Kinerja Industri Manufaktur Bakal Stagnan - Prediksi di Kuartal II-2013

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat mengatakan, pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal kedua 2013 akan stagnan dibandingkan kuartal sebelumnya. \"Belum turun tapi juga belum naik. Stabil dibandingkan kuartal pertama,\" katanya di Jakarta, Selasa (9/7).

Pada kuartal pertama, pertumbuhan industri manufaktur mencapai 6,69%. Hidayat mengatakan pemerintah harus berupaya keras agar pertumbuhan industri manufaktur tak turun pada kuartal kedua. Alasannya, hal itu akan memberikan dampak pada sektor lain.

\"Pendapatan per kapita masyarakat dan pengangguran tergantung dari industri manufaktur. Jadi jangan sampai turun,\" katanya.

Sebelumnya, Kemenperin mengumumkan pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal I 2013 mencapai 6,2% ditopang oleh sektor industri baja, makanan dan minuman, otomotif, dan industri kimia. Akan tetapi, pertumbuhan sebesar 6,2% tersebut lebih rendah dari target pertumbuhan manufaktur di 2013 ini sebesar 7,01%.

“Pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal I tahun ini sebesar 6,2% masih lebih rendah dibandingkan target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,01%. Siklusnya, kuartal I pertumbuhan industri manufaktur rendah, kemudian kuartal II dan III naik, serta kuartal IV merata,” kata Hidayat, dalam sebuah kesempatan.

Selain dipengaruhi oleh siklus tahunan, menurut Hidayat, rendahnya pertumbuhan manufaktur pada kuartal I karena melambatnya pertumbuhan ekonomi di China. Pada kuartal I 2013, China hanya mencatat pertumbuhan ekonomi 7,7%, atau berada di bawah ekspektasi internasional sebesar 8%.“Pada kuartal I tahun ini, pertumbuhan yang tinggi antara lain terjadi pada sektor industri baja, makanan dan minuman, otomotif, dan industri kimia. Sedangkan industri yang tumbuh negatif, yakni industri kayu dan hasil hutan,” paparnya.

Perlambatan pertumbuhan industri manufaktur, lanjut Hidayat, akibat tekanan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sampai dengan upah minimum provinsi (UMP).“Faktor-faktor tersebut menjadi dilema di tengah upaya untuk menekan biaya produksi industri nasional. Namun, kami optimistis tahun ini pertumbuhan industri manufaktur bisa mencapai 7,14% dan investasi masih menjadi andalan pertumbuhan, termasuk ekspor,” ujarnya.

Hidayat menambahkan, untuk menopang upaya-upaya pertumbuhan manufaktur, pemerintah akan mencari cara terbaik agar beban kenaikan tarif listrik tidak terlalu berat. Selain itu, penyelesaian masalah pasokan gas industri, terutama kelangkaan yang dialami industri di Sumatera Utara juga menjadi agenda Kemenperin tahun ini.

Banyak Hambatan

Industri manufaktur masih mengahadapi banyak kendala untuk tumbuh, dimulai dari fluktuasi harga minyak dunia, tingginya tarif listrik dan bunga bank serta derasnya produk impor khususnya dari China sehingga dibutuhkan keberpihakan yang lebih besar dari pemerintah terhadap pelaku industri dalam negeri.

Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan mutu Industri Kementrian Perindustrian, Arryanto Sagala mengatakan, pertumbuhan industri mengalami banyak hambatan. Seperti harga minyak dunia yang mengalami peningkatan hingga US$ 103 per barel yang memicu peningkatan harga bahan baku, harga bahan bakar minyak industri serta biaya transportasi.

Selain itu belum terbitnya revisi PMK (Peraturan Menteri Keuangan) 241/2010 tentang penetapan sistem klasifikasi barang dan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor terkait tiga komponen diantaranya industri farmasi dan grafika juga ikut memicu perlambatan industri manufaktur. Revisi itu penting sebab pelaku industri dalam negeri butuh kepastian hukum untuk mengimpor bahan baku.

Menurutnya, dari 287 pos tarif yang dibahas dalam revisi PMK 241/2010, bea masuk (BM) 190 pos tarif diputuskan untuk kembali ke posisi semula. 182 pos tarif dikembalikan ke 0%, sedangkan delapan lainnya dikembalikan dari 5% di PMK 241, menjadi 10%.

182 pos tarif yang dikembalikan ke 0% adalah 60 pos tarif sektor kimia, 91 pos tarif sektor permesinan, 17 pos tarif sektor elektronika, 13 pos tarif sektor perkapalan, dan satu untuk perfileman. Sedangkan, pos tarif yang dikembalikan ke 10% di antaranya produk ikan kaleng dan permen.

Aryanto berharap Menteri Keuangan segera mengeluarkan revisi PMK 241/2010 untuk tiga komponen industri seperti grafika dan farmasi agar daya saing industri dalam negeri meningkat. Saat ini Menteri keuangan sudah menyelesaikan revisi bea masuk untuk industri pertanian, pangan dan pupuk serta industri manufaktur.

Hambatan industri manufaktur untuk tumbuh juga datang dari produk impor khususnya China yang beredar luas di pasaran dengan harga murah, seperti produk pipa baja, elektronik dan tekstil.

Related posts