalam negeri membuat harga komoditas ini stabil di level US$2.400 perton. \"Keberhasilan hilirisasi bisa mengangkat petani karet dari kemiskinan,\" katanya.

Lebih jauh lagi Aziz mengungkapkan industri karet dalam negeri rupanya masih terganjal beberapa masalah. Salah satunya adalah program penanaman kembali (replant) atau revitalisasi pohon karet yang saat ini tidak berjalan dengan baik Padahal pohon karet yang ada saat ini sudah terbilang cukup tua dan tidak produktif.

Aziz mengatakan rata-rata pohon karet yang ada di perkebunan sudah tua dan sudah dikelupas kulitnya dari atas sampai bawah pohon tersebut. Hal ini, kata Aziz, menandakan kalau pohon karet tersebut memang sudah sangat tidak layak lagi untuk diambil getahnya (sadap). Sehingga produksi karet dalam negeri tidak meningkat alias stagnan.

Saat ini, ujar Azis, produktivitas karet Indonesia masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan Thailand dalam memproduksi karet setiap tahunnya. \"Akan tetapi, dengan memiliki tanah seluas tiga juta hektare lahan, Indonesia cuma mampu memproduksi tiga juta ton karet per tahunnya, sedangkan Thailand yang punya dua juta ha lahan bisa memproduksi tiga juta ton lebih dalam setiap tahunnya,\" ujar Aziz.

Menurut dia, dengan memiliki tanah seluas tiga juta ha, seharusnya Indonesia bisa memproduksi lebih dari empat juta ton karet per tahunnya. Hal itulah yang harus difokuskan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas karet tiap tahunnya.

Aziz menjelaskan, kalau pemerintah bisa memberikan bibit unggul dan revitalisasi yang baik kepada petani, dalam dua tahun ke depan Indonesia bisa jadi nomor satu sebagai penghasil karet.

Related posts